Mantan Dirjen Otda: Pergantian Kabinet Harus Segera Dilakukan

Mantan Dirjen Otda: Pergantian Kabinet Harus Segera Dilakukan
Sejumlah menteri kabinet Indonesia maju mengikuti rapat kabinet terbatas mengenai percepatan penanganan dampak pandemi COVID-19 di Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 29 Juni 2020. (Foto: Antara / Akbar Nugroho Gumay)
Robert Wardy / YS Selasa, 30 Juni 2020 | 10:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Djohermansyah Djohan meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera melakukan pergantian (reshuffle) kabinet.

Hal itu sebagai konsekuensi dari para menteri yang bekerja di bawah standar. Apalagi Presiden Jokowi sendiri sudah marah dengan kinerja para menterinya yang biasa-biasa saja dalam situasi krisis seperti sekarang.

“Kalau anak buah tidak juga berubah, pemimpin harus menindaknya dengan tegas, alias dicopot saja. Bisa dipindah ke tempat lain, yang lebih sesuai kemampuannya. Atau diberhentikan tapi dicarikan jalan penyelamatan, seperti di-Dubes-kan dan di-Dekom-kan. Pilihan terakhir dilepaskan tanpa jabatan dengan risiko mereka akan jadi oposan,” kata Joe, sapaan akrab Djohermansyah di Jakarta, Senin (29/6/2020).

Ia menanggapi beredarnya video kemarahan Jokowi terhadap para menterinya. Menurut Joe, para pemimpin seperti Jokowi marah lazimnya karena anak buah tidak bekerja dengan baik.

Ancaman Covid-19 yang membahayakan 267 juta jiwa rakyat Indonesia tidak ditangani anak buah dengan tepat, cepat dan seksama.

“Lain yang diminta presiden, lain pula yang dikerjakannya. Lain yang gatal, lain pula yang digaruknya. Atau kalau ada yang dikerjakan, pekerjaan itu jauh dari target dan harapan pimpinan. Atau ketika regulasi sudah jadi, perintah diturunkan berkali-kali, tapi eksekusinya berjalan lamban sekali,” jelas Joe.

Dia melihat kemarahan Jokowi masih pada taraf wajar, terkendali, tidak sampai memaki-maki. Pasalnya, banyak pemimpin di dunia jika marah, dengan gampang melontarkan nama-nama fauna di kebun binatang.

Dia berharap para menteri yang dipilih nanti harus benar-benar berkualitas dan sesuai bidangnya. Jangan menempatkan orang hanya karena balas jasa politik.

“Ke depan, hendaknya hati-hati memilih anak buah. Jangan sampai salah meletakkan orang dalam jabatan. Tukang kayu tidak bakal mungkin bisa menjadi tukang batu yang baik. Jangan pula kita keliru memberi hadiah kursi jabatan tinggi selevel menteri yang bukan jabatan tinggi biasa pada orang yang pernah memberi konstribusi sehingga kita jadi petinggi, padahal dia tidak berisi atau kapasitasnya masih belum mumpuni,” tutur Joe yang saat ini menjadi Guru Besar IPDN.



Sumber: Suara Pembaruan