Daerah Jabar di Luar Bodebek Memasuki Kenormalan Baru

Daerah Jabar di Luar Bodebek Memasuki Kenormalan Baru
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. (Foto: Antara)
Adi Marsiela / LES Jumat, 26 Juni 2020 | 18:31 WIB

Bandung, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil memberi izin kepada masyarakat untuk memulai kegiatan ekonominya seiring terkendalinya penyebaran Covid-19 di daerah tersebut. Namun demikian, ia meminta para kepala daerah berimprovisasi melakukan pembatasan pada skala kelurahan atau desa guna mewaspadai potensi penyebaran Covid-19.

“Seluruh Jawa Barat hari ini tidak ada lagi PSBB (pembatasan sosial berskala besar), sudah diputuskan semua melaksanakan AKB (adaptasi kebiasaan baru),” ujar Ridwan di sela-sela kegiatan pemeriksaan massal Covid-19 bersama Badan Intelijen Negara (BIN) di Gedung Sate, Bandung, Jumat (26/6/2020).

Namun, keputusan ini tidak berlaku buat kabupaten dan kota di sekitar DKI Jakarta, masing-masing, Kota Bogor, Depok, Bekasi, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Lima daerah ini tetap diminta menyesuaikan pemberlakukan PSBB mengikuti kebijakan DKI Jakarta yang merupakan pusat penyebaran Covid-19.

Keberhasilan pengendalian Covid-19 ini, ungkap Ridwan, terlihat dari angka reproduksi (Rt) kasus Covid-19 yang bertahan selama enam pekan di bawah 1.

Dinas Kesehatan Provinsi Jabar melansir angka Rt di sana pada 19 Juni 2020 mencapai 0,91 dengan tingkat kepercayaan 95% yang berarti angka Rt berada pada rentang 0,75-1,08. Rerata angka Rt di Jawa Barat sepanjang 6-19 Juni 2020 mencapai 0,68.

Menurutnya, Rt itu fluktuatif dan konstan di bawah 1, namun cenderung ada kenaikan dan perlu menjadi perhatian. “Walau bervariasi dan rata-rata dua pekan terakhir itu (Rt) ada di 0,68, standar WHO (Rt) di bawah 1 itu terkendali,” terang Ridwan.
Penilaian dari kriteria epidemiologi memperlihatkan, penurunan kasus terkonfirmasi Covid-19 lebih dari 50% selama tiga pekan hanya terjadi di Jawa Barat. Laporan ini juga memperlihatkan kasus positif di Jabar mencapai 6,6% dari sampel pemeriksaan pada 1-14 Juni 2020.

Laporan periodik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) ke-12 yang dipublikasikan 17 Juni 2020 mencatat belum ada satu pun dari enam provinsi di Pulau Jawa yang memiliki tingkat kasus positif kurang dari 5% dalam periode 25 Mei-14 Juni 2020.

Kewaspadaan
Terkait kebijakannya yang mengizinkan bupati dan wali kota memberlakukan pembatasan sosial dalam skala mikro seperti tingkat desa atau kelurahan, Ridwan menegaskan, kewaspadaan tetap harus diutamakan.

Salah satu upaya untuk memastikan penyebaran Covid-19 terkendali di Jabar, Ridwan meminta Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Jabar melakukan pemeriksaan Covid-19 di lokasi-lokasi yang ada kerumunan massa. Selain mendukung pemeriksaan massal di tiga titik di Kota Bandung sejak Kamis-Sabtu, 25-27 Juni 2020, gugus tugas juga menggelar pemeriksaan pada pengguna komuter yang datang dari Jakarta ke Stasiun Bogor Kota dan Stasiun Bojong Gede pada Jumat, 26 Juni 2020.

Koordinator Sub Divisi Sterilisasi Fasilitas Publik yang juga Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat, Hery Antasari mengatakan, pemeriksaan acak difokuskan pada jam-jam kedatangan padat, antara pukul 17:00-20:00 WIB. “Jakarta masih jadi epicentrum nasional (penyebaran Covid-19). Kita jaga agar Jawa Barat yang cenderung membaik agar tidak berubah,” kata Hery.

Terkait pembukaan kembali kegiatan ekonomi, Ridwan mengungkapkan, analisa timnya memperlihatkan semasa pandemi Covid-19 ada sedikitnya 38 juta jiwa yang terdampak. Jumlah itu setara dengan jumlah kepala keluarga yang mendapatkan bantuan sosial semasa pandemi.

“Kalau tidak adaptasi kebiasaan baru (kenormalan baru) dan pembukaan ekonomi, maka (pertumbuhan) ekonomi (Jawa Barat) bisa minus di akhir tahun. Tidak bakal terjadi perbaikan, terjadi depresi. Dengan tindakan (kenormalan baru) bisa tetap positif sekitar dua sampai tiga persen (pertumbuhan ekonomi) di akhir tahun. Sehingga 2021 bisa bouncing dan dalam dua sampai tiga tahun normal lagi (pertumbuhan ekonomi) di lima persen,” tutur Ridwan.

Pemprov Jabar memfokuskan pengembangan sektor pertanian lewat digitalisasi. Karena semasa pandemi, pertumbuhan ekonomi dari sektor pertanian yang semula 4,1% hanya terkoreksi 0,9% jadi 3,2%. Nilai koreksi ini jadi yang terkecil bila dibandingkan dengan sektor manufaktur yang terkoreksi turun 4,5% dan sektor jasa yang turun 4,8%.

“Pertanian ini sangat tangguh terhadap Covid-19, digabung dengan new normal yaitu digital commerce maka sektor agrikultur di masa depan itu salah satu keunggulan Jawa Barat,” imbuh Ridwan sembari menambahkan tingkat keunggulan lainnya di Jawa barat adalah industri dan pariwisata lokal.

 



Sumber: BeritaSatu.com