PGRI: Jangan Main-main dengan Data Guru

PGRI: Jangan Main-main dengan Data Guru
Plt Ketua PB PGRI Unifah Rosyidi. (Foto: Fatima Bona)
Maria Fatima Bona / IDS Jumat, 10 Juli 2020 | 23:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Berdasarkan Badan Kepegawaian Negara (BKN), rasio guru dan siswa di Indonesia masih tergolong ideal, yaitu 1:34 atau satu guru mengajar 34 siswa. Namun menurut Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Prof. Unifah Rosyidi, perhitungan jumlah guru nasional dan kesimpulan bahwa kebutuhan guru saat ini terpenuhi merupakan perjudian terhadap masa depan pendidikan Indonesia.

“Kalau bagi rata dengan tidak menghitung per jenjang pendidikan SD, SMP,SMA atau SMK itu pemahaman yang salah dan sangat berbahaya sekali. Jangan main-main dengan data, ini taruhan masa depan generasi bangsa,” kata Unifah kepada Suara Pembaruan, Jumat (10/7/2020).

Unifah menegaskan, perhitungan guru dan rasio murid tanpa pertimbangan realita lapangan sangat disayangkan. Sebab, kenyataan di lapangan saat ini memberi fakta bahwa Indonesia hanya memiliki 1,3 juta guru ASN. Ini merupakan dampak dari jumlah guru pensiun yang sangat besar dalam 10 tahun terakhir. Kenyataan ini berdasarkan laporan dari kepala daerah yang selalu mengajukan formasi rekrutmen CPNS untuk guru.

Untuk itu, Unifah mengingatkan pemerintah untuk tidak salah mengartikan data jumlah guru dan cara membagi total guru saat ini dengan jumlah siswa. Seharusnya pemerintah yakni BKN, Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), dan Kemdikbud turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi sekolah yang kekurangan guru ASN.

Sementara itu, Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Iwan Syahril menuturkan, sejauh ini untuk estimasi kebutuhan guru non-ASN atau guru honorer di sekolah negeri sebanyak 835.000 orang. Namun jumlah ini akan bertambah apabila dihitung dengan jumlah guru pensiun pada 2020 dan 2021. Pemerintah membutuhkan guru honorer untuk mengabdi di sekolah negeri sebanyak 960.000 orang.

Untuk jumlah kebutuhan guru dan jumlah guru pensiun ini, menurut Iwan, masih terus dilakukan melakukan penyempurnaan perhitungan.

“Kami masih terus menyempurnakan penghitungan tersebut berdasarkan asumsi-asumsi di atas untuk mendapatkan angka yang tepat,” ujarnya kepada Suara Pembaruan.

Iwan menyebutkan, ada tiga asumsi utama dalam menghitung kebutuhan guru, di antaranya terkait jumlah jam mengajar. Guru mengajar 30 jam per minggu dengan real time-nya 33,5 jam. Dengan perhitungan ini, kata Iwan, guru dapat mengajar lebih dari satu sekolah di kabupaten/kota yang sama.

Untuk data guru tenaga honorer kategori 2 (THK2), Iwan menyebutkan, sedang dalam tahap pencocokan data antarlintas K/L.

“Data terkini harus diverifikasi bahwa guru-guru tersebut memang masih aktif mengajar pada saat ini. Jika verifikasi ini sudah selesai, tim lintas kementerian akan melaporkan ini kepada DPR,” pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com