Lembaga Pendidikan Pariwisata Adaptasi Perubahan Pascapandemi Covid-19

Lembaga Pendidikan Pariwisata Adaptasi Perubahan Pascapandemi Covid-19
Kawasan wisata Kawah Putih, pegunungan Patuha, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Foto: Antara / Raisan Al Farisi)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 13 Juli 2020 | 22:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung, Faisal, mengatakan saat ini lembaga pendidikan pariwisata di Indonesia khususnya sekolah tinggi berupaya menyelaraskan perubahan landscape Covid-19. Bukan hanya dari kurikulum dan bahan pengajaran, tetapi juga penguatan budaya dalam penerapan protokol kesehatan di sektor pariwisata.

Hal tersebut dikatakan Faisal dalam rapat daring Komisi X DPR bersama perwakilan dari lembaga pendidikan pariwisata, Senin (13/7/2020).

Dikatakan Faisal, hal yang menjadi poin utama dalam upaya pemulihan sektor pariwisata adalah mampu bertahan serta para pelaku wisata lincah menghadapi tantangan saat ini, dan di masa nanti.

“Kami yakin dan percaya, dengan kebersamaan dan keterlibatan kita semua akan ada solusi untuk sama-sama mengawal perubahan tata kelola pariwisata dan serta lembaga pendidikan di Indonesia. Kita harus menaruh optimisme. Walaupun paling terakhir pulih, tetapi sektor ini akan memberikan kontribusi siginifikan membangun ekonomi nasional ke depannya,” terang Faisal.

Diakui, kesiapan STP NHI di masa adaptasi kebiasan baru pun semakin matang, dengan membuat 13 prosedur kegiatan dengan acuan prinsip cleanliness, healthy, safety, and environtment (CHSE) dari Kemparekraf.

Beberapa di antaranya adalah prosedur memasuki area kampus, praktik di lab dapur, restoran, dan juga praktik di lapangan.

Selain itu, STP NHI ini juga turut berkontribusi dalam membantu masyarakat serta petugas medis yang terkena dampak pandemi. Salah satu programnya, NHI bekerja sama dengan Kemparekraf untuk membuka dapur umum.

"Pada April lalu, kita buka dapur umum yang memproduksi makan siang sebanyak 200-300 boks dan nasi bungkus per hari dengan total produksi selama 14 hari sebanyak 3.369. Adapun biaya yang dikeluarkan sebesar Rp 112 juta,” tutur Faisal



Sumber: BeritaSatu.com