Indeks Kewaspadaan Covid-19 Tinggi di Semarang-Surabaya, Ganjar: Waspadai Korelasi Antarwilayah

Indeks Kewaspadaan Covid-19 Tinggi di Semarang-Surabaya, Ganjar: Waspadai Korelasi Antarwilayah
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melambaikan tangan kepada para penyintas Covid-19, yang berada di rumah isolasi, Rumah Dinas Wali Kota Jl Abdurahman Saleh Semarang, Kamis, 25 Juni 2020. (Foto: Istimewa)
Stefy Tenu / IDS Jumat, 3 Juli 2020 | 19:53 WIB

Semarang, Beritasatu.com - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan daerah-daerah yang masuk dalam perhatian dan daerah sekitarnya untuk waspada dan tetap saling menjaga. Di antaranya adalah daerah yang berkorelasi dengan Semarang dan jalur Semarang-Surabaya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh KawalCovid19 per 1 Juli 2020, kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masih merah meliputi Kota Semarang, Kabupaten Demak, dan Kabupaten Jepara. Daerah yang masih berwarna merah ke merah muda meliputi daerah yang berdekatan dengan tiga daerah tersebut, yakni Kendal, Batang, Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, Grobogan, Blora, dan Rembang.

"Jadi kalau kita melihat seperti ini, betul. Rembang, saya minta untuk ada perhatian. Merahnya di Timur, ini kan mulai pelan-pelan ke Barat itu mulai muda. Begitu juga yang di Jawa Barat. Bentuknya sama," kata Ganjar sambil menunjukkan peta indeks kewaspadaan yang diperolehnya, di Puri Gedeh, Jumat (3/7/2020) petang.

Kabupaten Rembang dan Kabupaten Blora merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan Jawa Timur. Keduanya masuk dalam jalur Semarang-Surabaya yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Tuban dan Kabupaten Bojonegoro yang merupakan daerah warna merah dan merah muda.

Sementara Tuban dan Bojonegoro berkorelasi dengan Lamongan, Gresik, dan Kota Surabaya. Gresik dan Kota Surabaya merupakan daerah dengan warna merah tua atau indeks kewaspadaan tinggi yakni level 6.

Sementara daerah-daerah di Jawa Tengah bagian Selatan dan Tengah ke arah Barat warnanya relatif merah muda ke putih. Begitu juga dengan wilayah Solo Raya. Menurut Ganjar hal itu membuktikan bahwa setiap daerah itu memiliki korelasi terkait persebaran Covid-19.

"Ada korelasinya dengan itu. Jadi Rembang ada korelasinya (dengan Jawa Timur), Sragen ada korelasinya, Karanganyar ada korelasinya, dan itu dilaporkan oleh Bupati. Maka kita minta untuk saling menjaga di antara mereka. Jadi ini ada yang musti kita perhatikan. Ini menarik, bisa dijadikan analisis apa yang musti kita siapkan, apa yang musti kita perhatikan sehingga nantinya orang bisa mengerti," imbuhnya.

Hal itu juga yang kemudian menjadi salah satu latar belakang Ganjar membuat enam satuan koordinator wilayah (Satkorwil) di enam eks Karesidenan. Di mana enam Korwil tersebut berfungsi untuk percepatan penanganan Covid-19 di Jawa Tengah. Seperti mempercepat pembaruan data di real time dengan menagih daerah yang kurang cepat melaporkan data. Korwil juga bertugas untuk memantau daerah-daerah yang masuk di masing-masing eks karesidenan.

"Setiap Korwil nanti bisa menagih dan bisa memantau daerahnya. Berapa rapid test sudah berjalan, berapa PCR tesnya, kalau dilihat dari persentase berapa, sudah memenuhi syarat apa belum, terus kemudian tracing-nya bagaimana, apa ada kekurangan atau tidak. Begitu," papar Ganjar.

Dia juga menekankan tentang keterbukaan informasi terkait penanganan Covid-19. Menurutnya, keterbukaan informasi kepada publik menjadi langkah untuk memberikan informasi ter-update dan juga edukasi.

"Kalau saya, tidak perlu ada yang ditutupi. Disampaikan saja. Maka ada yang bilang itu Jawa Tengah tinggi, ya memang. Faktanya memang naik. Maka dari itu butuh adanya perhatian khusus, seperti Semarang, Demak, kemudian Rembang dan Jepara," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com