Sebulan, Sumut Diperkirakan Kehilangan Pemasukan Rp 175 Miliar dari Sektor Pariwisata

Sebulan, Sumut Diperkirakan Kehilangan Pemasukan Rp 175 Miliar dari Sektor Pariwisata
Danau Toba, Sumatera Utara, satu dari lima Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Prioritas. (Foto: Kempupera)
Arnold H Sianturi / JEM Senin, 6 Juli 2020 | 11:57 WIB

Medan, Beritasatu.com - Sektor pariwisata di Sumatera Utara (Sumut) mengalami "terjun bebas" karena nihilnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebagai dampak dari pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hanya satu orang wisman yang datang ke Sumut untuk berwisata pada Mei 2020.

Menurut pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, terjadi penurunan penurunan jumlah kunjungan wisman yang hampir mencapai 100 persen. Kondisi ini juga terjadi pada bulan Juni mengingat penerbangan dari berbagai negara belum dibuka, dan lokasi pariwisata di daerah ini, pada Juni 2020, belum new normal.

Dibandingkan dengan bulan Mei 2019, kunjungan wisman ke Sumut mencapai 16.184 orang. Berdasarkan data yang dimiliki Gunawan, kisaran uang yang dikeluarkan (dbelanjakan) satu orang wisatawan sekitat 500 - 750 dolar AS, atau setara Rp 7,3 juta sampai Rp 10,8 juta.

"Jika melihat data jumlah kunjungan wisman ke Sumut pada Mei 2019 tersebut dengan kalkulasi belanja wisman, maka daerah ini kehilangan pemasukan dari kunjungan wisman senilai Rp 118 miliar hingga Rp 175 miliar pada Mei 2020. Biasanya, kunjungan setiap tahun meningkat," ujar Gunawan Benjamin di Medan, Senin (6/7/2020).

Menurutnya, kehilangan devisa dengan jumlah nilai tidak sedikit itu belum termasuk dari wisatawan domestik yang jauh hari sebelumnya juga banyak berwisata ke daerah tersebut. Kerugian ini dipastikan semakin besar jika jumlah korban akibat pandemi Covid-19 melonjak tajam.

"Untuk pemulihan sektor pariwisata memang membutuhkan waktu. Ini berbeda dengan sektor lainnya. Alasannya, negara lain juga belum tentu memasuki fase pemulihan dari pandemi corona. Selain itu, daya beli masyarakat dan ekonomi secara global, belum tentu secepatnya pulih," katanya.

Menurutnya, sektor pariwisata bakal meningkat secara signifikan bila aktivitas perekonomian masyarakat kembali menggeliat. Jika daya beli masyarakat dunia sudah membaik maka secara otomatis baik untuk sektor pariwisata, termasuk bagi mereka yang datang untuk urusan bisnis.

"Sebaliknya, jika pandemi Covid-19 ini semakin bertambah parah saat new normal mendatang, maka keterpurukan pada sektor pariwisata ini bakal semakin bertambah buruk. Daerah ini bakal kehilangan devisa dalam jumlah lebih besar lagi. Karena itu, perlu strategi matang menangani pandemi," sebutnya.  



Sumber: BeritaSatu.com