DBD di Kota Semarang Capai 262 Kasus, 3 Meninggal Dunia

DBD di Kota Semarang Capai 262 Kasus, 3 Meninggal Dunia
Ilustrasi penderita penyakit demam berdarah dengue. (Foto: Antara)
Stefi Thenu / FER Minggu, 28 Juni 2020 | 17:23 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Wabah demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi perhatian khusus ditengah ramainya pemberitaan tentang Covid-19 di Kota Semarang yang terus bertambah.

Baca Juga: 90% Kabupaten dengan DBD Juga Laporkan Covid-19

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mencatat hingga 23 Juni 2020, sudah ada 262 kasus dan 3 meninggal. Dengan rincian bulan Januari 25 kasus dan 1 meninggal.

Pada Februari, ada 60 kasus dengan 1 meninggal. Bulan Maret ada 71 kasus dengan tidak ada yang meninggal. Bulan April ada 56 kasus dan 1 meninggal.

Sedangkan di bulan Mei ada 32 kasus dan tidak ada yang meninggal. Pada 1 Juni 2020 hingga 23 Juni 2020 pukul 07.30 ada 18 kasus dengan tidak ada yang meninggal.

Angka tersebut sebenarnya menurun jika dibandingkan dengan angka kejadian tahun lalu pada bulan yang sama. Tahun 2019 bulan Januari Dinkes Kota Semarang mencatat ada 60 kasus dengan tidak adanya kasus meninggal. Februari ada 80 kasus dengan 4 kasus meninggal.

Baca Juga: Wabah DBD Meningkat di Bengkulu Selatan

Bulan Maret, 88 kasus dengan 4 kasus meninggal. Bulan April ada 80 kasus dengan 2 kasus meninggal. Bulan Mei ada 67 kasus dengan tidak ada yang meninggal dan bulan Juni ada 61 kasus 1 kasus meninggal.

"Dinkes Kota Semarang sudah melakukan berbagai upaya untuk terus menekan angka kejadian DBD, salah satunya dengan penyediaan tenaga epidemiologi di seluruh Puskesmas," kata Kepala Dinkes Kota Semarang, Abdul Hakam, di Semarang, Minggu (28/6/2020).

Selain itu, lanjut Abdul Hakam, peningkatan kapasitas kepada Gasurkes (Petugas Surveilans Kesehatan), meningkatkan program Sicentik (siswa cari jentik) dan Satu Rumah Satu Jumantik, serta bekerja sama lintas sektor untuk rutin mengadakan PJN (Pemantauan Jentik Nyamuk) secara serentak setiap seminggu sekali.

"Disamping itu, Dinkes Kota Semarang telah melakukan inovasi dengan membuat sebuah sistem terintegrasi yang dinamai Tunggal Dara (Bersatu Tanggulangi Demam Berdarah)," kata Abdul Hakam.

Baca Juga: Remaja Sekarang Lebih Rentan Terkena DBD

Menurut Abdul Hakam, Tunggal dara merupakan sistem informasi lintas sektor yang menjadi solusi untuk penanganan DBD yang terintegrasi dengan melakukan pelaporan dan analisa serta penyebarluasan informasi secara online kepada petugas, pemangku kepentingan dan masyarakat.

Pihaknya akan terus berupaya melakukan peningkatan edukasi, PJN serentak, Sicentik dan Gerakan Satu Rumah Satu Jumatik (GSRSJ) untuk menekan jumlah penderita DBD di Kota Semarang.

"Namun dengan adanya pandemi Covid-19 dan himbauan untuk physical distancing serta melakukan kegiatan di dalam rumah, maka kegiatan PJN serentak diganti dengan kegiatan PJN secara mandiri atau kegiatan Gerakan Satu Rumah Satu Jumatik (GSRSJ). Karena selama ada nyamuk dan jentik, maka masih ada penderita DBD. Hanya saja perlu ditekan penyebaran, pencegahan dan tata kelola kasus agar tidak menimbulkan kematian yang lebih banyak lagi," paparnya.

Menurut Abdul Hakam, Tunggal Dara telah mewakili Kota Semarang dalam Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2020 dan masuk menjadi Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020.



Sumber: BeritaSatu.com