Logo BeritaSatu

Gempa Bumi dan Covid-19, Ini Suka Duka Usaha di Palu

Minggu, 12 Juli 2020 | 09:11 WIB
Oleh : HS

Palu, Beritasatu.com - Belum berakhir rasa lelah Adi Pitoyo, setelah membangun kembali tempat usaha batiknya yang porak-poranda karena gempa 28 September 2018, kini dia berhadapan dengan lesunya pasar akibat Covid-19.
Tekad dan semangat baru yang dia tanamkan untuk membangun kembali usahanya agar bisa normal lagi seperti dulu, kembali tertekan setelah Covid-19 mewabah, termasuk di Kota Palu.

Kondisi ini memaksa pengusaha batik motif Bomba (motif tenun khas lokal) itu, memutar otak agar ekonomi keluarganya tetap lancar, dan usaha yang ia rintis sejak 10 tahun lalu tetap bisa bertahan di tengah badai corona.
Adi Pitoyo mengaku bingung dengan berbagai informasi tekait Covid-19 yang tidak bisa diprediksi kapan akan berakhir.

"Saya harus ambil tindakan segera dengan melihat peluang bisnis baru yang lebih menjanjikan. Batik tetap saja berjalan apa adanya," katanya, menanggapi lesunya bisnis batik di Kota Palu.

Sebelum gempa menerjang Kota Palu, dalam sehari biasanya ia mengumpulkan omzet Rp 15 juta hingga Rp 20 juta. Bahkan, jika ada kegiatan berskala nasional di Kota Palu ia bisa meraup omzet hingga mencapai Rp 30 juta per hari.
Namun setelah gempa, ia menutup usahanya hampir setahun. Selain karena tempat usaha yang rusak, pangsa pasar juga hancur. Ia bersama istrinya Siti Huzaemah baru saja menata kembali usahanya dalam beberapa bulan terakhir.
Tanda-tanda membaiknya usaha itu pun mulai terlihat, tapi Covid-19 datang dan mewabah. Pasar lesu, bahkan sama sekali tidak ada pesanan. "Sudah untung kalau sehari itu ada yang beli satu," katanya.

Kondisi terpuruk di bidang bisnis yang sama juga dialami Imam Basuki. Pengusaha batik dan kain tenun Donggala yang tinggal di kawasan UMKM batik dan tenun Jalan Mangga, Palu Barat, itu merasa sangat terpukul setelah di kawasan itu menjadi zona merah Covid-19 setelah ditemukannya satu warga positif corona.

Kondisi itu tidak saja menghajar pengusaha batik dan tenun Donggala di kawasan UMKM itu, tapi juga ikut memukul para perajin tenun di sentra-sentra tenun di Palu dan Donggala. Imam bersama pengusaha yang lainnya terpaksa menghentikan sementara pasokan tenun dari sentra-sentara tenun karena permintaan pasar lesu. Mereka tidak berdaya mendobrak pasar karena putusnya jalur transportasi udara ke Kota Palu.

Sementara pasar potensial batik dan tenun Donggala ada di tangan para tamu yang datang ke Palu karena menjadikan kain batik khas Palu dan Donggala itu sebagai oleh-oleh khas lokal.
"Kemarin saya datang menagih di beberapa outlet yang barangnya sudah saya pasok sejak tiga bulan lalu, hasilnya hanya Rp 2 juta. Saya mau pasok lagi, mereka menolak. Belum berani terima barang dalam kondisi seperti ini," kata Imam.

Tagihan

Dia mengaku, meski sudah masuk masa normal baru Covid-19, tetapi pasar belum bisa normal. Jika pun ada penjualan, untungnya hanya bisa untuk biaya sehari-hari. Sudah pasar lesu dan omzet yang hancur, tagihan dari bank juga masih tetap berjalan.
Menurut Imam, beberapa temannya dari anggota Asosiasi Tenun Donggala mengeluh karena bank terus saja datang menagih, seperti tidak memahami jika usaha mereka sedang terkapar. Mereka sudah berusaha mengajukan keringanan, tetapi beberapa bank beralasan mereka sudah pernah mendapat keringanan sebagai dampak dari bencana gempa 28 September 2018.

"Kami tidak butuh tambahan modal karena kami tidak bisa produksi banyak karena masalahnya sekarang ada pada pasar yang lesu. Kami hanya butuh keringanan pembayaran utang," katanya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palu Syamsul Syaifudin mengakui akibat Covid-19 hampir semua pelaku usaha di Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tengah itu terdampak.

Meskipun demikian, kata Syamsul, masih ada sebagian usaha tetap eksis, bahkan mampu melakukan ekspansi pasar sampai ke luar daerah di tengah pandemi corona, salah satunya tepung terigu 'Kribo' khas Palu.
Produk hasil olahan usaha kecil mikro dan menengah (UMKM) di Kota Palu itu justru menyasar pasar hingga ke Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi Selatan.

