Kepala Sekolah ini Punya Solusi Jitu Hadapi Siswa Kurang Mampu

Kepala Sekolah ini Punya Solusi Jitu Hadapi Siswa Kurang Mampu
Ilustrasi siswa SMA. (Foto: Antara)
Maria Fatima Bona / HA Senin, 6 Juli 2020 | 09:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Nyoman Darta harus menghadapi fakta bahwa para siswa di sekolah yang dipimpinnya, SMA Negeri I Bali Mandara, pada umumnya adalah anak dari keluarga miskin, mengalami gizi buruk, anak korban perceraian, dan sejumlah masalah lainnya.

Namun, kondisi tersebut justru menantang nalurinya sebagai pendidik untuk menemukan jalan keluar bagaimana mendidik dan membina mereka, dan akhirnya bisa mendapatkan metode pendidikan unik yang layak menjadi teladan bagi sekolah-sekolah di daerah lainnya.

Kisah perjuangannya itu juga didengar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, yang menyempatkan diri untuk mendengar penuturannya melalui konferensi video belum lama ini.

Kepada Mendikbud, Nyoman memulai kisahnya dengan mengatakan bahwa sekolah tempatnya mengabdi tidak dapat menerapkan pembelajaran normal semestinya.

Karena itu, untuk tiga bulan pertama, kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi para siswa yang secara sosial dan materi tidak seberuntung rekan-rekan mereka di sekolah lain, dan secara intelejensia mereka juga masih agak tertinggal.

Nyoman menuturkan, langkah pertama yang dia lakukan adalah membangkitkan optimisme para siswa baru, tindakan yang sangat krusial karena mereka datang ke sekolah dengan sejumlah beban masalah keluarga dan materi sehingga selalu menatap hari baru dengan suasana muram.

Kepala sekolah mengajak mereka untuk “berani bermimpi”.

“Seluruh siswa kami kumpulkan didampingi oleh para guru pembina, kemudian kami berikan mereka secarik kertas untuk menulis apa cita-citanya. Mereka menulis sambil menangis karena baru pertama berani bermimpi,” ujarnya.

“Tulisan itu kemudian dimasukkan dalam kotak kecil dan disimpan. Itulah yang mereka kejar selama dua atau tiga tahun di sekolah karena kami menggunakan sistem kredit semester,” kata Nyoman.

Mimpi yang telah dituangkan ke secarik kertas itu menjadi motivasi setiap siswa ketika mereka berangkat ke sekolah. Namun, dalam perjalanan para siswa ini kembali terjerat pesimisme akibat kondisi berat yang mereka hadapi setiap hari.

Untuk itu, Nyoman dan para guru hadir menyakinkan para siswa bahwa hambatan apa pun bisa dimusnahkan, dan dia memberi contoh dengan sebuah langkah simbolis yang berdampak besar pada psikologi siswa.

Dia memberi setiap siswa selembar papan tripleks dan mereka diberi instruksi untuk menulis semua hal yang menjadi kelemahan dan hambatan mereka untuk meraih cita-cita.

Setelah itu, tripleks tersebut dibakar bersama dalam api unggun. Filosofi yang ditekankan adalah semua hambatan telah dimusnahkan bersama-sama.

“Lalu kami lanjutkan dengan ‘ikrar api’, yakni api di dada setiap siswa harus selalu hidup meski mereka berasal dari keluarga miskin. Mereka harus yakin bahwa kemiskinan bukan penghalang untuk meraih sukses. Kemudian ikrar kedua, api di setiap temannya harus dijaga ketika ada yang redup, ada yang menangis harus segera didekati untuk dihidupkan kembali,” ujarnya.

Untuk melakukan semua itu, kata Nyoman, dibutuhkan para guru yang tulus, ikhlas dan mencintai setiap muridnya.

“Karena jika hati sudah kita sentuh, saya yakin mereka akan mengikuti setiap pembelajaran dengan ikhlas di manapun diselenggarakan oleh guru,” ujarnya.

Kesabaran dan ketulusan juga dibutuhkan karena IQ dari 80 persen siswa dibawah rata-rata normal, sehingga sistem pembelajaran yang diterapkan untuk tiga bulan awal lebih pada pengenalan seperti dasar perkalian dan pembagian, perkenalan Bahasa Inggris, Ilmu Komputer dan hal lainnya.

Sekolah Ramah Anak
Nyoman adalah satu dari dua kepala sekolah penemu terobosan dalam sistem pendidikan yang berdiskusi dengan Nadiem.

Satu lagi adalah Mariance Wila Dida, Kepala SDN 9 Masohi, Maluku Tengah.

Mariance, yang akrab disapa sebagai Ibu An, menceritakan tentang pengalamannya untuk menerapkan “sekolah ramah anak”.

Setelah mendapat izin dari Kepala Dinas Pendidikan setempat tahun ini, Mariance harus berjuang untuk menyakinkan para guru agar bersedia melangkah bersama mewujudkan konsep tersebut.

“Saya selalu membangun hubungan baik dengan guru-guru sehingga tetap mengedukasikan semua hal-hal baik kepada guru sehingga mereka bisa menerima itu,” ujarnya kepada Nadiem.

Baca juga: Nadiem Luncurkan Guru Penggerak untuk Dukung Transformasi Pendidikan

Ketika tidak semua guru bersedia mendukungnya, Mariance tetap menyertakan mereka semua dalam setiap seminar dan sosialisasi “sekolah ramah anak” sesering mungkin hingga akhirnya mendapat respons yang positif dari para guru.

Dalam konsep ini, kepala sekolah dan para guru harus lebih sabar ketika menghadapi siswa yang berbeda karakter.

Dampaknya pada guru, mereka tidak lelah saat mengajar karena tidak perlu berteriak seperti sebelumnya, tetapi cukup dengan menggunakan berbagai macam tips yang telah dipelajari untuk membangkitkan minat belajar para siswa, yang akhirnya juga membuat para siswa menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan guru.

Sedangkan dampaknya bagi orang tua siswa, mereka akhirnya lebih mudah menerima kenyataan bahwa setiap anak memiliki keunikan tersendiri dan tidak bisa disamakan dengan anak lain.

Nadiem memberikan apresiasinya kepada dua kepala sekolah yang sangat progresif tersebut. Dia mengharapkan, dengan adanya program Guru Penggerak dari Kemdikbud, semakin banyak ditemukan sosok guru hebat seperti Nyoman dan Mariance untuk masa depan pendidikan Indonesia.

Menurut Nadiem, benang merah dari keberhasilan kedua guru adalah niat tulus yang luar biasa untuk mendidik setiap anak tanpa pandang bulu.

“Jadi saya salut dan apresiasi terhadap Ibu An dan Pak Darta, untuk menginspirasi bukan hanya kepada komunitas sekitar sekolah, tapi saya sebagai Menteri jauh lebih semangat melihat aktivitas-aktivitas yang dilakukan Bu An sama Pak Darta,” kata Nadiem dalam dialog tersebut.

Nadiem menuturkan, sebuah perubahan selalu menghadapi resistensi dan tantangan. Apabila tidak diperjuangkan, sebuah perubahan akan sulit tercapai, ujar pendiri aplikasi Gojek tersebut.



Sumber: BeritaSatu.com