Kemarahan Jokowi Sinyal Kuat Adanya Perombakan Kabinet

Kemarahan Jokowi Sinyal Kuat Adanya Perombakan Kabinet
Presiden Jokowi. (Foto: istimewa)
Yeremia Sukoyo / RSAT Senin, 29 Juni 2020 | 20:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Jokowi saat sidang kabinet mengutarakan kekecewaannya terhadap kinerja sejumlah kementerian dan mengancam akan melakukan reshuffle maupun membubarkan lembaga.

Direktur Program Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas, menilai ungkapan Presiden Jokowi saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara merupakan sinyal kuat akan adanya perombakan atau reshuffle kabinet.

"Evaluasi presiden menandai makin dekatnya waktu pada kesimpulan yang mungkin akan diambil presiden terkait anggota tim kabinetnya. Termasuk kemungkinan penggantian atau reposisi personel kabinet," kata Sirojudin Abbas, di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Menurutnya, kabinet yang ada saat ini disusun di dalam konteks sosial-ekonomi yang normal. Kemampuan manajerial dan rekam jejak kepemimpinan para menteri tentu telah diuji dan dikaji mendalam.

"Semuanya memiliki kapasitas personal, kapabilitas kepemimpinan dan pengalaman eksekusi kebijakan dan program yang rata-rata sangat baik," ujarnya.

Namun demikian, diakui, hanya sedikit dari anggota kabinet yang memiliki karakter "risk taker" dan menunjukkan kepemimpinan lincah, cepat, dan sanggup memimpin pasukan di lapangan langsung. Sebagian anggota kabinet adalah orang-orang hebat yang dibesarkan di dalam situasi normal.

Pada saat penyusunan kabinet di akhir 2019, tidak ada indikasi dunia akan mengalami krisis akibat pandemi Covid-19. Maka pilihan Jokowi pada tokoh-tokoh yang saat ini ada di jajaran kabinet dipandang tepat dan relevan dengan agenda presiden.

"Kenyataannya, Indonesia dan dunia mengalami resesi serius akibat pandemi Covid-19. Tim kabinet yang ada, yang terkait langsung dengan kebijakan dan eksekusi program mitigasi dan pemulihan dampak sosial-ekonomi, terlihat tergopoh-gopoh. Kaget dan kurang sigap," ungkap Sirojudin.

Menurutnya, periode Maret sampai Juni 2020 adalah masa ujian paling berat yang dihadapi pemerintah. Sekaligus periode yang membuktikan kapasitas dan kemampuan kepemimpinan para menteri.

Karena itulah, saat ini penggantian atau reposisi kabinet memang diperlukan. Sebab misi pemerintah telah berubah dan konteks makro sosial-ekonomi nasional dan global telah berubah secara radikal.

"Situasi yang dihadapi pemerintah bukan lagi situasi normal. Tetapi situasi luar biasa. Yakni resesi ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang cukup panjang. Presiden membutuhkan susunan tim baru yang memiliki kemampuan dan pengalaman mengelola kebijakan dan mengeksekusi kebijakan pemerintah secara efektif pada saat krisis. Jadi, sekarang sudah saatnya reorganisasi tim kabinet," katanya.

 



Sumber: BeritaSatu.com