Mantan Penyidik Kasus BNI: Cari dan Sita Aset Maria Pauline!

Mantan Penyidik Kasus BNI: Cari dan Sita Aset Maria Pauline!
Penangkapan Maria Pauline Lumowa (tengah) tersangka kasus pembobolan Bank BNI 1,7 Triliun Rupiah, Terminal 3 Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Kamis, 9 Juli 2020. (Foto: AFP / Fajrin Raharjo)
Farouk Arnaz / FMB Jumat, 10 Juli 2020 | 10:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Mantan Ketua Tim Penyidik kasus BNI Irjen (pur) Benny Mamoto mengatakan jika proses hukum terhadap tersangka pembobol Bank BNI, Maria Pauline Lumowa, tak cukup hanya soal pemidanaan.

“Mudah-mudahan diikuti penyitaan aset supaya kerugian negara dapat ditekan,” kata Benny saat dihubungi Beritasatu.com, Jumat (10/7/2020).

Istilahnya penegakan hukum tidak hanya berupaya mengejar pelaku secara konvensional, tetapi diarahkan pada pendekatan follow the money and assets.

Meski belum diketahui apakah Maria kini masih punya aset—mengingat pelariannya yang panjang selama 17 tahun—atau tinggal “tulang tanpa daging”.

Benny yang saat itu berpangkat Kombes memang diminta Kapolri Jenderal Sutanto untuk membereskan carut marut kasus ini. Ia pun sempat terbang ke Belanda untuk menemui Pauline yang sudah kabur ke negeri Tulip.

Pauline kala itupun sudah menjadi warga negara Belanda.”Rencananya saat itu (pertemuan) difasilitasi oleh seorang pengacara tapi tidak jadi,” kata Benny yang dulu juga bergabung dengan Tim Pemburu Koruptor (TPK) kantor Menko Polhukam itu.

Semasa di TPK, Benny berhasil membawa pulang dua buron yakni David Nusa Wijaya dari Amerika dan Atang Latif dari Singapura.

Seperti diberitakan kasus Maria berawal saat pemilik PT Gramarindo Group itu mendapat mendapat pinjaman BNI cabang Kebayoran Baru pada periode Oktober 2002 hingga Juli 2003.

Bank pelat merah ini mengucurkan pinjaman senilai 136 juta dolar AS dan 56 juta Euro—atau setara Rp 1,7 triliun dengan kurs saat ini— kepada mereka. Aksi PT Gramarindo Group bisa mulus karena dibantu orang dalam bank.

Pada 2003 BNI pusat mengendus sesuatu yang tidak beres dalam transaksi keuangan PT Gramarindo Group. Mereka menggunakan L/C fiktif untuk mendapatkan kredit.

Kasus L/C fiktif inilah yang kemudian dilaporkan ke Mabes Polri. Rekan Maria bernama Adrian Woworuntu, oknum polisi, dan oknum internal BNI pun ditangkap dan telah divonis, sementara Maria kabur tak lama saat kasus ini disidik.

Maria licin bagai belut termasuk kini jadi warga negara Belanda, tetapi akhirnya ia pun terpleset dan tertangkap di Serbia. Kini Maria disidik kembali oleh Bareskrim.



Sumber: BeritaSatu.com