Pascakerusuhan di Madina, Ratusan Warga Masih Sembunyi di Hutan

Pascakerusuhan di Madina, Ratusan Warga Masih Sembunyi di Hutan
Seratus personel atau Satuan Setingkat Kompi (SSK) Brimob Batalyon C dikerahkan untuk pengamanan di Desa Mompang Julu, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, Kamis 2 Juli 2020. (Foto: handout)
Arnold H Sianturi / JEM Selasa, 7 Juli 2020 | 12:14 WIB

Madina, Beritasatu.com - Ratusan warga masih bersembunyi di dalam kawasan hutan pascakerusuhan dengan membakar dua unit mobil dan melukai enam polisi di Desa Mompang Julu, Kecamatan Penyabungan Utara, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara (Sumut), Senin (29/6/2020).

Hal ini diketahui Beritasatu.com berdasarkan keterangan dari sejumlah ibu rumah tangga (IRT) warga Desa Mompang Julu. Mereka menyatakan suaminya meninggalkan desa karena merasa takut akan ditangkap polisi setelah kejadian kerusuhan. Di desa itu, sedikitnya ada 360 kepala keluarga (KK).

"Sebelum adanya penangakapan, warga Desa Mompang Julu sudah mendengar kabar akan adanya penyisiran oleh polisi. Bapak - bapak di sini dan pemuda yang sebelumnya ikut berdemo langsung pergi meninggalkan rumah. Mereka bersembunyi di dalam hutan," ujar seorang IRT, Dewi (30), Selasa (7/7/2020).

Dewi mengaku tidak mengetahui lokasi persis persembunyian suaminya. Dia juga tidak dapat memastikan suaminya, apakah terlibat dalam pembakaran dua unit mobil, yang salah satunya merupakan milik Wakapolres Madina, Kompol Elizama Zaluku. Saat kejadian, lokasi kejadian sangat kacau.

Hal senada juga dikemukakan Khadijah, seorang nenek berusia 60 tahun, yang mengaku masih trauma setelah melihat kerusuhan tersebut. Dirinya semakin bertambah takut karena melihat banyak polisi yang memasuki desa tersebut.

"Saya tidak berani meninggalkan rumah karena takut ditangkap. Kalau orang - orang sini bilang, semua warga desa mau ditangkap. Tapi saya tidak ditangkap polisi. Mereka mungkin mengetahui bahwa saya tidak ikut terlibat kerusuhan itu," kata Khadizah.

Kapolres Madina, AKBP Horas Tua Silalahi, yang turun langsung ke Desa Mompang Julu, mengimbau masyarakat supaya tidak takut saat melihat kehadiran polisi. Dirinya datang bersama anak buahnya untuk memulihkan situasi agar kembali normal.

"Saya jamin anggota tidak akan sembarangan dalam menangkap orang, apalagi yang tidak bersalah. Jadi saya minta masyarakat supaya tidak perlu takut. Kami hadir untuk melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat, dan bukan menakut - nakuti masyarakat," katanya.

Disebutkan, polisi melakukan penangkapan hanya terhadap orang - orang yang terlibat melakukan pelemparan batu sehingga melukai enam orang polisi. Selain itu, polisi akan memproses hukum pelaku pembakaran dua unit mobil dan satu sepedamotor.

"Sudah ada 19 orang yang ditangkap. Mereka masih diperiksa untuk pengembangan lebih lanjut. Mereka adalah orang - orang yang terpantau terlibat melakukan pembakaran mobil dan pelemparan batu saat kerusuhan. Termasuk dua orang anak di bawah umur dan seorang wanita," sebutnya.

Bupati Madina, Dahlan Hasan Nasution menyampaikan, kerusuhan yang terjadi harus dijadikan pelajaran supaya tidak terjadi lagi untuk kemudian hari. Semua pihak juga harus mengambil peranan dalam memulihkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

"Ini negara hukum. Polisi sudah profeaional menjalankan tugas. Sehingga, mereka yang terlibat melakukan pelanggaran hukum harus diproses sesuai perbuatannya. Bagi warga yang tidak terlibat maka sebaiknya pulang ke rumah masing - masing," sebutnya.

Menurutnya, polisi tidak akan melakukan penangkapan apalagi penahanan terhadap orang yang tidak terlibat dalam pembakaran mobil dan penyerangan yang melukai enam orang polisi saat kerusuhan.

 



Sumber: BeritaSatu.com