Pendidikan di Pedalaman Papua (1)

Mendidik Anak Papua dengan Hati

Mendidik Anak Papua dengan Hati
Daniel Yohanes Menufandu (kanan) dan Yusuf Esau Tunu (kiri) di tengah-tengah siswa Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Tumdungbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua. (Foto: SP/Aditya L Djono)
Aditya L Djono / ALD Selasa, 7 Juli 2020 | 11:38 WIB

Menjadi pendidik di pedalaman Papua rasa-rasanya bukan menjadi pilihan utama mayoritas guru di negeri ini. Bayangan hidup susah di wilayah terpencil, fasilitas yang sangat minim, dan sulitnya berkomunikasi, membuat mereka membuang jauh-jauh bayangan mengabdikan diri di wilayah ujung timur Indonesia itu.

Inilah kendala utama pendidikan nasional. Luasnya wilayah geografis dan belum meratanya infrastruktur, menciptakan ketimpangan pendidikan antarwilayah. Akibatnya, anak-anak Papua masih sulit mengakses pendidikan, akibatnya kesempatan untuk meraih cita-cita tinggi seolah mimpi.

Menyadari pendidikan menjadi kunci utama eskalasi sosial dan ekonomi, Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua) memberi perhatian besar pada pendidikan anak-anak di pedalaman Papua. Upaya yang dilakukan adalah mendirikan Sekolah Lentera Harapan (SLH), di sejumlah wilayah pedalaman berikut fasilitas yang dibutuhkan.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua) James Riady (bertopi) bersama Aileen Hambali Riady, berdialog dengan siswa Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Tumdungbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Namun, itu tidaklah cukup. Hal paling esensial adalah mengirim guru-guru terbaik untuk mendidik anak-anak pedalaman Papua. Tanpa guru, pendidikan tidak akan berjalan.

Menjadi guru di pedalaman Papua tak cukup bermodal keahlian mengajar. Mengabdikan diri di pedalaman dan berhadapan dengan anak-anak yang tertinggal, membutuhkan panggilan hati yang luar biasa.

Panggilan hati itulah yang dimiliki para guru SLH yang diterjunkan ke pedalaman Papua, yang rata-rata berusia muda, di bawah 30 tahun. Daniel Yohanes Menufandu (25) adalah salah satunya. Dia dipercaya menjadi kepala sekolah di SLH di Tumdungbon. Tumdungbon merupakan wilayah terpencil di Desa Ater, Distrik Kawor, Kabupaten Pegunungan Bintang, yang berjarak 1,5 jam penerbangan dengan pesawat perintis dari Bandar Sentani.

SLH di Tumdungbon baru dibuka pada April 2019, dan menjadi sekolah terbaru yang dibuka YPHP di pedalaman Papua. YPHP sendiri memulai karya pendidikannya di Papua sejak 2013, dan kini telah memiliki sekolah di 8 wilayah pedalaman.

Bagi Daniel, menjadi guru di pedalaman Papua adalah panggilan hati. Sejak lulus dari Teachers College Universitas Pelita Harapan (UPH), pria asal Biak, Papua Barat ini langsung ditempatkan di SLH Mamit, Kabupaten Tolikara, yang berjarak satu jam penerbangan dari Sentani. Sekolah itu memiliki dua kelas dengan 18 siswa.

Orang tua Daniel yang adalah pendeta, sempat menentang keinginan Daniel yang bersikeras tetap mengajar anak-anak di pedalaman Papua. Sikap orang tuanya itu bukan tanpa alasan. Daniel pernah mendapat kekerasan fisik dari orang tua murid saat masih mengajar di Mamit. Saat itu dia hendak menolong siswanya yang tiba-tiba menangis. Lantaran tidak memahami bahasa setempat, muncul kesalahpahaman dengan orang tua anak.

“Karena kecelakaan itu, orang tua melarang saya. Tetapi saya bilang harus kembali mengajar. Mengapa? Karena Tuhan juga mengampuni. Saya kembali ke Mamit, bertemu dengan orang tua murid itu, saya pegang tangan dia, dan semua bisa selesai,” tuturnya saat ditemui di Tumdungbon beberapa waktu lalu sebelum wabah Covid-19 menyerang Indonesia.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua), James Riady dan rombongan disambut guru dan siswa Sekolah Lentera Harapan (SLH) Danowage, Kabupaten Boven Digul, Papua.

Daniel menganggap anak Papua adalah anak-anak Tuhan sama seperti saudara-saudaranya di wilayah lain. “Saya siap ditempatkan di mana pun di Papua. Saya datang untuk mengajar adik-adik saya. Karena banyak anak Papua yang pintar. Tetapi mengapa banyak korupsi. Ada dana otsus (otonomi khusus) yang besar, tapi anak Papua tidak merasakan untuk pendidikan,” tambahnya.

Bagi Daniel, mengajar anak-anak tidak cukup hanya dengan pengetahuan. Aspek spiritual siswa juga menjadi hal yang harus diperhatikan. “Sebelum kelas dimulai, selalu ada renungan firman Tuhan sebagai dasar pendidikan. Sisi spiritual anak juga harus dibangun, terutama agar semua anak menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini berasal dari Tuhan,” jelasnya.

Di Tumdungbon, Daniel mengajar bersama Yusuf Esau Tunu (23). Yusuf, pria asal SoE, NTT ini adalah lulusan Teachers School UPH tahun 2019. Sama dengan Daniel, Yusuf juga terpanggil mengajar di pedalaman Papua. “Sejak awal saya memang ingin menjadi guru supaya bisa berbagi dengan anak-anak. Pengetahuan yang baik perlu bagi anak-anak agar mereka bisa membantu bangsa ini,” ujarnya.

