Menteri LHK Evaluasi Pengelolaan Taman Wisata Alam di Tengah Pandemi Covid-9

Menteri LHK Evaluasi Pengelolaan Taman Wisata Alam di Tengah Pandemi Covid-9
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya melakukan penanaman pohon saat bersama Wakil Menteri LHK Alue Dohong meninjau pengawasan pengelolaan taman wisata alam (TWA) di Wonosobo, Jateng, Minggu, 12 Juli 2020. (Foto: Istimewa)
Stefi Thenu / JEM Minggu, 12 Juli 2020 | 20:45 WIB

Wonosobo, Beritasatu.com - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya melakukan evaluasi sekaligus pengawasan terhadap pengelolaan taman wisata alam (TWA) di tengah pandemi Covid-19. Tujuannya supaya aktivitas masyarakat pengelola, dan pengunjung tempat wisata menyesuaikan diri dengan protokol kesehatan, seperti menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan.

Kerja lapangan tersebut dilakukan Siti Nurbaya bersama Wakil Menteri LHK Alue Dohong di Wonosobo, Jateng, Minggu (12/7/2020).

Siti mengatakan, sesuai pesan Presiden Joko Widodo, penanganan pemulihan lingkungan sangat penting demikian pula pemanfaatan berbagai lokasi di Pulau Jawa yang memiliki pemandangan indah, dan aksesibilitas jalan yang bagus untuk menjadi produktif bagi masyarakat.

Dikatakan Siti Nurbaya, kombinasi kerja hutan sosial, produktivitas masyarakat dengan ekowisata dan industri kayu putih hutan sosial menjadi langkah yang positif.

“Sejalan dengan itu, upaya pemulihan lingkungan dengan rehabilitasi lahan terus dilakukan,” kata Siti Nurbaya saat kunjungan kerja di kawasan wisata Dieng, di TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon, Kabupaten Wonosobo, Jateng, Minggu.

Siti Nurbaya mengatakan, cara penanganan atau pengelolaan itik-titik wisata seperti Telaga Warna maupun Telaga Pengilon, menjadi referensi bagi titik wisata yang lain.

“Keberadaan ekowisata seperti ini harus disertai peningkatan produktivitas untuk masyarakat sekitarnya," kata Siti.

TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon merupakan salah satu di antara 29 kawasan wisata alam yang dibuka lebih dulu dalam masa transisi ini. Pembukaan kawasan wisata alam ini untuk memberikan stimulan aktivitas wisata lain di Indonesia. Hal ini juga penting agar masyarakat dapat kembali menjalani aktivitas produktif.
"Saya meminta Dirjen KSDAE untuk melaporkan setiap hari perkembangan 29 titik kawasan wisata alam ini, khususnya berkaitan dengan naik turunnya angka sebaran Covid-19," kata Siti Nurbaya.

Siti Nurbaya menambahkan, keterlibatan pemerintah desa dan kecamatan perlu ditingkatkan, begitu juga dengan masyarakat tani.

Siti Nurbaya menerima masukan dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jateng untuk mendorong kemungkinan penambahan penanaman varietas baru di kawasan tersebut. HKTI Jateng meminta agar diadakan vokasi training untuk level sekolah menengah, mengenai teknis pengolahan kayu dan bambu.

"Saya juga mendapat laporan adanya masalah sampah. Selain itu, saya titip untuk teknik terasering di kawasan Dieng perlu diperbaiki untuk mencegah longsor dan erosi. Kita cari cara mengatasinya dengan kegiatan CSR untuk rehabilitasi dan bangunan Konservasi Tanah dan Air," kata Siti Nurbaya.

Siti Nurbaya menjelaskan, fungsi alam hutan selain menjaga sistem pendukung kehidupan, juga memiliki fungsi media, bahan produksi, informasi, hingga spiritual healing."Berada di tengah hutan bisa menjadi forest healing. Misalnya di Jawa Timur, bahkan ada yang menjadi spot-spot untuk ibadah," terang Menteri Siti.

Sementara Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno menjelaskan, situasi taman wisata alam di Wonosobo bergantung pada keamanan kandungan karbondioksida dan sulfur (belerang) yang ada, yang dipantau secara intensif setiap bulan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

"Keberadaan TWA Telaga Warna dan Telaga Pengilon ini mampu menggerakkan ekonomi lokal di sekitar Dieng," kata Wiratno.

Saat hari biasa dalam kondisi normal, rata-rata pengunjung setiap tahunnya 425.000 orang, dan menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp 3 Miliar.



Sumber: BeritaSatu.com