Protokol Kesehatan Harus Disosialisasikan Sebagai Gaya Hidup

Protokol Kesehatan Harus Disosialisasikan Sebagai Gaya Hidup
Warga menggunakan masker. (Foto: Antara)
Dina Fitri Anisa / YUD Jumat, 10 Juli 2020 | 22:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Penerapan protokol kesehatan di masyarakat masih dianggap sebelah mata. Pelanggaran pun acap kali terjadi. Dikhawatirkan, persoalan ini akan memicu penambahan kasus baru Covid-19.

Sosiolog sekaligus Guru besar Ilmu Sosial dan Politik Unair, Bagong Suyanto mengatakan, pemerintah harus introspeksi dalam mensosialisasikan protokol kesehatan kepada masyarakat. Ia melihat saat ini pendekatan yang dikembangkan pemerintah itu lebih pada pendekatan yang sifatnya regulatif dan kognitif, dengan menekankan sanksi hukum.

“Saat ini yang didenda adalah korban. Banyak masyarakat yang tidak punya uang lebih untuk membeli masker. Jadi, penekanan pada sanksi ini tidak efektif, dan tidak memberikan jalan keluar yang baik. Seharusnya, sanksi ditekankan untuk oknum yang mengail di air keruh,” jelas Bagong, Jumat (10/7/2020).

Sebagai solusi, Bagong menyarankan agar pemerintah bisa menjadikan protokol kesehatan ini sebagai gaya hidup yang dibanggakan oleh masyarakatnya. Seperti contoh, memberikan atau memperkenalkan produk-produk masker yang sesuai dengan profil masyarakatnya.

“Saat ini saya melihat sosialisasi yang diberikan pemerintah itu pendekatannya homogenisasi. Mereka menganggap seluruh masyarakat memiliki profil yang sama, dan dengan adanya regulasi dan aturan maka penerapan penggunaan masker akan berjalan dengan sendirinya. Padahal tidak demikian, masyarakat terdiri dari berbagai macam golongan yang memerlukan penanganan yang berbeda,” tuturnya.

Ia mencontohkan, seperti wanita sosialita yang memilih untuk menggunakan masker yang senada dengan busana yang ia pakai sehari-hari. Mulai dari warna hingga detail motif. Sedangkan kaum milenial lebih menyukai masker dengan model yang unik dan juga motif kekinian.

Sehingga kini fungsi masker tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga identitas sosial. Dengan demikian, pemerintah bisa mengajak para UMKM bidang retail dalam menyukseskan penerapan penggunaan masker dalam kehidupan bermasyarakat, untuk membuat masker kreasi.

“Ini bukan soal penerapan budaya baru, tetapi ini soal merayu. Bagaimana caranya agar masyarakat bisa patuh. Ini butuh taktik kreatif, karena setiap kelompok masyarakat memiliki pendekatan yang berbeda,” terangnya.



Sumber: BeritaSatu.com