Mendagri: Koordinasi Antar Wilayah Kunci Keberhasilan Lawan Covid-19

Mendagri: Koordinasi Antar Wilayah Kunci Keberhasilan Lawan Covid-19
Tito Karnavian. (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Robertus Wardy / YUD Jumat, 26 Juni 2020 | 19:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengemukakan koordinasi antar wilayah yang kuat dalam penanggulangan dan pencegahan Covid-19 sangat penting. Alasannya, koordinasi yang kuat dan bagus menjadi salah satu kunci untuk menekan dan menanggulangi penyebaran virus corona.

"Ini urusan pandemik penyakit infeksi apalagi yang penularannya melalui sistem pernafasan akan sangat mudah sekali. Yang terjadi kalau satu daerah menyelesaikan, sementara yang lain belum, akan terjadi pingpong antara satu daeah dengan daerah yang lain. Maka koordinasi yang kuat menjadi sangat penting," kata Tito dalam Rapat Koordinasi Kesiapan Pilkada Serentak Tahun 2020 di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Jumat (26/6/2020).

Tito yang mantan Kapolri ini memberi contoh Propinsi DKI Jakarta yang telah menjadi megapolitan. Jakarta tidak akan mampu menangani sendirian karena ada kota satelit seperti Depok, Bekasi, Tangerang, Tangerang Selatan, Kabupaten Bogor, dan Kota Bogor. Kemudian tidak ada batas alam antara Jakarta dengan kota satelit di sekitarnya. Interaksi dan mobilisasi sosial sangat tinggi. Hal yang sama terjadi untuk wilayah Surabaya Raya. Koordinasi yang kuat antar wilayah menjadi kunci.

"Jadi misalnya, Bu Risma sudah bekerja setengah mati untuk mencegah penularan di Surabaya tanpa koordinasi yang bagus dengan kota-kota sekitarnya, dengan kabupaten sekitarnya. Kita tahu bahwa tidak ada batas alam antara Surabaya dengan Sidoarjo, Gresik. Sidoarjo dengan tetangganya. Gresik dengan tetangganya. Mobilitas akan terjadi setiap hari. Orang bekerja bolak-balik. Jadi mengclearkan Kota Surabaya saja akan sangat sulit. Karena itu memang untuk Surabaya Raya ini khusus sama seperti di Jakarta," jelas Tito.

Dia menyebut Kemendagri yang dipimpinnya sudah mengkoordinasikan antara wilayah-wilayah di Jabodetabek saat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bulan Mei lalu. Koordinasi dilakukan agar jangan sampai PSBB di satu daerah ketat tapi di daerah lain yang terkait kendor. Atau satu daerah diperpanjang PSBB tetapi yang lain tidak.

"Nah ini sama saja perlu adanya koordinasi di tingkat Surabaya Raya yang tentu saya lihat kalau di Jakarta itu menyangkut tiga provinsi, DKI Jakarta, Banten dan Jabar. Kalau di sini Surabaya Raya ini menyangkut Surabaya kota, Sidoarjo, Gresik dan sekitarnya. Otomatis otoritas yang mengkoordinasikan adalah dari provinsi sehingga ini terjadi simultan," ujar Tito.

Dia menegaskan Pulau Jawa menjadi perhatian serius pemerintah dalam penanggulangan Covid 19. Alasannya, Jawa adalah 'kota hutannya' manusia. Pulau Jawa merupakan salah satu pulau terpadat di dunia, di mana ada sekitar 140 juta orang tinggal di Pulau Jawa.

"Jadi dari satu ke tempat ke tempat lain banyak sekali manusianya," tegas Tito.

Pada kesempatan itu, Tito juga meminta Pemerintah Daerah (Pemda) di seluruh tanah air agar mensosialisasikan penerapan new normal atau tatanan kenormalan baru ke masyarakat. Hal itu karena ilmuan di seluruh dunia masih mencari formula khusus untuk vaksin Covid-19, sementara kehidupan harus tetap berjalan.

"Yang dilakukan oleh jajaran provinsi sebetulnya saya lihat sudah cukup memahami. Persoalannya saya lihat adalah bagaimana mensosialisasikan sampai ke garis bawah. Karena ini tidak gampang apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, tidak gampang karena heterogen, individualistiknya tinggi,” tutup Tito.



Sumber: BeritaSatu.com