Pendidikan di Pedalaman Papua (3-Habis)

Beri Kesempatan Anak Papua Maju

Beri Kesempatan Anak Papua Maju
Murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Mokndoma, Kabupaten Puncak Jaya, Papua, menyanyi bersama. (Foto: SP/Aditya L Djono)
Aditya L Djono / ALD Rabu, 8 Juli 2020 | 23:02 WIB

Anak-anak adalah harapan bangsa. Demikian pula anak-anak Papua adalah harapan masa depan bagi Bumi Cenderawasih dan bagi Indonesia.

Itulah yang ada di benak para guru-guru muda yang mengabdikan diri membantu anak-anak Papua di pedalaman memperoleh pendidikan. “Kami berada di sini untuk mendukung anak-anak Papua agar mereka memperoleh kesempatan untuk bersekolah, kesempatan untuk maju. Masa depan Papua ada di tangan anak-anak Papua sendiri,” ujar Andi Rumbrar (23), guru Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Mokndoma, Kabupaten Puncak Jaya.

Andi Rumbrar bersama murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Mokndoma, Kabupaten Puncak Jaya, Papua

SLH di Mokndoma belum lama berdiri. Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua) mendirikannya setahun silam. Saat ini, sekolah itu baru memiliki dua kelas, yakni TK dan kelas 1.

Ruang kelasnya cukup sederhana. Terdiri dari sebuah bangunan panggung memanjang seukuran satu setengah kali lapangan bola voli.

Andi, kelahiran Biak, Papua Barat, mengaku terpanggil menjadi guru di pedalaman. Panggilan itu tak lepas dari masa lalunya yang pernah dilarang ikut ujian lantaran orang tuanya tidak memiliki biaya untuk membayar uang sekolah. “Saya tidak boleh ikut ujian dan harus hormat bendera selama teman-teman saya yang lain ujian,” tuturnya mengenang pengalamannya saat duduk di kelas 2 SD.

Dari pengalaman tersebut, Andi bercita-cita menjadi guru. Cita-citanya terwujud setelah dia menerima beasiswa dari Teachers School Universitas Pelita Harapan (UPH). Lulus dari kuliah, dia langsung terlibat dengan YPHPapua dan ditempatkan di SLH di Mamit, Distrik Kembu, Kabupaten Tolikara.

SLH Mamit adalah sekolah pertama yang didirikan YPHPapua tujuh tahun silam. Hingga saat ini, YPHPapua menaungi delapan SLH yang tersebar di delapan wilayah pedalaman Papua, yakni di Mamit, Daboto, Karubaga, Korupun, Nalca, Danowage, Mokndoma, dan Tumdungbon.

Dua tahun di Mamit, Andi dikirim ke Mokndoma. Wilayah ini mayoritas warganya berasal dari Suku Wano.

“Ini jalan Tuhan,” ungkap Andi.

“Saya temukan ketulusan orang tua dan anak-anak di sini. Mereka bersuka cita dan saling mengasihi. Anak-anak sangat bersemangat untuk belajar. Ini hal yang saya temui, yang tidak bisa diukur dengan uang,” katanya.

Andi pun bertekad untuk mengabdikan dirinya mendidik saudara-saudaranya di Tanah Papua melalui YPHPapua. “Saya mau memberikan waktu saya, 20-30 tahun ke depan. Saya ingin melihat orang-orang di pedalaman Papua cerdas, maju, dan menjadi pemimpin,” ujarnya.

Tawaran untuk berpindah tugas keluar dari pedalaman, ditolaknya. “Saya pernah memiliki pilihan, ketika ada kerabat yang menawari saya pindah tugas ke tempat lain. Tapi ini soal hati,” tegasnya.

Pendiri Yayasan Pendidikan Harapan Papua (YPHPapua) James Riady (berdiri kanan) menyapa orang tua dan murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) di Mokndoma, Kabupaten Puncak Jaya, Papua

Di Mokndoma, Andi tidak sendiri. Dia mengajar bersama Paskah Mirino, yang juga asal Biak dan sama-sama lulusan Teachers School UPH.

