Dihukum 7 Tahun Penjara, Imam Nahrawi Isyaratkan Banding

Dihukum 7 Tahun Penjara, Imam Nahrawi Isyaratkan Banding
Imam Nahrawi. (Foto: Antara)
Fana Suparman / YUD Selasa, 30 Juni 2020 | 19:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wa Ode Nur Zainab, tim penasihat hukum mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi mengaku kecewa terhadap putusan Pengadilan Tipikor Jakarta yang menghukum kliennya dengan 7 tahun pidana penjara atas perkara dugaan suap dana hibah KONI dan gratifikasi. Wa Ode mengisyaratkan pihaknya akan menempuh upaya hukum banding terkait vonis Imam Nahrawi tersebut.

"Semalam setelah pembacaan putusan, saya menyempatkan diri ke KPK ke Gedung C1 di mana ada Pak Imam, beliau di sana mengikuti persidangan secara online. Pertama beliau, minta kami penasehat hukum untuk terus berjuang bersama bagaimana pun, apa yang didakwakan, dituntut dan divonis oleh Majelis Hakim itu tidak sesuai dengan fakta persidangan dan memberikan isyarat hukum," kata Wa Ode Nur Zainab di PN Tipikor Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Wa Ode menyebut, dalam fakta di persidangan tidak ada saksi yang menyebut Imam menerima uang atau melakukan komunikasi terkait dengan proposal dana hibah KONI. Majelis Hakim, katanya, hanya menyebut bukti petunjuk.

"Jadi tidak ada fakta hukum di persidangan, hanya ada bukti petunjuk kata Majelis Hakim. Bukti petunjuk itu harusnya diperoleh dari fakta saksi, fakta surat misalnya. Kalau dari alat bukti 184 KUHAP itu namanya bukti petunjuk itu berada pada level terbawah. Jadi nggak mungkin kemudian orang di hukum karena petunjuk," katanya. Wa Ode.

Dalam pertimbangan Majelis Hakim pun, kata Wa Ode, tidak disebut mengenai pemberian kepada kliennya.

"Pada pertimbangan hukum dalam putusan Majelis Hakim yang dibacakan kemarin, beberapa kali dinyatakan oleh Majelis Hakim bahwa tidak ada fakta yang menyebutkan ada pemberian uang ke Terdakwa (Imam Nahrawi)," sambungnya.

Kendati demikian, Wa Ode belum bisa memberikan kepastian soal upaya hukum yang akan ditempuh oleh kliennya tersebut. Dia menilai, putusan Majelis Hakim hanya berdasarkan persepsi, asumsi dan bukan berdasarkan fakta hukum.

"Tapi kan ini masih berproses selama tujuh hari. Tapi kemungkinan-kemungkinan akan ke sana (banding), karena beliau sampaikan pokoknya kita terus berjuang," katanya.

Diketahui, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan hukuman 7 tahun pidana penjara dan denda Rp 400 juta subsider 3 bulan kurungan terhadap Imam Nahrawi. Tak hanya pidana pokok, Majelis Hakim juga menjatuhkan pidana tambahan terhadap Imam berupa kewajiban membayar uang pengganti sebesar Rp18.154.230.882 selambatnya sebulan setelah putusan pengadilan memperoleh kekuatan hukum.

Jika dalam jangka waktu tersebut, Imam tidak membayar uang pengganti maka harta bendanya disita oleh Jaksa dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut. Jika harta bendanya tidak mencukupi untuk membayar uang pengganti, Imam akan dikenakan pidana penjara selama 3 tahun.

Majelis Hakim juga mencabut hak politik Imam selama empat tahun setelah menjalani pidana pokok. Majelis Hakim menyatakan Imam terbukti menerima suap terkait pengurusan dana hibah dari pemerintah kepada KONI melalui Kempora serta menerima gratifikasi terkait dengan jabatannya dari sejumlah pihak. Perbuatan itu dilakukan Imam bersama-sama asisten pribadinya, Miftahul Ulum.



Sumber: BeritaSatu.com