Disiapkan, Program Jalur Cepat Pendidikan Vokasi

Disiapkan, Program Jalur Cepat Pendidikan Vokasi
Siswa SMK menjalani materi pembelajaran praktik. (Foto: Antara)
Maria Fatima Bona / Aditya L Djono / ALD Jumat, 26 Juni 2020 | 22:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyiapkan program jalur cepat (fast track) dalam pendidikan vokasi, baik siswa SMK maupun mahasiswa. Melalui program ini, diharapkan menarik minat calon siswa dan mahasiswa karena memperpendek masa studi.

Demikian disampaikan Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto kepada Beritasatu.com, di Jakarta, Kamis (25/6/2020) malam. Wikan mengungkapkan, salah satu program fast track yang disiapkan adalah siswa SMK bisa langsung menempuh program Diploma 2 (D-2) dalam 4,5 tahun. “Syarat kelulusannya tidak hanya ijazah, harus ada produk hasil riset terapan,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya, juga ada program sarjana terapan (diploma 4/D-4). “Langkah ini untuk menarik minat calon mahasiswa, bahwa mereka bisa menjadi sarjana ilmu terapan, bahkan berlanjut ke S-2 terapan,” katanya.

Untuk program D-4 juga membuka kesempatan mahasiswa untuk melanjutkan studi ke Jerman. Saat ini Ditjen Pendidikan Vokasi telah menjalin kerja sama dengan 3 perguruan tinggi ilmu terapan di Jerman.

Semua ikhtiar tersebut, merupakan bagian dari membenahi ekosistem di pendidikan vokasi. Hal itu tak lepas dari pengalamannya saat menjadi Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, sebelum dia diangkat sebagai dirjen. Saat menjadi dekan, Wikan mengaku telah menutup 23 program D-3 dan membuka 24 program D-4. Hasilnya, pendaftar sekolah vokasi meningkat.

“Menurut saya program D-3 itu sebuah blunder di masa lalu. Karena lulusan D-3 itu kalau menjadi PNS golongan IIB, sedangkan S-1 langsung IIIA. Perlu waktu sampai 10 tahun agar menjadi IIIA. Makanya pendidikan vokasi lulusannya harus bachelor atau D-4,” kata lulusan D-3 Teknik Mesin UGM tersebut.

Untuk menyukseskan revolusi di pendidikan vokasi, Wikan mengungkapkan, pihaknya telah menetapkan sekitar 300 SMK percontohan. “Mereka sepenuhnya kita bantu, serta kita lakukan monitoring dan evaluasi secara ketat,” jelasnya.

Perlu “Input”
Wikan menambahkan, persoalan mendasar yang juga perlu pemecahan adalah meningkatkan kualitas calon siswa dan calon mahasiswa vokasi. Sebab, selama ini mereka yang mendaftar umumnya karena tidak diterima di SMA umum atau universitas.

“Tantangan ke depan bagaimana mengubah input, agar mereka yang mendaftar benar-benar memiliki passion untuk menjalani pendidikan vokasi. Ini tidak mudah karena harus mengubah mindset orang tua dan calon siswa. Selama ini, rata-rata yang mendaftar tidak memiliki passion, ini PR besar. Beri kebebasan siswa untuk memilih sesuai passion mereka,” jelasnya.

Menurutnya, calon lulusan SMP dan SMA beserta orang tuanya harus diberi pemahaman agar tidak mengejar program studi (prodi) yang selama ini dianggap favorit. Mereka harus diedukasi bahwa pendidikan vokasi juga memiliki prospek jaminan masa depan yang tidak kalah. “Misalnya, tukang las, jika memiliki keahlian mengulas di dalam air itu bayarannya US$ 500 per jam. Profesi semacam ini hanya bisa dimiliki lewat pendidikan vokasi, dan mungkin tidak diketahui masyarakat,” ungkapnya.

Untuk meningkatkan input pendidikan vokasi, lanjutnya, perlu sosialisasi lebih luas. “Di sini peran media massa juga penting,” katanya. 



Sumber: BeritaSatu.com