Ketum Korpri Ingatkan Anggotanya Terkait Kode Etik

Ketum Korpri Ingatkan Anggotanya Terkait Kode Etik
Ketua Umum Korpri Zudan Arif Fakrulloh di Anjong Mon Mata Banda Aceh, Jumat (10/7/2020). (Foto: Istimewa)
Jayanty Nada Shofa / JNS Sabtu, 11 Juli 2020 | 01:28 WIB

Banda Aceh, Beritasatu.com - Ketua Umum Dewan Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) Zudan Arif Fakrulloh mengingatkan seluruh anggota Korpri di Indonesia khususnya di Aceh untuk menjunjung tinggi kode etik Korpri. Dirinya bahkan menyebutkan kode etik adalah ruh dari aparatur sipil negara (ASN). 

"Posisi ASN adalah bagian dari pemerintah. Loyalitas kita bukan kepada person, tetapi kepada negara," ungkap Zudan usai pengukuhan pengurus Kopri Aceh di Anjong Mon Mata Banda Aceh, Jumat (10/7/2020).

Zudan mengingatkan agar pegawai negeri tidak mengkritik pemerintahan melalui media sosial karena tidak sejalan dengan kode etik Korpri. Masalah di pemerintahan harusnya di bahas di kantor dan bukan di ruang publik.

"Saat Anda menjadi pegawai maka anda adalah keluarga Korpri. Ingatkan pada anggota Korpri, apa pantas menjelekkan keluarga sendiri," lanjutnya.

Di kesempatan yang sama, Zudan mengajak seluruh anggota Korpri untuk bergerak bersama dalam membangun branding baru.

"Bangun narasi bersama apa saja yang baik dari daerah kita. Semakin banyak kita mensyiarkan hal baik, hal jelek akan semakin tenggelam," kata dia.

Pengurus Korpri, lanjutnya, harus merancang program yang menyentuh langsung ASN. Selama ini, ketakutan pegawai yang kerap membuat keterlambatan anggaran adalah ketakutan menyangkut hukum.

"Berikan advokasi. Isi pemahaman yang benar kepada penyelenggara negara agar apa yang mereka lakukan tidak melanggar peraturan perundang-undangan," kata Zudan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut adalah Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Pusat sekaligus Sekretaris Jenderal Korpri Nasional Bima Haria Wibisana.

Pada kegiatan tersebut, Bima memberikan materi terkait pelayanan pemerintahan di era new normal (normal baru). Ia juga membahas bagaimana pandemi Covid-19 telah memicu banyak perubahan, serta bagaimana bersaing menghadapi perkembangan zaman.

"Masa depan itu adalah persaingan kreativitas, persaingan imajinasi, bukan persaingan ilmu pengetahuan. Kalau tidak berani berimajinasi, berinovasi dan tampil berbeda dalam pemikiran, Anda tidak akan bertahan dalam kompetisi di depan," jelas Bima.

Dalam 20 tahun ke depan, lanjut Bima, 70% pekerjaan yang dilakukan saat ini akan hilang. Yang dibutuhkan adalah mereka yang menguasai programming khususnya big data analytics dan virtual analytics.

"Apa ada itu formasi di CPNS? Tidak ada, tapi ke depan itu yang sangat dibutuhkan," tutup Bima.



Sumber: BeritaSatu.com