Menko PMK Minta Istilah New Normal Tak Perlu Diributkan

Menko PMK Minta Istilah New Normal Tak Perlu Diributkan
Muhadjir Effendy. (Foto: Antara)
Lenny Tristia Tambun / FER Senin, 13 Juli 2020 | 17:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Adanya polemik penggunaan istilah new normal (normal baru), membuat Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy perlu meluruskan istilah tersebut.

Baca Juga: Tangani Zona Merah, Pemerintah Terapkan Karantina Lingkungan

"Soal new normal, setahu saya sudah dipertegas sekarang tidak digunakan new normal. Sekarang istilahnya adaptasi dengan keadaan yang baru,” kata Muhadjir Effendy seusai ratas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) tentang Percepatan Penanganan Dampak Pandemi Covid-19 di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (13/7/2020).

Menurut Muhadjir, semua pihak tidak perlu ribut dengan istilah new normal. Meski berdasarkan Undang-undang (UU) Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana tidak ada istilah new normal. Melainkan ada istilah masa transisi rehabilitasi sosial ekonomi dan rekonstruksi sosial ekonomi.

"Tetapi memang UU ini tidak terlalu kompatibel dengan bencana non-alam. Karena itu atas inisiatif DPR Komisi VIII, maka UU Nomor 2/2007 akan segera direvisi dengan seiring perkembangan yang ada ini. Terutama karena kita sudah mengalami bencana non-alam ini. Akan disesuaikan, nanti ada istilah khusus dengan UU yang baku,” jelas Muhadjir Effendy.

Baca Juga: Indef Ingatkan Ancaman Kontraksi Ekonomi Lebih Dalam

Karena itu, Muhadjir sependapat dengan Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, bahwa istilah new normal dan lockdown memang tidak sesuai dengan UU Nomor 24/2007. "Sehingga kita kalau gunakan harus hati-hati. Termasuk juga dengan adaptasi baru, itu juga tidak dalam UU,” ujarnya.

Muhadjir mengungkapkan, istilah new normal berasal dari pengusaha Roger McNamee yang menulis buku The New Normal: Great Opportunities in a Time of Great Risk. Adapun yang dimaksud istilah new normal dalam buku tersebut tidak ada kaitannya dengan pandemi Covid-19.

"Itu sebetulnya tidak ada urusannya dengan Covid-19 karena dia itu kan pialang modal ventura, dia bahas bagaimana memanfaatkan keuntungan besar dalam krisis besar. Jadi sebenarnya tidak ada urusannya dengan Covid-19. Karena dia tulis itu di 2004 sebagai bentuk refleksi itu dari krisis moneter 1998,” jelas Muhadjir Effendy.

Baca Juga: DPR Minta Pemerintah Gratiskan Rapid Test

Oleh karena itu, Muhadjir mengajak semua pihak untuk berhati-hati menggunakan istilah new normal, meski penggunaan istilah itu tidak dilarang. "Karena itu, kita harus hati-hati gunakan diksi itu, tapi ya enggak dilarang, namanya juga istilah,” kilah Muhadjir Effendy.



Sumber: BeritaSatu.com