Utamakan Murid, Dua Kepala Sekolah Ini Dipuji Nadiem

Utamakan Murid, Dua Kepala Sekolah Ini Dipuji Nadiem
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bersama Kepala Sekolah SDN 9 Masohi Maluku Tengah Mariance Wila Dida dan Kepala Sekolah SMAN 1 Bali Mandara pada webinar peluncuran program Guru Penggerak, Jumat (3/7/2020). (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Senin, 6 Juli 2020 | 11:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - ​Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, seorang kepala sekolah tidak hanya fokus pada urusan administratif sekolah. Melainkan, mereka juga harus memastikan terciptanya budaya sekolah yang berfokus pada murid.

Kepemimpinan sekolah yang mengutamakan peserta didik ini menjadi tujuan dari program Guru Penggerak milik Kemendikbud.
Program Guru Penggerak memberikan pelatihan bagi guru untuk mengasah kepemimpinan pembelajaran mereka. Sebab, para pesertanya diharapkan menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah maupun pelatih program pelatihan guru.

Walaupun program ini baru diluncurkan pada Jumat lalu (3/7/2020), jiwa kepemimpinan yang berorientasi pada murid ini sudah diperlihatkan oleh sejumlah kepala sekolah di Tanah Air.

Baca juga: Nadiem Luncurkan Guru Penggerak untuk Dukung Transformasi Pendidikan

Salah satunya adalah Kepala Sekolah SDN 9 Masohi Maluku Tengah Mariance Wila Dida (Ibu An). Sosok yang akrab disapa An ini telah berhasil menciptakan suasana sekolah yang ramah anak.

Kepada Nadiem, Ibu An mengaku awal mula ia mengalami resistensi ketika ia mencoba melakukan perubahan pada sekolahnya.

“Awalnya, hanya ada tiga orang yang mau melaksanakan sekolah ramah anak. Tetapi, saya tidak mau berhenti di situ. Saya tetap berkoordinasi dengan para guru, diknas maupun fasnas untuk mensosialisasikan pentingnya sekolah ramah anak,” ungkap Ibu An pada webinar peluncuran Guru Penggerak, Jumat lalu (3/7).

Ibu An menuturkan, kerja kerasnya menciptakan sekolah yang ramah anak pun membuahkan hasil. Dirinya sebagai kepala sekolah mulai memahami bagaimana cara menghadapi karakter siswa yang berbeda-beda. Guru-guru di sekolahnya mulai mengutamakan kenyamanan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, dengan tidak menggunakan intimidasi ketika mengajar.

Kepedulian Ibu An terhadap sisi psikologis anak ini menuai apresiasi Mendikbud Nadiem.

“Banyak orang yang tidak menyadari koneksi sekolah yang menyenangkan bagi murid dan pembelajaran. Padahal, memastikan psikologi anak agar mereka merasa aman dan nyaman dapat menimbulkan pertumbuhan pembelajaran yang eksponensial,” jelas Nadiem.

Hal serupa juga dilakukan oleh Nyoman Darta selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Bali Mandara.

Darta menjelaskan, siswa-siswa yang terdaftar di sekolahnya berasal dari keluarga secara ekonomi kurang mampu. Situasi ekonomi yang terpuruk ini berdampak pada rasa percaya diri mereka dalam pembelajaran.

“Untuk itu, langkah pertama adalah mengajak mereka untuk bermimpi. Mereka diberikan secarik kertas untuk menuliskan cita-citanya,” jelas Darta.

Pihak sekolah, lanjutnya, senantiasa memberikan bimbingan akademik bagi siswanya apabila mereka mengalami kesulitan di satu bidang tertentu. Bahkan, para lulusan juga dibantu untuk meneruskan studinya di perguruan tinggi.

“Harapan kami adalah bagaimana dari hal kecil ini, kami bisa membantu mereka memutar status ekonomi keluarganya. Dengan ini, mereka bisa menjadi orang terpandang di desanya dan berimbas pada lingkungan yang lebih besar,” pungkas Darta.

Nadiem pun mengaku kagum terhadap perjuangan Darta. Menurutnya, kepercayaan guru dan pimpinan unit pendidikan terhadap potensi dari setiap anak berperan penting dalam hasil pembelajaran.

“Kalau kita mentalnya sudah menyerah, tidak mungkin bisa tercapai peningkatan kualitas pembelajaran pada anak,” kata Nadiem.

Pada webinar tersebut, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud Iwan Syahril menyatakan tantangan pendidikan terbesar Indonesia adalah peningkatan hasil pembelajaran.

“Untuk itu, orientasi program Guru Penggerak adalah bagaimana menciptakan pembelajaran yang berpusat pada murid, sehingga berdampak pada hasil belajar. Mereka pun diharapkan menjadi teladan dan bisa menggerakkan komunitas mereka dan guru lainnya,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com