Mahasiswa Sumbang 12,2 % PDRB, DIY Minta Rencana Kuliah Daring Permanen Dikaji Ulang

Mahasiswa Sumbang 12,2 % PDRB, DIY Minta Rencana Kuliah Daring Permanen Dikaji Ulang
Penandatangan Perjanjian Kerja Sama Sinergi Pariwisata Ngayogyakarta antara Dinas Pariwisata DIY dan Bank Indonesia DIY sebagai dasar implementasi strategi percepatan pemulihan pariwisata DIY menuju new normal, sekaligus penyerahan bantuan alat kesehatan dalam rangka pengkondisian tujuh destinasi wisata dan 1 glamping di DIY oleh Kepala Perwakilan BI Yogyakarta Hilman Tisnawan kepada Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo disaksiakan Sekda DIY, Kadarmanta Baskara Aji, Rabu, 8 Juli 2020. (Foto: Suara Pembaruan / Fuska Sani Evani)
Fuska Sani Evani / JEM Rabu, 8 Juli 2020 | 19:56 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Kontribusi pendidikan tinggi di DI Yogyakarta pada pertumbuhan ekonomi cukup signifikan, karena itu Pemda DIY didukung Bank Indonesia (BI) Yogyakarta meminta agar perkuliahan secara daring yang akan dipermanenkan, dipertimbangkan kembali.

Kepala Perwakilan BI Yogyakarta Hilman Tisnawan mengatakan, berdasarkan hasil survei dan kajian di 2016 dan 2020 diketahui terdapat peningkatan pengeluaran biaya mahasiswa di DIY. Pada tahun 2020, pengeluaran biaya hidup dan biaya pendidikan mahasiswa di DIY mencapai Rp 17,2 triliun per tahun atau setara dengan 12,2% dari PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) DIY. Sementara, pada 2016 kontribusi pengeluaran biaya mahasiswa sebesar 10,4% dari PDRB DIY.

Pengeluaran biaya hidup mahasiswa DIY melonjak hampir dua kali lipat dalam 4 tahun terakhir. Pada 2020, rata-rata biaya hidup mahasiswa (Program Studi Diploma dan Sarjana) di DIY mencapai Rp 2,92 juta perbulan. Pengeluaran mahasiswa tersebut bahkan lebih tinggi dibanding Upah Minimum Provinsi DIY 2020 sebesar Rp 1,70 juta.

“Dengan demikian, rencana sistem pembelajaran daring yang akan dipermanenkan saya minta dikaji secara afirmatif, tetapi daerah juga tidak bisa memotong kebijakan pusat, namun sebetulnya kampus juga tetap menciptakan koridor, atau ruang-ruang wajib tatap muka,karena kehadiran untukejonomi DIY menerbitkan efek yang luar biasa bagi ejonomi masyarkaat,” katanya, disela-sela "Bejo Talk- Kajian Pariwisata New Normal dan Tandatangani Perjanjian Kerjasama Percepatan Pemulihan Pariwisata DIY New Normal", pada Rabu (8/7/2020) di Hotel Inna Garuda Yogyakarta.

Dikatakan, konsumsi mahasiswa di DIY mulai merambah ke kebutuhan sekunder dan tersier. Pada saat ini komponen makan dan minum masih menjadi kebutuhan utama dengan porsi 30,2% dari pengeluaran mahasiswa. Selanjutnya terdapat tambahan pengeluaran untuk gaya hidup (lifestyle) yang mencapai 24,6% dari pengeluaran mahasiswa dan sewa pondokan dengan porsi 20,1%.

Integrasi pendidikan dan pariwisata di DIY semakin kuat, yang ditunjukkan dengan komponen pengeluaran lifestyle yang melonjak menjadi terbesar kedua. Daya tarik mahasiswa untuk kuliah di DIY tidak hanya karena kualitas pendidikan dan biaya yang murah, namun juga didorong oleh ragam rekreasi dan hiburan yang lengkap. Pengeluaran mahasiswa di DIY untuk kebutuhan pokok relatif terjangkau, sehingga mahasiswa masih memiliki alokasi pengeluaran untuk kebutuhan lifestyle.

