LSI Denny JA: Saat Masyarakat Terpuruk, Segera Cari Solusi dan Proaktif Beri Berita Gembira

LSI Denny JA: Saat Masyarakat Terpuruk, Segera Cari Solusi dan Proaktif Beri Berita Gembira
Ilustrasi Covid-19. (Foto: Antara)
Yuliantino Situmorang / YS Kamis, 2 Juli 2020 | 21:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyerukan, saat masyarakat terpuruk karena pandemi Covid-19, peneliti jangan berdiam diri. Peneliti tak boleh berhenti meneliti.

“Ketika masyarakatnya terpuruk, cari solusi. Proaktif. Berikan berita gembira. Tularkan harapan, tentu yang berdasarkan hasil riset. Spirit ini yang berharga untuk terus ditumbuhkan,” demikian keterangan tertulis LSI Denny JA terkait “Lima Prediksi LSI Denny JA soal Virus Corona Sudah dan Akan Terbukti” yang dirilis secara daring di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Disebutkan, mayoritas dari lima prediksi LSI Denny JA tentang Covid-19 sudah terbukti. Namun, hal itu bukan karena akurasi. Bukan karena prediksi umumnya terlaksana. Tetapi karena semangat meneliti itu yang menggairahkan.

“Ini era kita masih dilarang berkumpul. Tapi kita menolak hanya berdiam diri berpangku tangan di rumah. Kita peneliti. Di era lockdown, PSBB, kita tetap seorang peneliti. Seorang peneliti tak boleh berhenti meneliti. Banyak data riset di luar sana yang bisa kita olah. Publik perlu kita berikan info segar berbasiskan riset. Apalagi jika itu berita gembira,” tutur Denny JA, pendiri LSI.

Disebutkan, April lalu, LSI Denny JA merilis bahwa dua minggu atau tiga minggu setelah Lebaran, di Juni 2020, Indonesia akan kembali bekerja di luar rumah. Tentu berkerja secara bertahap. protokol kesehatan harus dipatuhi sampai vaksin ditemukan. Awalnya, prediksi itu disampaikan lewat Youtube.

Prediksi itu segera viral. Terutama pada Mei 2020, psikologi publik mulai menurun. Umumnya mereka jenuh karena sudah berminggu terkurung di rumah. Tabungan ekonomi juga menipis. Penghasilan berkurang bahkan terhenti.

Dikatakan, kekhawatiran terpapar virus corona sangat tinggi. Kekhawatiran terkena virus ekonomi, sulit memenuhi kebutuhan hidup juga tinggi. Ketidakpastian hidup memuncak.

Prediksi LSI Denny JA bahwa Juni kita akan bekerja kembali, memberikan air segar. Prediksi itu dinilai telah memberikan kepastian, membawa harapan. Apalagi prediksi ini berbasis riset. Prediksi itu menjadi viral karena sesuai harapan publik.

Pada Juni 2020, secara bertahap publik mulai kerja lagi. BUMN mengawalinya. Di Jakarta mulai 5 Juni 2020 rumah ibadah dibuka. Berikutnya area publik lain mengikuti, mulai dari kantor hingga mal dan restoran. LSI Denny JA mencatat 158 wilayah, di lima pulau besar, bisa bekerja di Juni 2020.

Kedua, bulan Juni 2020 memang terjadi turunnya virus corona secara signfikan. Zona merah dari 108 wilayah menurun menjadi 57 wilayah.

Tapi yang terpapar virus corona masih banyak setelah Juni berakhir. Terkait hal ini, dikatakan, prediksi LSI Denny JA tak bisa dianggap salah. Kepatuhan pada PSBB dan protokol kesehatan yang disyaratkan untuk modeling prediksi itu dilanggar.

Itu memang sejak awal sudah diperhitungkan. Yang akan diprediksi adalah peristiwa sosial, bukan peristiwa alam. Banyak hal tak terduga bisa terjadi.

Prediksi yang bertanggung jawab harus menyertakan asumsi dan disclaimer. LSI Denny JA juga mempublikasikan asumsi dan disclaimer menyertai prediksi.

Ketiga, prediksi 99 persen virus corona bisa diatasi sebelum vaksin virus corona ditemukan juga terbukti. Prediksi ini terjadi di beberapa negara. Antara lain Selandia Baru, Vietnam, Taiwan, Islandia, dan lainnya. Kisah negara sukses ini menjadi pelajaran negara lain.

Keempat, prediksi vaksin virus corona akan ditemukan sebelum Juni 2021 besar kemungkinan juga akurat. Bahkan Indonesia pun ikut mencari vaksin yang hampir membuahkan hasil. Lembaga di luar negeri apalagi berlomba menemukan vaksin virus. Banyak yang optimistis.

Kelima, prediksi karena kesulitan ekonomi, aneka pembatasan sosial akan fokuskan kepada tingkat wilayah yang lebih rendah seperti RT/RW, juga besar kemungkinan terjadi. Terlalu besar biaya ekonomi jika kembali diberlakukan pembatasan sosial berskala provinsi.



Sumber: Suara Pembaruan