Banten Keluar dari 10 Besar Kasus Positif Covid-19

Banten Keluar dari 10 Besar Kasus Positif Covid-19
Ilustrasi pasien yang diduga terinfeksi virus "corona". (Foto: Antara)
Laurens Dami / JAS Rabu, 1 Juli 2020 | 23:59 WIB

Serang, Beritasatu.com - Provinsi Banten keluar dari 10 besar kasus positif Covid-19. Penularan semakin terbatas dan jumlah yang positif semakin berkurang. Tingkat kesembuhan juga cukup tinggi. Saat ini Banten berada di posisi ke-11 dengan jumlah kasus 1.466. Sedangkan jumlah pasien sembuh mencapai 660.

Kendati demikian, Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Provinsi Banten diminta untuk tetap konsisten dalam menjalankan tugasnya dan terus aktif melakukan pencegahan penularan Covid-19.

Hal tersebut disampaikan Gubernur Banten Wahidin Halim selaku Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Banten, pada saat rapat dengan para kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di Pendopo Kantor Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kecamatan Curug, Kota Serang, Rabu (1/7/2020).

Wahidin mengapresiasi kinerja semua pihak yang terlibat dalam penanganan kasus Covid-19 di Provinsi Banten.

“Terima kasih semuanya. Penanganan Covid-19 di Banten semakin baik. Kepada Gugus Tugas Penanganan Covid-19, saya minta untuk konsisten terus. Gugus Tugas Covid-19 diaktifkan terus. Jangan berhenti. Jangan istirahat. PSBB tetap dilanjutkan," ujar Wahidin.

Menurut Gubernur Wahidin Halim, pelonggaran identik dengan pelanggaran. Dirinya juga ungkapkan rasa syukurnya dengan banyaknya OPD di lingkungan Pemprov Banten yang sudah menggelar rapid test untuk aparatur di lingkungan kerjanya. Hal itu berdampak kepada para aparatur untuk disiplin dalam menjaga kesehatan pribadi, orang lain, dan lingkungan kerjanya.

"Persamaan persepsi dan keseragaman dalam menghadapi wabah Covid-19 itu penting," tegasnya.

Wahidin mengajak para pimpinan dan aparatur di lingkungan Pemprov Banten memiliki sense of crisis. Memiliki tanggung jawab moral. Termasuk risiko dari wabah Covid-19 berupa pemangkasan tunjangan kinerja (tukin) yang mencapai 50 persen.

"Ayo kita sama-sama. Sebagai kawan dan sebagai sahabat, di saat krisis inilah kita diuji. Satu per satu persoalan di Banten bisa kita selesaikan," ujarnya.

Wahidin juga menginstruksikan kepada OPD terkait untk melakukan analisis dan evaluasi harian, mingguan, hingga bulanan sebagai dasar untuk langkah antisipasi dan perencanaan ke depan terkait persoalan ekonomi.

Berdasarkan proyeksi Kementerian Keuangan, akibat Covid-19 perekonomian dunia bakal mengalami kontraksi. Proyeksi pertumbuhan ekenomi dunia dalam kondisi minus lima persen. Sementara, perekonomian Indonesia berpotensi hingga minus satu persen.

Menurut Wahidin perekonomian Provinsi Banten diproyeksikan masih mampu mengalami pertumbuhan positif.

"Dua sisi yang sulit untuk pemulihan ekonomi. Antara pelonggaran dan pelanggaran. Pemulihan ekonomi berisiko pelanggaran dan peningkatan kasus Covid-19, sisi lain penanganan Covid-19 tetap harus dijalankan," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Pemprov Banten Babar Suharso melaporkan pasar tradisional kini sudah mulai ramai. Omset pedagang yang sempat turun hingga 50 persen, kini kini sudah naik lagi hingga 95 persen.

“Kami terus melakukan koordinasi dengan kabupaten/kota untuk pelaksanaan protokol kesehatan dan screnning/rapid test di pasar tradisional. Untuk pasar modern terpantau masih melaksanakan protokola kesehatan yang menjadi daya saing di antara mereka sebagai bagian dari rasa amannya pengunjung,” ujar Babar.

Gubernur Wahidin juga menginstruksikan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Pemprov Banten untuk melakukan analisis dan evaluasi sektor perekonomian mana saja yang berpotensi minus akibat wabah Covid-19 berdasarkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan nasional.

Demikian juga untuk Dinas Pertanian dan Dinas Ketahanan Pangan, Gubernur Wahidin menginstruksikan agar punya agenda rencana aksi yang jelas hingga bulan Desember 2020. Terutama untuk masa tanam dan panen raya sampai ketersediaan bahan pokok hingga stok aman bertahan berapa lama di Banten.

Dinas Sosial juga terus harus memantau validitas bantuan sosial (bansos) untuk segera menyelasaikan data dan penyaluran dananya. Lakukan evaluasi kemampuan dana setiap bulan nya.

“Untuk Pendapatan daerah yang turun, kondisi ini harus kita pahami bersama, walaupun Pemprov sudah memberikan berbagai kelonggaran namun perlu kajian berapa persen khususnya untuk wajib pajak yang terdampak oleh Covid-19. Kelompok mana saja yang terdampak dan bisa menjadi bahan analisa perkiraan pendapatan ke depannya. 

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Rabu (1/7/2020), jumlah kumulatif kasus positif di Banten tercatat 1.466 orang dan berada di posisi ke-11. Kasus terbanyak terdapat di Jawa Timur yakni 12.321. DKI Jakarta di posisi kedua dengan 11.637, selanjutnya (3) Sulawesi Selatan 5.214, (4) Jawa Tengah 4.006, (5) Jawa Barat 3.276, (6) Kalimantan Selatan 3.223 (7) Sumatera Selatan 2.078, (8) Papua 1.846, (9) Sumatera Utara 1.601, (10) Bali 1.527, (11) Banten 1.466, (12) Nusa Tenggara Barat 1.245, (13) Sulawesi Utara 1.129, (14) Kalimantan Timur 931, (15) Sumatera Barat 742. 



Sumber: BeritaSatu.com