Pakar: Lonjakan Kasus Positif Covid-19 di Jatim Hal Wajar

Pakar: Lonjakan Kasus Positif Covid-19 di Jatim Hal Wajar
Paramedis menangani pasien terinfeksi virus "corona". (Foto: AFP / Alberto Pizzoli)
Dina Fitri Anisa / YUD Kamis, 25 Juni 2020 | 22:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kasus positif Covid-19 di Indonesia pada Kamis (25/6) masih memperlihatkan peningkatan 1.178 kasus baru, hingga total keseluruhan tembus di angka 50.187 kasus. Kawasan Jawa Timur tercatat sebagai provinsi dengan penambahan kasus terbanyak hari ini, yaitu 247 kasus positif melewati Jakarta yang mencatat sebanyak 157 kasus baru.

Pakar epidemiologi asal Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengungkapkan bahwa penambahan banyaknya kasus di Jawa Timur bukan hal yang mengejutkan. Hal itu disebabkan karena beberapa hal, mulai dari lambatnya deteksi kasus jika dibandingkan dengan penularannya. Kemudian juga, di kawasan Jawa Timur ini banyak ditemukan kasus yang menolak untuk dilakukan kontak tracing. Hal ini juga menyebabkan banyak kasus yang tidak ditemukan.

“Masyarakat Jawa Timur itu karakteristik orangnya keras-keras, dan tidak mudah untuk diatur. Seperti menggunakan masker saja mereka banyak yang menolak,” terangnya.

Untuk menangani persoalan tersebut, ia menyarankan agar pemerintah daerah Jawa Timur menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Lokal (PSBL). Melalui PSBL masyarakat bisa memantau aktivitas yang dilakukan di tingkat RW zona merah untuk memutus rantai penularan Covid-19 serta pemisahan orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), serta pasien positif Covid-19 pada rumah isolasi bersama atau rumah pribadi.

“Pada umumnya penyakit Covid menular dari orang ke orang. Maka akan terjadi clustering, yang dekat akan lebih mudah ketularan daripada yang jauh. Kalau yang jauh itu biasanya infeksinya di tempat umum, seperti di pasar dan mal, atau angkutan umum. Jadi, kita treatment dulu cluster-nya, barulah kemudian perbaiki kebijakan di tempat atau fasiltas umum,” tuturnya.

Dirinya pun tak pula heran, jika angka kasus positif Covid-19 di Indonesia akan menyentuh angka ratusan ribu. Belum lagi jika Indonesia terus meningkatkan kuantitas tes secara massal dan masif, baik rapid test dan swab test berbasis PCR. Sehingga pola sebaran dan potensi transmisi lokal dapat ditemukan secara cepat dan akurat, asal usaha ini dibarengi dengan tracking dan screening yang baik.

Kontak tracking menurutnya akan menjadi lebih sulit bila pasien positif terus menunjukkan angka yang tinggi. Mengingat, setiap satu orang pasien positif setidaknya dalam sehari ia bertemu dengan 10 hingga 40 orang. Dari sanalah terdapat kemungkinan dua sampai lima orang yang kemudian akan terinfeksi penyakit tersebut.

Untuk itulah, prediksi puncak kasus Covid-19 di Indonesia semakin sulit. Pada saat PSBB diterapkan, para pakar membandingkan dengan kebijakan lock down yang dilakukan oleh negara lain selama tiga hingga empat bulan. Sedangkan Indonesia, melakukan PSBB atau social distancing sedang, baru dijalankan sekitar 1,5 bulan sudah berhenti.

“Hebat bukan Indonesia? Kita masih kasus tinggi, sudah boleh dilonggarkan PSBB. Maka di masa seperti ini, pemerintah harus kreatif dalam menanganinya. Biarlah jika kasus meningkat, tetapi jangan banyak-banyak. Kita harus rem, melalui pembatasan sosial di kawasan lokal dan menenggakkan sanksi bagi yang melanggar protokol, itu bisa jadi salah satu solusinya,” tukasnya.

