Ancaman Erupsi Merapi Melebar ke Sektor Barat Laut

Ancaman Erupsi Merapi Melebar ke Sektor Barat Laut
Erupsi Gunung Merapi pada Minggu, 21 Juni 2020. (Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani)
Fuska Sani Evani / CAH Rabu, 1 Juli 2020 | 20:18 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Puncak Gunung Merapi sektor Barat Laut mengalami deformasi atau perubahan bentuk pada permukaan sebesar 3 sentimeter, sejak erupsi pada 21 Juni 2020.

Kepala Seksi Gunung Merapi Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso dalam Seminar Mitigasi Bencana Geologi melalui aplikasi Zoom, Rabu (1/7/2020) mengatakan, dua kali letusan eskplosif 21 Juni 2020 yakni pukul 09.13 WIB dan 09.27 WIB dengan amplitudo 75 mm dengan durasi 328 detik dan 100 detik, berdampak siginifikan pada perubahan morfologi puncak Gunung Merapi, yaitu dinding kawah lava-1997 terkikis sebesar 19.000 meterkubik.

“Bukan letusan eksplosif terbesar sejak 2018, tetapi energinya cukup signifikan,” ujar Agus.

Berdasar data pemantauan BPPTKG, diketahui tiga hal yang bisa mewakili aktivitas vulkanis Gunung Merapi yakni tampak bahwa energi kegempaan dalam Gunung Merapi melonjak pada Juni 2020.

Kedua, gas CO2 yang dikeluarkan berada dalam kisaran yang tinggi dibandingkan 2019, saat ini sebanyak 600 ppm, sementara pada 2019 sebanyak 300 ppm.

Baca JugaSejak Januari 2020, Merapi Sudah Erupsi 11 Kali

Ketiga, setelah letusan 21 Juni 2020 terjadi aktivitas yang terjadi pada Gunung Merapi pasca-2010 mirip dengan yang terjadi pasca 1872. Sehingga apa yang akan terjadi pada waktu-waktu ke depan dapat disandingkan dengan kronologis pasca erupsi 1872.

Menurut Agus, saat ini muncul kubah lava, terjadi letusan-letusan eskplosif, dan semua konsisten dengan yang terjadi pasca erupsi 1872.

Berdasarkan kondisi tersebut, BPPTKG berekspektasi, setelah esktrusi magma atau proses keluarnya magma ke permukaan bumi yang terjadi pada 2018 lalu akan terjadi ekstrusi magma, namun waktunya belum diketahui.

“dari data pemantauan akan menunjukkan gejala sebelum terjadinya ekstrusi magma sehingga dapat diantisipasi dengan baik,” ujarnya.

Ditambahkan Agus, dengan deformasi di titik Barat Laut, maka dimungkinkan adanya pelebaran arah ancaman yang tidak hanya ke selatan-tenggara, tapi juga ke barat-barat laut.

Agus menambahkan, bahaya Gunung Merapi akan meningkat ketika ekstrusi magma mencapai kecepatan 100.000 meterkubik per hari, diperkirakan akan terjadi jika terjadi ekstrusi magma yang berikutnya.

Jika ini terjadi atau berdasarkan skenario jika terjadi penambahan bukaan kawah di selatan dan barat perkiraan jalur awan panas akan mengarah ke Kali Kuning, Kali Boyong, Kali Krasak, Kali Putih, Kali Senowo, Kali Trising, hingga Kali Apu.

“Mitigasi ini sudah disampaikan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan menjadi dasar rencana kontijensi bahaya Gunung Merapi,” ujarnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com