Kasus TPPI

Pengembalian Aset Honggo Wendratno Capai Rp 35,8 T

Pengembalian Aset Honggo Wendratno Capai Rp 35,8 T
Pengumuman Honggo Wendratno masuk daftar pencarian orang (DPO) oleh Polri. (Foto: Istimewa)
Farouk Arnaz / AB Kamis, 9 Juli 2020 | 11:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Upaya pengembalian kerugian negara dari korupsi dan pencucian uang dalam kasus penjualan kondensat yang melibatkan pejabat SKK Migas, Kementerian ESDM, dan PT Trans Pasific Petrochemical Indotama (TPPI), menunjukkan kemajuan. Pengembalian kerugian negara dari aset salah satu tersangka kasus tersebut, yakni Honggo Wendratno mencapai Rp 35,8 triliun.

Dalam kasus tersebut, negara mengalami kerugian sekitar Rp 37 triliun, sehingga dengan total pengembalian Rp 35,8 triliun, masih sekitar Rp 1,3 triliun kerugian negara yang beluk kembali. 

“Awalnya (pengembalian kerugian, Red) dari rekening yang diblokir dan sudah disetor ke negara Rp 35 trriliun, lalu ditambah kilang TPPI disita. Kilang itu nilainya Rp 700 miliar dan ditambah Rp 97 miliar yang diekspose Kejaksaan. Jadi dari kasus ini kita sudah mendapat Rp 35,8 triliun,” kata sumber Beritasatu.com, Rabu (8/7/2020).

Tambahan pengembalian Rp 97 miliar itu berasal dari keuntungan kilang TPPI di Tuban. Kilang itu bisa memperoleh penghasilan sekitar Rp 10 miliar per bulan sebelum Covid-19 melanda.

Ketika dasar penghitungan harga kilang Rp 700 miliar, sumber itu menjawab,"Honggo mengajukan kredit ke sebuah bank swasta sebesar US$ 50 juta (sekitar Rp 700 miliar) untuk membangun kilang Tuban.

Seperti diberitakan, kasus ini bermula dari penunjukan langsung oleh BP Migas kepada PT TPPI pada Oktober 2008 untuk penjualan kondensat jatah negara dalam kurun tahun 2009-2010. Penunjukan langsung ini menyalahi Peraturan BP Migas Nomor KPTS-20/BP00000/2003-50 tentang Pedoman Tata Kerja Penunjukan Penjual Minyak Mentah/Kondensat Bagian Negara dan Keputusan Kepala BP Migas Nomor KPTS-24/BP00000/2003-50 tentang Pembentukan Tim Penunjukan Penjualan Minyak Mentah Bagian Negara.

Akhirnya Honggo, mantan Deputi Ekonomi dan Pemasaran BP Migas Djoko Harsono, dan mantan Kepala BP Migas Raden Priyono, menjadi tersangka perkara ini. BP Migas kini berganti nama menjadi SKK Migas.

Berdasarkan putusan pengadilan secara in absentia, Honggo dihukum 16 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar subsider enam bulan kurungan. Honggo hingga kini berstatus buron.

Sebelumnya, Kabareskrim Komjen Listyo Sigit menyatakan bahwa dari kerugian Rp 37 triliun dalam kasus TPPI, sebanyak Rp 35 triliun telah dikembalikan kepada negara.



Sumber: BeritaSatu.com