Pakar: Kapasitas RS Nasional Cukup Memadai untuk Pasien Covid-19

Pakar: Kapasitas RS Nasional Cukup Memadai untuk Pasien Covid-19
Pekerja di kawasan Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/3/2020). Presiden Joko Widodo menyatakan pemerintah telah menyiapkan Wisma Atlet Kemayoran sebagai rumah sakit darurat penanganan virus corona (Covid-19). Rencananya Wisma Atlet juga akan menjadi rumah isolasi bagi pasien covid-19 mulai Sabtu (21/3/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Ruht Semiono)
Dina Manafe / IDS Senin, 29 Juni 2020 | 23:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono mengatakan, secara nasional sebetulnya kapasitas tempat tidur atau rumah sakit (RS) cukup memadai. Saat ini, menurut data dari Kementerian Kesehatan per 26 Juni 2020, terdapat 755 rumah sakit rujukan Covid-19 yang siap merawat pasien Covid-19 di seluruh Tanah Air.

Menurut Tri, hanya 20% dari kasus Covid dalam kondisi berat dan harus dirawat di RS. Sedangkan 80% sisanya dilakukan isolasi mandiri baik di rumah atau fasilitas yang disediakan di komunitas atau lingkungannya. Artinya, jika rata-rata pasien positif per hari adalah 1.000 orang, maka yang dirawat hanya sekitar 200 orang. Sisanya 800 orang diisolasi mandiri.

Saat dihubungi Suara Pembaruan, Senin (29/6/2020) malam, Tri menjelaskan, DKI Jakarta yang menjadi episentrum penyebaran Covid-19 pertama kali dengan penambahan kasus baru dan jumlah kasus kumulatif terbanyak pun tidak pernah mengalami kewalahan. Yang saat ini sedang kewalahan menghadapi lonjakan pasien justru adalah Jawa Timur.

Tri yang juga epidemiolog Universitas Indonesia ini mengatakan, Jawa Timur kewalahan karena penambahan kasus baru sebanyak 200 per hari, melampaui DKI Jakarta. Sementara kapasitas tempat tidur dan sumber daya kesehatan lainnya tidak sebanyak di DKI Jakarta. RS Khusus Infeksi Universitas Airlangga Surabaya yang menjadi rujukan Covid-19 untuk Jawa Timur kewalahan.

Sejumlah RS di beberapa wilayah lain pada dua minggu lalu mengurangi perawatan atau pelayanan untuk Covid-19 juga karena kewalahan. Di Depok, Jawa Barat misalnya. Wilayah itu tidak memiliki RS khusus penyakit infeksi, sehingga semua RS di daerah ini seolah dipaksa untuk melayani Covid-19.

“Memang di daerah seperti itu, pemda memaksa semua RS untuk melayani Covid-19. Harusnya ada RS khusus yang ditunjuk Dinas Kesehatan,” kata Tri.

Untuk RS darurat rujukan Covid-19 seperti Wisma Atlet Kemayoran dan RS Pulau Galang Kepulauan Riau, tidak semuanya terisi. Ia mencontohkan di RS Pulau Galang kapasitasnya bisa menampung sekitar 3.000 orang, tetapi jumlah tempat tidur yang baru terisi adalah 800. Sedangkan pasien yang pernah dirawat dan diisolasi di sana hanya sekitar 200 orang.

Menurutnya, seseorang dirawat di RS jika kondisi penyakitnya sedang dan berat. Misalnya, suhu tubuh di atas 38 derajat celcius, batuk tidak berhenti, sesak napas, kadang diare, dan sejumlah kondisi pemberat juga disertai penyakit penyerta seperti hipertensi, jantung, diabetes melitus dan lain-lain. Sedangkan keluhan seperti batuk ringan, demam rendah dengan suhu tubuh hingga 37.8 derajat celcius, maka dikategorikan kondisi ringan sehingga cukup isolasi mandiri.

40% Kosong
Sebelumnya Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, saat ini tingkat hunian rumah sakit rujukan Covid-19 baru 60%, sehingga masih ada 40% yang kosong. Wisma Atlet Kemayoran misalnya, kapasitas tempat tidur yang disiapkan sekitar 3.000, tetapi pasien yang dirawat hanya sekitar 900-an orang.

Secara nasional, menurut Yurianto, ada beberapa RS di sejumlah daerah yang penuh, tetapi ada pula yang masih kosong. Misalnya di provinsi Jawa Timur, rata-rata hunian RS penuh karena penambahan kasus baru terus meningkat. Karena itu RS darurat di Jawa Timur akan ditambah kapasitas sebanyak 200 tempat tidur.



Sumber: BeritaSatu.com