Wagub Jatim: Dai Milenial Berperan Memutus Rantai Radikalisme

Wagub Jatim: Dai Milenial Berperan Memutus Rantai Radikalisme
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat mengikuti dialog "Peran Dai Milenial Dalam Menjaga Pancasila dan Meminimalisasi Radikalisme" yang dihelat oleh Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Pemprov Jatim. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Amrozi Amenan / FER Minggu, 28 Juni 2020 | 22:22 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak mengatakan, keberadaan serta kehadiran juru dakwah muda atau dai milenial di era globalisasi ini sangat dibutuhkan, mengingat perannya bisa berfungsi dalam memutus rantai radikalisme dan menjaga ketentraman hidup berbangsa dan bernegara.

Baca Juga: Waspadai Kelas-kelas Online Radikalisme

"Keberadaan kalangan ustaz, kyai atau dai milenial saat ini sangat dibutuhkan dengan semakin derasnya arus informasi. Peran para dai milenial itu menjadi sangat penting guna menjaga kebhinekaan di bawah naungan NKRI,” kata Emil.

Hal tersebut disampaikan Emil dalam acara dialog daring bertajuk "Peran Dai Milenial Dalam Menjaga Pancasila dan Meminimalisasi Radikalisme" yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Pemprov Jatim Sabtu (28/6/2020).

Emil memberikan apresiasi dialog daring yang digagas oleh FKPT Jatim. Terlebih, acara ini digelar di bulan Juni yang bertepatan dengan kelahiran Pancasila. "Pemprov Jatim akan terus mendukung acara-acara FKPT Jatim yang bernilai positif dalam mencegah tindak radikalisme," tegas Emil Dardak.

Baca Juga: BNPT Sebut Medsos Jadi Sarana Perekrutan Teroris

Sementara, ketua umum PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar menyatakan, peran dai milenial harus memberi teladan untuk menjadi muslim yang baik. "Selain itu, dai milenial juga dituntut memiliki kesadaran dan tanggung jawab menjaga keamanan, keutuhan dan keharmonisan dalam kehidurpan berbangsa dan bernegara," kata KH Marzuki Mustamar.

Ketua PW Muhammadiyah Jatim, Saad Ibrahim menambahkan, seorang dai memiliki kewajiban dalam menjaga Pancasila dan meminimalisasi radikalisme. "Hendaknya, para dai milenial bisa melakukan dakwah dengan menggunakan teknologi modern khususnya fasilitas medsos (media sosial) mengingat sekarang eranya teknologi digital," kata Saad Ibrahim.

Ketua FKPT Jatim, Hesti Armiwulan menyatakan, meski dalam kondisi pandemi virus corona atau Covid-19, FKPT Jatim tetap melakukan berbagai program yang diembannya sebagai upaya pencegahan radikalisme di Jatim.

Baca Juga: Radikalisme Menyimpang dari Islam

"Harapannya, sinergisitas dengan berbagai stakeholders serta partisipasi berbagai pihak yang positif dengan mengedepankan kearifan lokal dapat membawa Jatim tetap aman, damai dan sejahtera," kata Hesti Armiwulan.

Menurut Hesti, seluruh personel FKPT Jatim tetap beraktivitas sesuai dengan tugas dan fungsinya, meski disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19.

"Sejumlah aktivitas via daring telah dilakukan beberapa kali termasuk dengan BNPT. Intinya kewaspadaan dalam menghadapi kemungkinan ancaman tindak kekerasan dan radikalisme tidak boleh kendor,” tandas Hesti Armiwulan.

Baca Juga: Dai Muda Harus Berikan Pesan Perdamaian

Kabid Humas dan Media FKPT Jatim, Yuristiarso Hidayat menambahkan, selain dialog tersebut, rencananya FKPT Jatim pada Selasa mendatang (30/6/2020) akan mengadakan diskusi via daring bekerja sama dengan BNPT, BNN, LDK PW Muhammadiyah Jatim yang melibatkan komunitas dai se-Jawa-Bali.

"Acara via daring ini terkait peringatan HANI (Hari Anti Narkoba Internasional) 2020 dengan tema 'Peran Dai dalam Mencegah Bahaya Narkoba dan Terorisme' yang melibatkan sejumlah tokoh," jelas Yuris.



Sumber: BeritaSatu.com