Interpelasi Ditunda, Mahasiswa Lemparkan Tomat Busuk ke Gedung DPRD Banten

Interpelasi Ditunda, Mahasiswa Lemparkan Tomat Busuk ke Gedung DPRD Banten
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang melakukan aksi membawa keranda mayat dan melemparkan tomat busuk ke Gedung DPRD Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kecamatan Curug, Kota Serang, Jumat (26/6/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Laurens Dami)
Laurens Dami / JAS Jumat, 26 Juni 2020 | 20:59 WIB

Serang, Beritasatu.com - Mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang melakukan aksi membawa keranda mayat dan melemparkan tomat busuk ke Gedung DPRD Provinsi Banten.

Aksi tersebut dipicu oleh perasaan kecewa atas ditundanya pengajuan hak interpelasi kepada Gubernur Banten Wahidin Halim terkait pemindahan rekening kas umum daerah (RKUD) milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten dari Bank Banten ke Bank Jabar dan Banten (BJB).

Koordinator aksi Muhamad Soleh, di depan Gedung DPRD Banten, Jumat (26/6/2020) menegaskan, keranda mayat dan aksi melemparkan tomat busuk merupakan simbol matinya dan busuknya kinerja DPRD Provinsi Banten, lantaran tidak melanjutkan interpelasi kepada Gubernur Banten Wahidin Halim terkait merger Bank Banten dan pemindahan RKUD.

“Yang kami bawa hari ini bisa diartikan sebagai matinya keberanian DPRD Banten karena tidak mau melanjutkan interpelasi kepada Gubenur Banten," tegas Soleh.

Mahasiswa juga menuding ditundanya hak interpelasi karena anggota DPRD Banten telah menerima beras yang disalurkan oleh forum Corporate Social Responsibility (CSR) dari BJB. Beras CSR tersebut diduga menjadi kunci bungkamnya anggota DPRD Provinsi Banten yang berujung pada keputusan menunda interpelasi.

Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Serang Faisal Dudayef Payumi Padma mengatakan dirinya kecewa atas sikap para anggota DPRD yang kendor dalam menggunakan hak interpelasi.

"Saya kecewa atas ditundanya interpelasi kepada Gubernur Banten. Apa karena beras CSR dari BJB sehingga dewan enggan melanjutkan interpelasi?" ujarnya.

Faisal menegaskan, interpelasi menjadi momen bagi Gubenur Banten untuk menjelaskan kepada masyarakat melalui para anggota DPRD terkait pemindahan RKUD dan rencana merger Bank Banten dengan BJB di tengah pandemi Covid-19.

Sementara Ketua Umum Korps HMI-Wati (Kohati) HMI cabang Serang Iis Solihat meminta kepada anggota legislatif Banten agar mampu bersikap tegas dan menjaga komitmennya dalam menjalankan fungsinya sebagai legislator.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu (legislatif-Red) harus mampu menjaga komitmennya dalam menjalankan fungsinya, salah satunya pengawasan,” tegas Iis

Belum Terima Laporan

Secara terpisah, Ketua Komisi III DPRD Banten, Gembong R Sumedi menilai Sekretaris Daerah (Sekda) Banten Al Muktabar mengabaikan permintaan komisinya terkait laporan progres langkah penyehatan dan penyelamatan Bank Banten.

“Pemprov Banten berjanji akan melaporkan progres penyehatan Bank Banten hari demi hari. Namun sampai saat ini, kami belum menerima laporan dari Pemprov Banten,” tegasnya.

Gembong mengatakan, batas waktu yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk Pemprov Banten melakukan penyehatan Bank Banten hingga 21 Juli 2020 mendatang.

Gembong mengingatkan Sekda Banten untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin dan memberikan laporan kepada Komisi III DPRD Banten.

“Saya perlu mengingatkan ke Sekda Banten. Ini waktu sebulan ini adalah golden time (waktu emas). Kalau ini diabaikan, wasalam. Aset Bank Banten hilang termasuk dana kas daerah (kasda) sebesar Rp1,9 triliun,” tegasnya.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Banten, Barhum HS meminta Pemprov Banten sebelum batas waktu yang ditentukan oleh OJK agar bsia menyerahkan dokumen resmi.

“Jadi sebelum tanggal 21 Juli, harapan kami Pemprov Banten sudah menyampaikan draf proposal ke OJK terkait skema penyelamatan dan penyehatan Bank Banten. Kita juga berharap OJK mengeluarkan surat sehingga Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) bisa mengucurkan kasda yang selama ini terkunci,” ujar Barhum. 



Sumber: BeritaSatu.com