Paskah semula ingin menjadi perawat. Tapi perjumpaannya dengan seorang kepala suku di Papua, menumbuhkan panggilan dalam hatinya untuk menjadi guru.

“Saya terinspirasi dari seorang kepala suku di pedalaman. Dia minta ada guru untuk mengajar anak-anak di pedalaman,” ujarnya.

Sama seperti para guru SLH lainnya, Paskah juga rindu melihat anak-anak Papua maju seperti anak-anak di daerah lain. “Hanya dengan pendidikan, hanya lewat sekolah, muncul kesempatan untuk maju,” tuturnya.

Selain Andi dan Paskah, di Mokndoma tinggal pula dua misionaris. Salah satunya Rebecca. Wanita asal Kanada ini sudah terpanggil menjadi misionaris sejak berusia 12 tahun.

Dia sudah tinggal Papua sejak 14 tahun silam. Sebelum ke Papua, dia sempat menjalankan misi di Papua Nugini. “Setiba di Papua, saya langsung belajar bahasa lokal,” ujarnya.

Tinggal di Pedalaman
Pengalaman bertahun-tahun menjadi guru dan tinggal di pedalaman Papua, lambat laun menumbuhkan kecintaan pada wilayah pegunungan yang dikelilingi hijaunya belantara. Wilayah yang terisolasi dan minim infrastruktur, menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali.

Beta Mualiman Laoly, pria asal Nias, akhirnya memilih untuk tinggal di Desa Daboto, Kabupaten Intan Jaya, bersama istri dan anaknya. Beta termasuk salah satu guru senior di SLH. Dia pernah menjadi kepala di SLH di Mamit pada awal sekolah itu berdiri. Kini dia dipercaya YPHPapua memimpin SLH Daboto.

Beta Mualiman Laoly, kepala Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Daboto, Kabupaten Intan Jaya, memutuskan menetap bersama istri dan anaknya di Daboto.

Anaknya yang berusia dua tahun tampak akrab bermain dengan anak-anak Papua lainnya. Senyum dan tertawa menghiasi wajah bocah mungil tersebut.

“Saya bersuka cita di sini, melihat anak-anak senang. Saya suka kehidupan di Daboto,” ujarnya.

Murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Daboto, Kabupaten Intan Jaya, bermain bola di lapangan ruang tertutup yang ada di sekolah mereka.

Di Daboto berdiam satu keluarga misionaris. Pasangan Steve dan Caroline sudah hampir dua dekade tinggal di Daboto. Mereka pula yang berinisiatif membangun lapangan terbang perintis, memanfaatkan tanah datar di sisi bukit.

Lapangan terbang mereka bangun selama delapan tahun bersama warga setempat. Semua dikerjakan dengan tangan. Memecah batu untuk mengeraskan tanah dilakukan tanpa bantuan alat.

Pagar dari potongan batang-batang pohon mengelilingi satu sisi landasan, menjaga agar jangan sampai ada babi hutan yang berkeliaran di sekitar landas pacu sepanjang tak lebih dari 500 meter. Ujung lain tak dipasang pagar, karena menjulang tebing dan jurang.

Bersama misionaris, guru-guru SLH bahu-membahu memajukan warga Papua di pedalaman. Mereka telah menyatu dengan kehidupan di pedalaman yang dingin.

Murid-murid Sekolah Lentera Harapan (SLH) di pedalaman Daboto, Kabupaten Intan Jaya, belajar berhitung.

SLH di Daboto tergolong lengkap. Selain bangunan kelas sederhana, sudah dibangun fasilitas olahraga ruang tertutup, layaknya lapangan futsal di kota-kota besar. Di dalamnya, murid-murid sekolah dan anak-anak di Daboto bisa bermain bola.

“Sebelum kami hadir, sebelum misionaris hadir, Tuhan sudah jaga masyarakat di sini,” sambung Beta.



Sumber: BeritaSatu.com