PSBB Diperpanjang, Banten Harapkan Masuk Zona Hijau

PSBB Diperpanjang, Banten Harapkan Masuk Zona Hijau
Gubernur Banten Wahidin Halim. (Foto: Beritasatu Photo / Laurens Dami)
Laurens Dami / YUD Senin, 13 Juli 2020 | 19:37 WIB

Serang, Beritasatu.com - Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Tangerang Raya kembali diperpanjang. Pemberlakuan PSBB di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang Selatan untuk tahap yang ketujuh diharapkan semakin menyadarkan masyarakat untuk membiasakan diri menjaga protokol kesehatan.

“PSBB kita sepakati diperpanjang lagi. Harapannya Banten masuk zona hijau,” ujar Gubernur Banten Wahidin Halim, di Serang, Senin (13/7/2020).

Wahidin mengaku pernah dikritik di berbagai forum dan media sosial, seakan-akan Provinsi Banten tidak berbuat apa-apa dalam menghadapi Covid-19. Faktanya kini Provinsi Banten sudah masuk zona kuning dan berada di posisi ke-12 nasional.

Wahidin mengatakan, seluruh lini baik Polda, Korem, bupati dan wali kota serta para alim ulama bekerja keras dalam mencegah penyebaran Covid-19 di Banten.

"Dan ini faktualnya, Banten benar-benar menunjukkan upayanya. Bisa tanya kepada para bupati dan wali kota," ujarnya.

Wahidin mengatakan, perpanjangan PSBB di Tangerang Raya, disertai dengan kelonggaran untuk sejumlah kegiatan tertentu yang berisiko rendah terhadap penularan dan penyebaran Covid-19. Sementara untuk kegiatan yang berisiko sedang, agak tinggi, dan tinggi tetap akan dibatasi.

Wahidin mengatakan, dirinya sejak awal tidak sepakat dengan istilah new normal tetapi yang terpenting adalah harus membiasakan diri dalam suatu kehidupan baru. Karena ada perubahan nilai-nilai budaya dan harus melalui internalisasi dan institusionalisasi. Menjadi suatu kebiasaan baru di masyarakat.

“Sejak awal pembiasaan protokol kesehatan Covid-19 bisa jadi konflik bagi diri dan sebagian masyarakat. Namun lama kelamaan karena kesadaran akan pentingnya menghadapi pandemi akhirnya jadi berkompromi dengan kebiasaan-kebiasaan dan nilai-nilai baru. Sebuah proses yang membutuhkan waktu,” ujarnya.

"Kita membutuhkan waktu sampai terjadi internalisasi diri. Kalau sudah menyatu, dan sudah jadi terinternalisasi dan teriinstitusionalisasi, Insyaallah tanpa sosialisasi lagi kita akan sudah terbiasa dan merasakan pentingnya dan manfaat suatu kehidupan baru," jelasnya.

Gubernur Banten pun mengaku ditanya beberapa kalangan resep Provinsi Banten mencapai zona kuning dari sebelumnya sebagai zona merah dan epicentrum Covid-19.

“Resep yang paling ampuh adalah soliditas di antara semua unsur yang ada di Provinsi Banten. Inilah yang saya merasa bangga dan bahagia. Ketika wali kota, bupati, Polisi, TNI dan seluruh unsur lapisan masyarakat solid. Dan ternyata masyarakat dengan kesadarannya ikut menciptakan budaya baru tanpa diperintah lagi," katanya.

Masih menurut Gubernur Banten, berbagai indikator akan diuji lagi dan harus mendapatkan jaminan. Panduan pendekatan dengan format atau model yang bisa menurunkan kuning menjadi hijau perlu pertimbangan dari semua pihak. Agar bisa menembus dan semangat dari merah, menjadi kuning dan terakhir bisa menjadi zona hijau.

Terkait ritual keagamaan, Gubernur Wahidin Halim berpesan jangan sampai terganggu karena ketatnya peraturan. Hal yang sudah terbiasa menjadi tradisi seperti pelaksanaan penyembelihan hewan kurban jangan di rumah potong hewan (RPH) tapi tetap perlu diberikan kelonggaran untuk dilaksanakan di masjid-masjid dengan protokol kesehatan yang ketat.

“PSBB sebelumnya relatif serba tidak boleh atau larangan. Pada PSBB selanjutnya secara teknis ada yang bisa dilonggarkan. Ada kegiatan yang bisa dibolehkan namun dengan tingkat risiko yang rendah. Kegiatan lain yang berisiko tinggi, agak tinggi, dan sedang tentu harus menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.

Menurut Wahidin, kalau PSBB tidak dilanjutkan dikhawatirkan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

“Karena ada tugas kita yang harus kita optimalkan. Jangan sampai kalau kita cabut PSBB akan terjadi euforia, masyarakat kembali seperti semula dan lupa," pungkasnya.



Sumber: BeritaSatu.com