Selanjutnya, pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif mengungkap beberapa faktor yang menyebabkan angka kematian di Jatim berjumlah banyak dibanding provinsi lainnya. Pertama adalah jumlah penduduk Jawa Timur empat kali lebih besar dari Jakarta. Dengan situasi tersebut, menjadi hal yang wajar jika kawasan tersebut memiliki angka kasus lebih besar dibandung Jakarta.

“Mereka miliki penduduk hampir 40 juta, sedangkan DKI itu 9 juta. Dari aspek jumlah penduduk, mereka lebih luas. Jika kasus mereka nanti melewati Jakarta itu wajar sekali, karena tingkat reproduksi mereka tinggi,” jelasnya.

Hal selanjutnya, dari segi penanganan ia menambahkan bahwa DKI Jakarta memiliki keunggulan karena memiliki kepemimpinan dan mendapatkan arahan dari satu rentang kendali dari Gubernur. Sedangkan di Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa jauh lebih sulit dalam menangani banyak kabupaten kota yang masing-masing memiliki otoritas sendiri-sendiri.

Belum lagi, Surabaya menjadi pusat rujukan daerah dalam menangani pasien Covid. Jadi tidak heran, bila setengah dari jumlah kasus positif di Jawa Timur berada di Surabaya. Hal ini pun menyebabkan, kapasitas rumah sakit yang tidak sebanding dengan pertambahan pasien terkonfirmasi Covid-19. Rumah sakit di Jatim, terutama Kota Surabaya disebut telah over capacity.

“Jika kita melihat siapa saja yang dirawat di Surabaya, sebetulnya mereka banyak bukan berdomisili di Surabaya. Namun, karena seluruh rumah sakit di Jawa Timur terkonsentrasi di Surabaya, maka kota ini menjadi wilayah paling berisiko di seluruh Indonesia, barulah nomor dua Jakarta,” jelsanya.

Sementara secara keseluruhan, meski kasus kumulatif positif Covid-19 di Jawa Timur terbanyak saat ini, tapi jika ditimbang risikonya wilayah Jawa Timur berada di posisi ke 16. Karena menurutnya, untuk melihat risiko penularan korona, tidak bisa didasari dari angka mutlak. Namun, harus dibandingkan dalam bentuk ukuran insidens kumulatif.

"Ukuran ini memasukan faktor besarnya jumlah penduduk di masing- masing Provinsi. Angka yang dibandingkan dalam bentuk jumlah kasus per 100.000 penduduk. Sehingga risiko penduduk antar provinsi dapat dibandingkan dengan adil," terangnya.

Lampaui Tiongkok

Melihat kasus yang sudah mencapai angka psikologis 50.000 dengan penambahan kasus 1.000 perharinya, Syahrizal mengatakan angka tersebut belum bisa disebut sebagai puncak wabah. Sebab, bukan tidak mungkin dalam beberapa hari ke depan kasus yang muncul bisa lebih tinggi, bahkan total kasus secara nasional bisa melebihi angka di China yang telah menyentuh 83.449 kasus.

“Mereka (Tiongkok) kini sudah bisa mengendalikan wabah, dengan penambahan kasus sekitar 20 dalam sehari. Kita, sudah mencapai 1.000 dan 30 hari ke depan sudah 30.000. Belum lagi mengamati Orang Dalam Pemantauan dan Pasien Dalam Pengawasan kita yang sekitar 60.000, jika sudah di tes kemungkinan 10% positif. Jadi akan ada 6.000 kasus yang masih dalam pasca tunggu,” jelasnya.

Syahrizal juga menyinggung perihal pelonggaran yang dilakukan di berbagai daerah. Padahal kenyataannya, kurva penderita Covid-19 tak kunjung menurun atau bahkan stabil.

“Dengan pergerakan seperti sekarang, saya khawatir wabahnya akan melambat. Padahal, rumusnya setiap ada pelonggaran pergerakan angka meningkat, karena ada yang istilahnya jumlah kontak persatuan waktu meningkat. Dengan pergerakan seperti ini, angka bisa naik. Tetapi kalau semuanya disiplin pakai masker jaga jarak dan cuci tangan, semoga tidak ada lonjakan tinggi,” tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com