Kerusakan Hutan TNBT Jadi Pemicu Konflik Manusia dengan Gajah Sumatera

Kerusakan Hutan TNBT Jadi Pemicu Konflik Manusia dengan Gajah Sumatera
Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) yang ke luar dari kawasan hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi, dan masuk ke kawasan perkebunan kelapa sawit terpaksa direlokasi ke kawasan Hutan Harapan, Dusun Ninggal Benih, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, Jambi pada 2020. (Foto: Suara Pembaruan / Radesman Saragih)
Radesman Saragih / JEM Jumat, 10 Juli 2020 | 11:01 WIB

Jambi, Beritasatu.com - Kerusakan hutan yang terus meluas di kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), Kabupaten Tebo, Provinsi Jambi dan Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau menjadi pemicu utama meningkatnya konflik manusia dengan Gajah Sumatera di kedua daerah tersebut.

Kerusakan hutan terjadi akibat pembalakan liar, kebakaran lahan/hutan, dan konversi hutan menjadi kebun sawit di kawasan TNBT. Kondisi ini menyebabkan menyebabkan gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) sering ke luar dari hutan dan masuk ke perkebunan rakyat. Konlfik manusia dengan gajah di wilayah Jambi dan Riau pun semakin sering terjadi dan sulit dihindari.

“Solusi utama yang perlu dilakukan mengatasi konflik manusia dengan gajah di Jambi dan Riau, yaitu melestarikan bentang alam TNBT Jambi – Riau. Pelestarian kawasan hutan TNBT yang merupakan habitat utama gajah Sumatera akan mampu mencegah gajah Sumatera ke luar hutan dan memasuki areal pertanian dan perkebunan,” kata Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi Sudirman pada Sosialisasi Forum Kolaborasi Pengelola Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) Koridor Hidupan Liar di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh Kabupaten Tebo, Jambi di Hotel Asten, Kota Jambi, Kamis (9/7/2020).

Menurut Sudirman, sebelum terjadi kerusakan hutan TNBT, konflik manusia dengan gajah di Jambi jarang terjadi. Namun belakangan ini, konflik manusia dengan gajah semakin sering terjadi akibat keluarnya gajah dari kawasan konservasi gajah di TNBT. Gajah yang yang masuk ke pertanian dan perkebunan rakyat sering mati terbunuh. Sekitar 700 ekor Gajah Sumatera mati terbunuh selama 10 tahun terakhir.

Djelaskan, untuk melindungi kawasan konservasi gajah Sumatera di TNBT, Gubernur Jambi sudah mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Nomor: 177/ KEP.GUB/DISHUT-3.3/2020 tentang pembentukan Forum Kolaborasi Pengelola Kawasan Ekosistem Esensial Koridor Hidupan Liar di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh Kabupaten Tebo. Melalui forum tersebut, upaya penyelamatan gajah Sumatera, pelestarian TNBT dan penyelamatan pertanian dan perkebunan petani dapat diatasi secepatnya.

Sudirman lebih lanjut mengatakan, alam Bukit Tiga Puluh merupakan hutan tropis dataran rendah terletak di pusat Pulau Sumatera dan merupakan rumah bagi bermacam satwa karismatik dan terancam punah seperti harimau Sumatera, tapir, trenggiling, orang utan dan gajah Sumatera. Kelangsungan hidup satwa langka dilindungi tersebut tergantung pada kelestarian habitatnya.

Menurut Sudirman, kerusakan habitat yang terjadi mengakibatkan tingginya konflik manusia dan gajah Sumatera di bentang alam Bukit Tiga Puluh. Gajah Sumatera merupakan mamalia terbesar yang hidup di Indonesia dan secara spesifik hanya dapat dijumpai di Sumatera. Kemampuan menyebarkan biji-bijian dan ekosistem hutan menjadikan mamalia ini sebagai spesies payung (umbrella species). Regenerasi alami vegetasi di hutan yang sangat terbantu dengan keberadaan gajah Sumatera.

“Namun, dibalik itu semua terdapat satu hal menggelisahkan sebab kini hampir 80 % gajah Sumatera justru hidup di luar kawasan konservasi seperti areal hutan produksi, perkebunan kelapa sawit dan area lainnya. Kondisi inilah yang berpotensi menyebabkan fenomena meningkatnya konflik manusia dan gajah Sumatera,”ujarnya.

Sementara itu Kepala Seksi Pengawetan Insitu Direktorat Jenderal Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Krismano Padang pada kesempatan tersebut mengatakan, KEE Koridor Gajah Sumatera merupakan salah satu bentuk kompromi manajemen kawasan yang memiliki nilai ekologis tinggi namun berada di luar kawasan konservasi.

“Untuk itu, pengelolaan sumber daya alam di Provinsi Jambi perlu dilakukan dengan mengutamakan program pembangunan ekonomi hijau. Percepatan pembangunan tersebut bisa dilakukan Green Growth Compact, yaitu sebuah komitmen antara pemerintah, swasta dan masyarakat yang mendorong pembangunan hijau. KEE Koridor Hidupan liar Bentang Alam di Bukit Tiga Puluh adalah contoh nyata dari Green Growth Compact yang tengah digagas ini,”katanya. [ 

 



Sumber: BeritaSatu.com