Kemdikbud Asah Kompetensi Guru SMK dengan Program Baru

Kemdikbud Asah Kompetensi Guru SMK dengan Program Baru
Dirjen Pendidikan Vokasi Kemdikbud Wikan Sakarinto (Foto: Istimewa)
Maria Fatima Bona / IDS Selasa, 30 Juni 2020 | 18:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dirjen Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Diksi Kemdikbud), Wikan Sakarinto, meluncurkan program up-skilling dan re-skilling guru kejuruan SMK di industri yang digagas oleh Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Tujuannya adalah untuk mengasah kompetensi para guru SMK agar bisa mengikuti perkembangan dan permintaan industri.

Wikan menuturkan, program ini bentuk terobosan program “Pernikahan Massal" atau link and match antara pendidikan vokasi mulai dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Perguruan Tinggi Vokasi (PTV), maupun lembaga kursus dan pelatihan dengan DUDI guna menghasilkan lulusan vokasi yang unggul.

"Kita sedang merancang kurikulum SMK yang baru, yakni lebih simpel dan match karena disusun bersama industri. Kurikulum ini mencakup pemenuhan kompetensi hard skill dan soft skill secara seimbang," ucap Wikan, Selasa (30/6/2020).

Wikan menyebutkan, tahun ini Kemdikbud membuka kesempatan bagi 2.160 guru untuk mengikuti program tersebut. Sebab, dengan perkembangan teknologi di industri yang cepat, SMK harus mampu beradaptasi dengan pembelajaran yang fleksibel dan kontekstual dengan industri. Salah satunya dilakukan melalui skema pembelajaran project by learning atau bring industry to school.

"Meski pembelajaran SMK tetap 60% mengedepankan praktik, tetapi seluruh mata pelajaran baik praktik maupun teori kontekstual dengan kondisi nyata di industri. Guru SMK tidak hanya mengajar, tetapi juga sebagai mentor, fasilitator, motivator, dan coach yang dapat mengubah nobody menjadi seorang superstar. Mereka harus mampu membangkitkan anak menjadi kompeten setelah lulus SMK, baik secara prestasi, leadership, ability, dan kemampuan komunikasi," terang Wikan.

Pelaksanaan program up-skilling dan re-skilling guru kejuruan SMK sendiri didasarkan pada pemetaan empat bidang klaster center of excellence (COE) SMK, meliputi bidang manufaktur dan konstruksi, ekonomi kreatif, hospitality, dan care service.

Pemilihan COE tersebut telah mempertimbangkan tren perkembangan industri dan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Secara total, terdapat 21 kompetensi keahlian di SMK yang masuk dalam kriteria program ini.

Program akan dilakukan secara daring dan campuran (blended learning) sesuai dengan kompetensi dan keterampilan kejuruan yang akan dicapai guru. Pelatihan selama 2-4 bulan ini terbuka bagi guru SMK yang memiliki usia di bawah 50 tahun dan memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Sementara untuk informasi lebih lengkap mengenai persyaratan dapat diakses melalui laman www.vokasi.kemendikbud.go.id.



Sumber: BeritaSatu.com