Pantau Work From Home Kementerian, Jokowi: Ini Kayak Cuti

Pantau Work From Home Kementerian, Jokowi: Ini Kayak Cuti
Presiden Joko Widodo. (Foto: Antara / Sigid Kurniawan)
Lenny Tristia Tambun / YUD Kamis, 9 Juli 2020 | 15:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali memberikan teguran keras kepada kementerian dan lembaga negara, khusunya yang memiliki anggaran besar. Melihat serapan anggaran yang masih rendah, Jokowi melihat kementerian atau lembaga negara seperti layaknya cuti kerja daripada menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH).

“Saya minta kita memiliki sense yang sama, sense of crisis yang sama. Jangan sampai tiga bulan yang lalu kita menyempaikan bekerja dari rumah, work from home. Yang saya lihat ini kayak cuti malahan,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas (ratas) internal pada Selasa (7/7/2020) yang baru diunggah videonya di akun media sosial Sekretariat Presiden pada Rabu (8/7/2020) malam.

Jokowi kembali mengingatkan jajarannya kondisi dunia saat ini tengah mengalami krisis, terutama di bidang kesehatan dan ekonomi. Oleh sebab itu, ia meminta seluruh jajarannya bekerja lebih keras lagi.

"Pada kondisi krisis, kita harusnya kerja lebih keras lagi. Jangan kerja biasa-biasa saja. Kerja lebih keras dan kerja lebih cepat. Itu yang saya inginkan pada kondisi sekarang ini. Membuat Permen (Peraturan Menteri) yang biasanya mungkin 2 minggu ya sehari selesai, membuat PP (Peraturan Pemerintah) yang biasanya sebulan ya 2 hari selesai, itu loh yang saya inginkan," tegas Jokowi.

Kepala Negara juga mendorong jajarannya untuk tidak hanya bekerja dengan menggunakan cara-cara yang biasa. Lebih lanjut, Presiden meminta agar jajarannya membuat terobosan dalam melaksanakan prosedur, misalnya dengan menerapkan smart shortcut.

"Kita harus ganti channel dari ordinary pindah channel ke extraordinary. Dari cara-cara yang sebelumnya rumit, ganti channel ke cara-cara cepat dan cara-cara yang sederhana. Dari cara yang SOP (standar operasional prosedur) normal, kita harus ganti channel ke SOP yang smart shortcut. Gimana caranya? Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara lebih tahu dari saya, menyelesaikan ini. Kembali lagi, jangan biasa-biasa saja," jelas Jokowi.

Di bidang ekonomi, Jokowi menyebut prediksi ekonomi dunia juga kurang menggembirakan. Menurut informasi yang Presiden terima dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD), kontraksi ekonomi global diprediksi mencapai minus 6 hingga 7,6 persen.

"Kalau kita ini tidak ngeri dan menganggap ini biasa-biasa saja, waduh, bahaya banget. Belanja juga biasa-biasa saja, spending kita biasa-biasa saja, enggak ada percepatan,” ujar Jokowi.

Kontraksi ekonomi tersebut sudah dialami oleh Indonesia di kuartal pertama, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di angka 2,97 persen, turun dari yang biasanya 5 persen. Meskipun angka di kuartal kedua belum keluar, tetapi Presiden mengingatkan agar jajarannya berhati-hati mengingat terdapat penurunan permintaan, penawaran, dan produksi.

"Dari demand, supply, production, semuanya, terganggu dan rusak. Ini kita juga harus paham dan sadar mengenai ini. Karena apa? Ya mobilitasnya kita batasi. Mobilitas dibatasi, pariwisata anjlok. Mobilitas dibatasi, hotel dan restoran langsung anjlok, terganggu. Mal ditutup, lifestyle anjlok, terganggu,” terang Jokowi.



Sumber: BeritaSatu.com