Pakar: Selama Pandemi, Mutu Pendidikan Nasional Turun

Pakar: Selama Pandemi, Mutu Pendidikan Nasional Turun
Ilustrasi belajar di rumah. (Foto: Antara)
Maria Fatima Bona / IDS Kamis, 25 Juni 2020 | 18:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Center of Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji mengatakan, pada masa pandemi ini, mutu pendidikan Indonesia menurun. Hal ini terjadi karena ekosistem pendidikan Indonesia belum mencapai kondisi ideal seperti yang didesain oleh Ki Hajar Dewantara. Ekosistem pendidikan ideal itu harus terdiri dari tiga pusat pendidikan, yakni sekolah, masyarakat, dan rumah.

“Nah begitu sekarang kita dipaksa untuk belajar dari rumah, terlihat sekali ternyata rumah selama ini tidak dijadikan sebagai sentra pendidikan. Lebih banyak masyarakat Indonesia yang menganggap pendidikan itu diserahkan semua ke sekolah, guru, bimbingan belajar, guru les, dan pihak lainnya. Ini sangat berbeda dengan negara dengan pendidikan maju seperti Finlandia,” ujarnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi X di Jakarta, Kamis (25/6/2020).

Dijelaskan Indra, dalam sistem pendidikan di Finlandia, anak tidak pernah diberi pekerjaan rumah dari sekolah. Siswa berada di sekolah hanya tiga jam karena mereka tetap belajar meski ada di rumah dan di tengah masyarakat.

Kendati demikian, Indra menilai masa pandemi ini adalah saatnya bagi Indonesia untuk memperbaiki ekosistem pendidikan agar tidak lagi bergantung pada sekolah. Dengan demikian, Indonesia bisa menjadikan rumah dan masyarakat bagian dari sentra pendidikan. “Pandemi ini seperti tombol reset untuk memperbaiki kondisi pendidikan,” ujarnya.

Selain itu, Indra menyoroti tentang kurikulum. Kata dia, materi pendidikan Indonesia terlalu banyak dan melupakan empat pilar dari pendidikan seperti yang didesain oleh Unesco, yakni belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi sesuatu, dan belajar untuk hidup bersama.

“Jadi pendidikan harusnya mengajarkan caranya belajar, bukan harus belajar ini, belajar itu kayak disuapi terus seakan-akan pendidikan kita seperti mengisi air di ember. Diisi terus nanti akan tumpah,” terangnya.

Indra menyebutkan, seharusnya pendidikan kembali menerapkan empat pilar Unesco, sebab yang terpenting adalah siswa belajar untuk mencari tahu dan belajar menjadi apapun. Pada era sekarang ini, skema belajar mencari tahu harus berbeda dengan era sebelumnya, di mana guru dan dosen harus memberi ceramah. Pada era sekarang tidak perlu demikian karena sarana belajar dan akses bisa didapatkan lebih mudah.

“Jadi sangat keliru kalau PJJ (pembelajaran jarak jauh) daring sekarang isinya guru dan dosen ceramah karena itu era tahun 1980-an di mana internet belum ada. Ini membuat mutu pendidikan kita menjadi salah satu yang terendah,” ujarnya.

Untuk itu, Indra mengharapkan, kondisi pandemi ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memperbaiki dan membenahi dunia pendidikan. Pertama, dimulai dari perbaikan infrastruktur untuk menjalankan PJJ daring karena tidak semua siswa memiliki gawai maupun laptop. Selain itu, paket data dan jaringan internet juga harus dipersiapkan untuk memasuki pembelajaran digital.

Kedua, informasi terstruktur, yakni sistem manajemen pembelajaran yang saat ini hadir dalam bentuk platform Rumah Belajar milik Kemdikbud. Sayangnya, Kemdikbud tidak mendorong pemanfaatan platform tersebut untuk dipakai semua siswa.

Ketiga, infokultur yakni pedagogi digital yang sangat berbeda dengan pedagogi tradisional. Sebab, konsep digital mengenal istilah kapan pun, di mana pun, dan perangkatnya apa pun sehingga Indonesia mengenal pendidikan yang ansinkronus.

“Kalau era saya dulu, pendidikan harus sinkronus artinya anak ngumpul di satu tempat, dengan materi sama dan guru sama. Kalau dengan ansinkronus, A dan B bisa belajar di waktu dan tempat yang berbeda, tetapi itu juga belum dijalankan karena masih menggunakan jam belajar sama seperti di sekolah,” ujarnya.

Merespons saran dan masukan dari para pakar, Wakil Ketua Komisi X DPR, Agustina Wilujeng Pramestuti mengatakan, pihaknya akan mempelajari dan menjadikan bahan pertimbangan Tim Panja PJJ sebagai bahan rekomendasi.



Sumber: BeritaSatu.com