Kartika, pemilik usaha tepung terigu Kribo, mengatakan saat ini dirinya memenuhi pasar Makassar 3,5 ton setiap pekannya. Di tengah COVID-19, Kartika hanya mengandalkan penjualan secara daring hingga akhirnya ia tidak menyangka permintaan sampai ke Sumatera dan Kalimantan.
"Saya sekarang kendala biaya pengiriman. Ongkos kirim terlalu mahal, sehingga kami belum bisa penuhi permintaan dari Sumatera," katanya.

Usaha mandiri yang dibangun Kartika terbilang masih sangat muda. Ia baru memulai usaha tersebut Maret 2018, namun sempat terhenti karena bencana gempa, tsunami dan likuefaksi melanda Kota Palu pada 28 September 2018.
Menghadapi guncangan itu, ia tidak patah semangat. Ia terus berusaha bangkit dengan dukungan suami yang bekerja sebagai pebisnis ayam potong di Kota Palu.

Kartika yang sebelumnya ditunjuk sebagai tim pendamping UMKM di Kota Palu oleh pemerintah kota setempat, akhirnya memilih mandiri setelah tugas pendampingannya berakhir. Ia konsentrasi membangun usahanya yang kini telah mempekerjakan 16 karyawan itu. Dia menciptakan tepung terigu kemasan tersebut terdiri dari beberapa varian untuk menjadikan adonan gorengan menjadi segar dan kering (crispy).
Untuk varian premium, kata Kartika, daya segar dan kering bertahan 20 sampai 24 jam.

"Kalau digunakan menggoreng malam ini, sampai besok malam masih tetap segar dan kering. Itu keunggulan produk kami," katanya.

Untuk varian biasa, daya tahan segar dan kering lima sampai enam jam. Selain daya tahan keringnya yang lama, tepung kemasan Kribo ini juga memiliki sejumlah varian rasa, seperti keju, manis dan pedas.
"Biasanya orang Palu sukanya yang pedas, sehingga kalau dipakai menggoreng pisang itu rasanya pedas," katanya.
Kartika berharap tepung Kribonya tersebut bisa menembus pasar seluruh Indonesia, seperti halnya produk tepung lainnya yang telah lama menguasai pasar.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: ANTARA

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Abaikan Inflasi, Massindo Group Ekspansi Bisnis ke Palembang

Massindo Group meresmikan pabrik ke-20 dan pusat distribusi di Palembang, Sumatera Selatan.

EKONOMI | 6 Oktober 2022

Dongkrak Pendapatan, Wahana Pronatural Rambah Bisnis Minuman

PT Wahana Pronatural Tbk (WAPO) berencana merambah bisnis minuman untuk mendongkrak pendapatan perseroan.

EKONOMI | 6 Oktober 2022

Kebijakan Satu Peta Dinilai Percepat Pemulihan Ekonomi

Ekonom Indef, Agus Herta Sumarto mengatakan kebijakan satu peta dapat mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Bakti Pastikan Peluncuran Satelit Satria 1 Sesuai Rencana

Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Kemenkominfo optimistis rencana pengoperasian Satelit Satria 1 tetap berjalan sesuai rencana.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Suntik Mati TV Analog Jabodetabek Diundur Jadi 2 November

Kemenkominfo memutuskan menunda penghentian siaran tv analog di wilayah Jabodetabek menjadi 2 November 2022.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

FIF Group dan RSU Hermina Dirikan Rumah Singgah

FIF Group dengan RSU Hermina Depok menyediakan rumah singgah dan membuka kesempatan bagi pasien kurang mampu yang membutuhkan penanganan medis.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Iklan Digital Menjadi Pengubah Ekosistem Industri Startup

Adtech merupakan perangkat lunak yang digunakan oleh brand atau agency untuk menyusun strategi, mengatur, dan mengelola aktivitas iklan digital.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Luhut Gandeng GFF Bahas Rencana Aksi Bersama Transisi Energi

Global Future Fellows (GFF) yang dihadiri GFFellows di Bali telah merancang draf Rencana Aksi Bersama (action roadmap) soal transisi energi.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Kontribusi PNBP Signifikan, PTBA Raih Penghargaan Subroto

PT Bukit Asam (PTBA) berhasil meraih Penghargaan Subroto 2022 Bidang PNBP Mineral dan Batubara.

EKONOMI | 5 Oktober 2022

Jababeka Pinjam US$ 100 Juta ke Mandiri untuk Bayar Utang

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menandatangani kredit sebesar US$ 100 juta dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).

EKONOMI | 5 Oktober 2022


TAG POPULER

# Mamat Alkatiri


# Lesti Kejora


# Timnas U-17


# Formula E


# Tragedi Kanjuruhan


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Puan Ajak Parlemen Dunia Atasi <em>Scary Effect</em> Ekonomi Global

Puan Ajak Parlemen Dunia Atasi Scary Effect Ekonomi Global

NEWS | 23 menit yang lalu










CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings