HUT Bhayangkara, Ketua MPR Dorong Polri Kedepankan Pendekatan Humanisme

HUT Bhayangkara, Ketua MPR Dorong Polri Kedepankan Pendekatan Humanisme
Ketua MPR Bambang Soesatyo menghadiri upacara HUT Bhayangkara secara virtual, dari ruang kerjanya, Rabu, 1 Juli 2020. (Foto: Beritasatu.com/Markus Junianto Sihaloho)
Markus Junianto Sihaloho / CAH Rabu, 1 Juli 2020 | 13:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam rangka HUT ke-74 Bhayangkara Polri, Ketua MPR Bambang Soesatyo menyampaikan harapan agar personil kepolisian mengedepankan pendekatan kekuatan humanisme daripada pendekatan senjata dalam mengayomi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Menurut Bamsoet, sapaan akrabnya, pendekatan humanisme bukan berarti membuat Polri menjadi lemah. Melainkan akan membuat Polri dan rakyat semakin dekat.

"Dengan demikian rakyat bukan hanya sekadar takut dengan aparat kepolisian, melainkan segan dan bangga," kata Bamsoet, Senin (3/7/2020).

Baca Juga: Jokowi Ingatkan Polri Kendalikan Covid-19, Tanpa Lupakan Agenda StrategisMemasuki usia ke-74 tahun, menurutnya, Polri wajib terus berbenah untuk semakin menjadi profesional, modern, dan terpercaya. Bamsoet mengutip hasil survei Lembaga Indikator pada 16-18 Mei 2020, yang memperlihatkan kepercayaan masyarakat terhadap Polri cukup tinggi, yakni 79,4 persen.

Begitupun dengan jajak pendapat Litbang Kompas pada 23-25 Juni 2020 yang memperlihatkan citra kepolisian di mata rakyat masih baik, yakni sekitar 62,1 persen.

"Ruang perbaikan masih terbuka lebar, selama Polri masih tetap mau terbuka dan mendengar masukan," ujar Bamsoet yang menghadiri upacara HUT Bhayangkara secara virtual, dari ruang kerjanya.

Bamsoet mengingatkan senjata yang dititipkan negara tak boleh menjadikan aparat kepolisian arogan. Melainkan harus dimaknai sebagai bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab besar untuk menjaga keamanan, ketertiban dan keselamatan hidup rakyat.

Baca JugaHari Bhayangkara: Ketua DPR Puan Maharani Beri Tumpeng ke Anggota Polantas

Karenanya dalam upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sebagaimana diatur dalam UU No.2/2002 tentang Kepolisian Negara RI, Polri harus berdiri di atas semua golongan. Tak boleh menjadi alat kekuasaan segelintir pihak.

Bamsoet juga bercerita soal bagaimana profesionalitas dan integritas Jenderal Hoegeng, yang tak bisa dibeli oleh uang maupun kekuasaan. Ia menolak fasilitas dan pemberian barang-barang dari para cukong judi. Bamsoet meyakini bahwa di masa kini, sosok seperti Hoegeng di institusi Kepolisian. Bahkan dalam skala yang lebih luas, rela mengabdikan diri demi masyarakat hingga di luar tugas dan kewajibannya sebagai aparat kepolisian.

"Masih lekat dalam ingatan kegigihan Bripka Jerry Tumundo dari Polda Sulawesi Utara yang mau memakamkan jenazah positif Covid-19 sesuai protokol kesehatan, tatkala orang-orang tak mau melakukannya. Tindakan terpuji tersebut, yang dilandasi sikap humanisme, terbukti semakin mendekatkan kepolisian dengan rakyat," pungkas Bamsoet.

"Ada pula anggota Polri di masa sulit pandemi covid-19 saat ini, berhasil menggagalkan dan menggulung mafia narkoba puluhan ton. Dan itu dilakukan tanpa kenal lelah," tambahnya.



Sumber: BeritaSatu.com