Daniel dan Yusuf merasa senang melihat semangat belajar anak-anak pedalaman dan dukungan orang tua mereka. Ada seorang siswa, Anelus, tempat tinggalnya paling jauh dari sekolah, yakni dua jam perjalanan berjalan kaki. “Demi anaknya, orang tua Anelus membangun rumah di dekat sekolah,” ungkap Daniel.

Jiwa yang Berharga
Panggilan hati yang sama juga melatari guru-guru lulusan Teachers School UPH yang ditempatkan di SLH Danowage, Kabupaten Boven Digul. Di sini selain SD juga ada TK. “Anak-anak ini adalah jiwa-jiwa yang juga berharga di mata Tuhan,” ujar Mery Kristina (27) yang dipercaya menjadi kepala SLH Danowage.

Meskipun hanya memiliki 50 siswa, Mery percaya penyertaan Tuhan dalam pengabdiannya di Danowage. “Tuhan tetap bekerja meskipun siswa di sini sedikit. Bahkan satu anak pun berharga di mata Tuhan,” tuturnya.

Bersama delapan guru lainnya, Mery tidak menjadikan jumlah siswa sebagai ukuran pengabdian. “Berapa pun siswa, kami harus tetap melayani mereka. Kami harus memberdayakan anak-anak Papua dengan nilai-nilai Kristiani,” katanya.

Murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) Danowage, Kabupaten Boven Digul, Papua, bernyanyi bersama di halaman.

Dia mengungkapkan, kampung-kampung di sekitar SLH tidak memiliki sekolah sama sekali. Oleh karenanya, sekolah itu juga dilengkapi dengan asrama untuk tempat tinggal siswa. Keberadaan asrama juga diperlukan lantaran adat warga suku Korowai yang nomaden atau berpindah-pindah tempat. “Mereka bisa tinggal di hutan 2-3 bulan, sebelum berpindah ke tempat lain,” jelasnya.

Sedangkan, Edo Maling, guru SLH Danowage asal Yahukimo, Papua, mengakui, keinginannya menjadi guru lantaran tidak banyak yang mau bekerja di pedalaman. “Pendidikan anak-anak Papua, semestinya dilakukan oleh orang asli Papua. Tetapi ada kendala, kadang-kadang mereka tidak menghargai sesama orang Papua,” ujarnya.

Guru-guru di Danowage juga tergerak oleh semangat anak-anak pedalaman untuk belajar. Seperti dituturkan Gita Tumtuma, guru asal Biak, ada siswanya, bernama Edo, yang berasal dari kampung yang jauhnya 2 hari perjalanan berjalan kaki. “Di kampungnya tidak ada sekolah. Sang anak tidak bisa membaca dan menulis. Dia diantar orang tuanya ke sekolah, bahkan pernah terpaksa bermalam di hutan,” ungkapnya.

Anak tersebut akhirnya tinggal di asrama. “Ada penginjil yang membawa ayahnya ke sini untuk melihat Edo. Sang ayah bahagia kini anaknya sudah bisa belajar dan berharap kelak Edo bisa membantu di kampungnya,” ujar Gita.

Karya Tuhan
Melihat semangat mengajar lulusan Teachers School UPH, pendiri YPHPapua James Riady menyadari, bahwa ini semua adalah karya Tuhan melalui pelayanan para guru di pedalaman. “Mengajar di pedalaman Papua adalah pelayanan dengan hati. Dalam diri mereka tertanam semangat misi. Sebab, setiap jiwa berharga di mata Tuhan,” ujarnya.

James mengungkapkan, pelayanan pendidikan oleh YPHPapua diawali di Mamit pada 2013. “Berawal dari Mamit, terkonfirmasi jalan Tuhan untuk terus melakukan pelayanan bagi anak-anak di pedalaman Papua,” tuturnya.

Menurutnya, semua orang harus ambil bagian membangun Papua, antara lain melalui pendidikan. “Tapi semua ini tidak akan terjadi tanpa panggilan Tuhan,” katanya.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua) James Riady disambut murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) Danowage, Kabupaten Boven Digul.

Dalam menjalankan misi pendidikan, YPHPapua bekerja sama dengan misionaris. “Bahkan misionaris itu yang membangun lapangan udara sehingga lebih mudah menjangkau wilayah di pedalaman. Tugas kita membangun manusia yang mengenal Tuhan,” ujar James.

Menurut James, apa yang dilakukan YPHPapua adalah bentuk nyata merespons kasih Tuhan. “Tuhan mengasihi kita semua. Kewajiban kita untuk merespons kasih tersebut. Kita bersyukur bisa melahirkan guru-guru yang memiliki hati mendidik anak-anak Papua,” tuturnya.

Hal senada disampaikan anggota Dewan YPHPapua Aileen Hambali Riady. “Di Papua, Tuhan menunjukkan banyak gunung (wilayah pedalaman) yang harus kita layani,” katanya.

“Di Mamit, kami mulai dari hal yang sederhana. Kami tidak tahu bagaimana mencari murid, juga apakah nanti guru-gurunya bersedia ditempatkan di sini. Tetapi faktanya Tuhan menunjukkan jalan, sehingga semuanya kini berkembang,” tuturnya.



Sumber: BeritaSatu.com