Apel Siaga PA 212 Libatkan Anak-anak, KPAI Minta Penegak Hukum Beri Sanksi Tegas

Apel Siaga PA 212 Libatkan Anak-anak, KPAI Minta Penegak Hukum Beri Sanksi Tegas
Ilustrasi Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) (Foto: kpai.go.id)
Rully Satriadi / RSAT Minggu, 5 Juli 2020 | 19:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyayangkan masih dilibatkannya anak-anak dalam aksi masa apel siaga yang dilakukan Persaudaraan Alumni (PA) 212 dengan tajuk 'Ganyang Komunis' di Lapangan Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta, Minggu (5/7/2020). Aksi yang sama juga terlihat di wilayah Tangerang.

Pemantauan KPAI anak-anak mulai dari bayi, anak kecil, hingga remaja terlibat dalam aksi di tengah pandemi Covid-19 di wilayah zona merah, yakni DKI Jakarta dan Tangerang.

Menurut Komisioner KPAI, Jasra Putra dari ribuan peserta yang hadir pada aksi massa di dua lokasi itu, 15 sampai 20 persen peserta apel akbar adalah anak-anak. "Artinya sudah kesekian kali anak-anak terlibat aksi tanpa sanksi yang tegas," kata Jasra Putra dalam keterangannya, Minggu (15/7/2020).

Jasra juga menyayangkan keberadaan panitia, orator, dan tokoh acara yang berada dalam keteduhan panggung, sedangkan  anak anak dalam terik panas.

Lebih lanjut, pihaknya menilai situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta harusnya dipatuhi peserta aksi. Apalagi, data anak yang positif Covid-19 per 16 Juni 2020 telah mencapai 3.155 anak dengan rincian umum 0-5 tahun ada 888 anak, dan 2267 di usia 6-17 tahun.

Pemandangan di lapangan juga memperlihatkan ada orang tua yang bermasker,  dan ada yang tidak. Begitupun balita, ada yang bermasker dan tidak.

Bukan hanya itu, dalam aksi massa, ujaran dan perkataan keras terlontar bahkan mengarah kepada kebencian sesama. Hal ini tentu memberi dampak buruk kepada perkembangan jiwa anak-anak ke depan.

"Apalagi kalau terus tumbuh subur di komunitasnya atau aksi-aksi berikutnya, tanpa penjelasan dan pendampingan. Seperti kata menghalalkan sembelih orang, sembelih komunis, menjadi kata terbanyak yang disampaikan pada aksi tersebut. Sehingga paparan kekerasan dalam bentuk verbal tak terhindarkan ditelan anak mentah-mentah," bebernya.

Berdasarkan catatan pihaknya, pada aksi PA 212 sebelumnya, anak-anak juga terlihat merokok dan berbagi hisapan rokok. Dan kejadian yang sama kembali terjadi. "Kejadian yang sama dalam aksi saat ini, anak-anak juga merokok dan berbagi hisapan," kata Jasra.

Secara keseluruhan, pihaknya menyayangkan aksi PA 212 masih terus membiarkan anak-anak terlibat dalam aksi mereka. "Pihaknya berharap para penegak aturan perlindungan anak dapat memberi sanksi tegas, agar dampak risiko, ancaman jiwa masa depan anak-anak Indonesia dapat diselamatkan sejak dini,"ujar Jasra.

KPAI juga meminta anak-anak tidak terus-menerus diikutkan aksi massa, unjuk rasa, dan kampanye politik. "Karena pengalaman buruk yang seharusnya tidak boleh diulang bangsa ini," pungkas Komisioner KPAI bidang Hak Sipil dan Partisipasi Anak itu.

Untuk diketahui, Korps Wanita Indonesia (Kowani) sudah melaporkan kejadian pelibatan anak ke KPAI dalam aksi tolak RUU HIP, di depan Gedung DPR pada Rabu (26/6/2020). Kelompok yang tergabung dalam Aliansi Nasional Anti-Komunis (Anak NKRI) itu beranggotakan di antaranya adalah PA 212, bekas ormas Front Pembela Islam (FPI), dan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF).



Sumber: BeritaSatu.com