Senada dengan Hilman Tisnawan, Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo juga mengungkapkan bahwa kehadiran mahasiswa luar di DIY sangat berpengaruh pada ekonomi rakyat Yogya, terutama pada sektor hiburan dan lifestyle. “Ini tentunnya berhubungan dengan pariwisata, benar harus dilakukan kajian afirmatif untuk perguruan tinggi di DIY, bagaimana mengembalikan atau tidak lagi tatap layar tapi tatap muka, saya kita sambut dengan baik, bahkan pada 2019, wisatawan yang masuk ke DIY didominasi milenial,” katanya.

Strategi Pemulihan

Untuk bisa kembali seperti sebelum terjadinya pandemi Covid-19 memang tidak bisa langsung. Singgih Raharjo menyatakan, persiapan destinasi sudah dimulai sejak adanya pandemi Covid-19 hingga Juli di masa tanggap darurat selesai, termasuk didalamnya penyiapan sarana dan prasarana, SDM dan SOP bagi pelaku wisata.

"Payung yang kemudian harus ada berkaitan dengan sanksi adalah bupati atau walikota, karena kewenangan itu ada di sana," tuturnya.

Namun saat ini, Singgih membenarkan bahwa DIY memang tidak bisa berharap pada wisatawan manca negara."Sekarang ini cukup wislok atau wisatawan lokal atau bahasa kerennya staycation itu adalah orang Yogya yang berwisata di Yogya sehingga itu dulu yang kita gerakkan," katanya.

"Untuk target wisman belum begitu yakin untuk tahun ini dan untuk tahun depan pun kita masih melihat situasi. Kita juga lihat situasi di luar negeri juga masih cukup naik turun. Kita menggerakkan untuk di Jogja dulu," ujarnya.

Selain itu, wisatawan saat ini juga dimudahkan melalui aplikasi Visiting Jogja yang sudah dapat di download melalui AppStore maupun Playstore. Wisatawan dapat melihat data pariwisata di DIY, melakukan reservasi tiket secara online dan pembayaran non tunai.

Ditambahkan Kepala BI DIY, pariwisata jadi engine of growth utama perekonomian DIY, atau berkontribusi pada perekonomian DIY sebesar 55,37%.

Selain itu, sifatnya yang memberikan multiplier effect ternyata memberikan dampak hingga 104,9 kali lipat. Artinya peningkatan/penurunan permintaan akhir pada sektor pariwisata DIY sebesar Rp1 miliar, maka output perekonomian akan meningkat/menurun sebesar Rp104,9miliar .

Sehingga, penurunan kinerja sektor pariwisata selama masa pandemi Covid-19 berdampak secara signifikan kepada perekonomian DIY terutama sektor yang terhubung langsung dengan pariwisata seperti perhotelan, industri kuliner, transportasi, perdagangan, destinasi wisata, bahkan sektor konsumsi rumah tangga.

Dalam kajian “Strategi Pemulihan Pariwisata DIY New Normal”, bekerja sama dengan Dinas Pariwisata DIY dan Pusat Studi Ekonomi dan Industri Skala Kecil, UPN Veteran menunjukkan, telah terjadi perubahan preferensi wisatawan terhadap pariwisata di DIY.

Pada fase new normal, wisatawan lebih mengutamakan faktor higienitas baik pada akomodasi, tempat wisata dan amenitasnya, serta tempat kuliner. Selain itu, wisatawan juga menjadi lebih selektif dan mementingkan atraksi yang berkualitas dan amenitas yang lengkap. Dengan melihat perubahan preferensi tersebut dan jika bercermin pada kondisi sebelum COVID-19, terdapat gap di industri pariwisata DIY yang perlu ditingkatkan dan diperbaiki demi memenuhi kebutuhan wisatawan dan menciptakan pariwisata DIY yang resilient, competitive dan inclusive.  

 



Sumber: BeritaSatu.com