UI Usulkan Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka

UI Usulkan Upaya Mitigasi Saat Sekolah Kembali Dibuka
Ilustrasi Universitas Indonesia. (Foto: Antara)
Rully Satriadi / RSAT Kamis, 2 Juli 2020 | 19:06 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Tim Penyusun Universitas Indonesia (UI) merekomendasikan agar pembukaan kembali aktivitas sekolah dapat dilakukan secara bertahap. Tentunya dengan dukungan kolaborasi lintas sektoral (kesehatan dan pendidikan). Hal ini dimaksudkan agar capaian belajar dapat tetap terpenuhi, dan anak-anak dapat tetap sehat.

“Apabila pemerintah memutuskan untuk membuka kembali aktivitas sekolah di masa pandemi, diharapkan dapat dilakukan secara bertahap dengan menerapkan metode menggilir siswa yang masuk ke sekolah (setengah kelas),” ujar dr Grace Wangge dalam webinar bertema "Pembukaan Kembali Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah: Pertimbangan Kesehatan, Pendidikan, dan Psikologi Perkembangan Anak", Rabu (1/7/2020).

Grace menyebutkan selain itu sekolah tidak boleh melakukan kegiatan ekstrakurikuler yang mencakup acara pementasan, olahraga bersama, upacara bendera, dan kegiatan sosial lain dalam jumlah yang banyak.

Sekolah juga harus mengatur arus masuk dan keluar sekolah, dukungan nutrisi dan bantuan sosial nutrisi anak usia sekolah, dan membawa bekal bersama di dalam kelas.

Webinar ini terselenggara atas kerja sama Direktorat Inovasi dan Science Techno Park (DISTP UI) dengan SEAMEO RECFON/Pusat Kajian Gizi Regional UI.

Webinar ini menampilkan dr Grace Wangge PhD (SEAMEO RECFON/Pusat Kajian Gizi Regional UI), dr Ahmad Fuady MSc PhD (Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, FKUI), dengan penanggap Dra Sri Wahyuningsih MPd (Direktur Pembinaan Sekolah Dasar, Kemendikbud), Prof Dr H Juntika Nurihsan MPd. (Universitas Pendidikan Indonesia), serta Dr Rose Mini Agoes Salim MPsi (Fakultas Psikologi UI).

Tim penyusun juga meminta kepada Pemda untuk menyusun protokol kesehatan. “Jadi protokol kesehatan harus disusun, disiapkan terlebih dahulu sebelum sekolah dibuka, dan didiseminasikan kepada seluruh siswa dan orangtua,” ujar Grace.

Perkuat sarana penunjang (UKS, alat disinfeksi dan kebersihan, layanan hotline yang dapat diakses orangtua, dan sistem informasi yang tersambung ke Dinas Pendidikan, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan). Selain itu melakukan pengawasan dan evaluasi secara ketat dengan kolaborasi antara sekolah, Dinas Pendidikan, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan kota/kabupaten).

Tim penyusun juga mengapresiasi Surat Keputusan Bersama (SKB) 4 Menteri (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri) terkait Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19 yang memutuskan tahun ajaran baru tetap dibuka pada Juli 2020, meski Indonesia masih berada dalam pandemi.

“Selain itu, masyarakat, khususnya para guru dan orangtua, diharapkan dapat mempelajari buku saku tersebut,” ujarnya.

Kompleks
Sebelumnya Wakil Rektor UI bidang Riset dan Inovasi, Abdul Haris mengatakan pembukaan kembali sekolah merupakan keputusan yang kompleks dan membutuhkan banyak pertimbangan dan keahlian.

“Oleh sebab itu, UI melalui Pusat Kajian Gizi Regional UI berusaha memberikan sumbangsih pemikiran dengan mengadakan diseminasi yang menghadirkan para penyusun policy brief dan penyampai materi yang dapat memberikan kontribusi UI berupa rekomendasi kebijakan bagi pemerintah, terkait pembukaan sekolah kembali di Indonesia,” ujarnya.

Ahmad Fuady menuturkan, menurut riset, efek menutup sekolah menekan 2 - 4% sebaran infeksi. Data menunjukkan bahwa rata-rata kasus anak 1-5 % dari total kasus Covid-19, dimana di Indonesia ada pada rate 6% total kasus dengan mayoritas anak yang terinfeksi dengan gejala ringan.

“Bukan mengecilkan risiko Covid-19 terhadap anak, namun mari bersama-sama memitigasi risiko ketika membuka kembali aktivitas belajar mengajar di sekolah, agar capaian belajar dapat tetap terpenuhi, dan anak-anak dapat tetap sehat,” ujarnya.

 



Sumber: BeritaSatu.com