DPR Dorong Peran Indonesia Ciptakan Perdamaian di Indo-Pasifik

DPR Dorong Peran Indonesia Ciptakan Perdamaian di Indo-Pasifik
Wakil Ketua DPR RI Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Azis Syamsuddin. (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Kamis, 9 Juli 2020 | 15:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua DPR RI Bidang Politik dan Keamanan (Korpolkam) Azis Syamsuddin mendorong peran pemerintah Indonesia untuk menciptakan perdamaian di tengah tensi geopolitik di perbatasan Tiongkok-India, Laut China Selatan, serta isu Hong Kong dan Taiwan.

Tensi militer sedang meningkat dengan masuknya angkatan militer Amerika Serikat dalam hal freedom of navigation. Gerakan militer Tiongkok-Amerika juga dikhawatirkan dapat menimbulkan perang konvensional di lautan.

Sementara itu, Indonesia memiliki kepentingan bersama-sama dengan negara-negara ASEAN lainnya melalui 'Asean Outlook on the Indo-Pacific' yang merupakan penegasan posisi ASEAN dalam peranannya untuk menjaga perdamaian, keamanan, stabilitas, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik.

"Indonesia memiliki pengalaman dan kepentingan dalam menjunjung tinggi perdamaian serta memunculkan solusi-solusi terbaik. Hal ini di masa lalu telah di buktikan dalam peranan Indonesia di Gerakan Non-Blok, dan KTT Asia-Afrika. Di masa kini, melalui ‘ASEAN Outlook on the Indo-Pacific' yang digagas oleh Indonesia," ungkap Azis Syamsuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (9/7/2020).

Politisi Golkar tersebut menilai gagasan Indonesia terkait wilayah Indo-Pasifik perlu ditingkatkan, serta diinstitusionalisasi secara politik. Dengan ini, dapat terbangung kesepahaman perdamaian regional sesuai dengan asas-asas sentralitas ASEAN.

Menurut Azis, ini adalah kesempatan baik bagi Indonesia sesuai dengan filsafat politik luar negeri bebas aktif untuk turut andil dalam membangun perdamaian dunia.

"Peran kepemimpinan Indonesia ini yang dinanti dunia, agar wilayah ASEAN secara khusus serta Indo-Pasifik secara umum mampu terhindar dari polarisasi maupun perang dingin abad ke-2," ujarnya.

Dirinya menuturkan, kerja sama yang lebih erat untuk menanggulangi pandemi serta berkolaborasi membangkitkan ekonomi global adalah hal yang harus diutamakan saat ini. Untuk itu, konflik di wilayah Indo-Pasifik harus segera dihentikan. Perlu untuk duduk bersama dalam mewujudkan langkah-langkah geostrategis dan geo-ekonomi wilayah Indo-Pasifik.

"Sudah tidak zamannya lagi teori perang konvensional. Dunia sudah harus mampu dewasa, belajar dari pengalaman masa lalu. Tantangan perbedaan harus diselesaikan melalui dialog dan saling menghormati, serta menggunakan instrumen hukum-hukum internasional dalam menyelesaikan perbedaan," tegasnya.

Azis berharap Indonesia sebagai negara netral harus aktif dalam mempersatukan perbedaan-perbedaan politik berbagai negara ini dalam suatu kerangka inklusif.

Hal ini berkaitan dengan kepentingan perdamaian dunia sesuai dengan norma-norma demokrasi dan keadilan Sosial yang menjadi cita-cita proklamasi. Sebagai negara yang berdaulat, harus menolak segala bentuk klaim wilayah baik lautan maupun daratan yang tidak sesuai dengan norma-norma hukum internasional.

"Kita harus mempersiapkan diri dalam hal skenario terburuk yang bisa saja terjadi di Laut China Selatan. Infrastruktur dan keberadaan TNI di Natuna sudah harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin sebagai langkah antisipasi meluasnya konflik dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI," tutupnya.



Sumber: BeritaSatu.com