Kementerian Desa Revitalisasi Peran Bumdes

Kementerian Desa Revitalisasi Peran Bumdes
Staf Khusus Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Dodik Pranata Wijaya. (Foto: Beritasatu Photo / Herman)
Herman / FER Selasa, 14 Juli 2020 | 18:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) turut memengaruhi perekonomian di desa. Karenanya, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kementerian Desa) saat ini terus melakukan upaya revitalisasi dengan beberapa langkah strategis. Salah satunya, melakukan revitalisasi bumdes (badan usaha milik desa), sehingga harapannya ekonomi Indonesia dan juga ekonomi di desa pada 2021 bisa mulai reborn.

Baca Juga: KPK dan Kemdes Bahas BLT Dana Desa

Staf Khusus Menteri Desa, Dodik Pranata Wijaya menyampaikan, selama pandemi Covid-19 masih ada 10.629 bumdes yang tetap aktif melakukan transaksi, yang menyebar di 368 kabupaten/kota di 33 provinsi. Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, total transaksi yang dilakukan oleh bumdes tersebut mencapai Rp 308 miliar dengan melibatkan 58.026 orang.

"Harapan reborn ekonomi desa sangat realistis, karena selama empat bulan terakhir ekonomi di desa sebetulnya masih cenderung bergerak. Ada 10.629 bumdes yang masih aktif melakukan transaksi. Optimisme ini akan semakin nyata apabila setahun ke depan 37.286 bumdes di seluruh Indonesia kembali aktif bertransaksi,” kata Dodik Pranata Wijaya dalam acara diskusi melalui webinar, Selasa (14/7/2020).

Dalam melakukan transformasi ekonomi di pedesaan, Dodik menyampaikan revitalisasi bumdes menjadi strategi yang dipilih Kementerian Desa. Langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan registrasi bumdes di aplikasi android bumdes dari Kementerian Desa, sehingga lebih mudah dalam pengawasan atau pendampingan.

Baca Juga: Presiden Tinjau Lahan Food Estate di Kalteng

Dari hasil profiling 18.195 bumdes yang terdiri atas 29.733 unit usaha, Dodik menjabarkan klasifikasinya adalah 4.651 bumdes maju, 9.682 bumdes berkembang, 3.861 bumdes pemula.

Dodik juga merinci jumlah desa yang terdampak Covid-19 akibat kegiatan ekspor terganggu. Menurut Dodik, melambatnya ekonomi global akibat Covid-19 ini juga akan dialami oleh 3 persen desa di Indonesia (2.473 desa) yang semakin sulit mengekspor produk unggulan.

Rinciannya adalah 1.183 desa yang mengekpor produk pangan, 517 desa pengekspor produk non pangan, dan 773 desa pengekspor produk pangan dan non pangan. Sedangkan dampak tidak langsung dialami 22 persen desa lainnya (16.747 desa) yang memiliki potensi unggulan namun sulit mengekspor.

Baca Juga: Desa Penyangga Utama Ketahanan Pangan

"Dari total 74.953 desa, setidaknya ada 3 persen desa yang mengalami kesulitan dalam mengekspor produknya. Sedangkan yang terdampak tidak langsung lebih besar lagi mencapai 22 persen,” kata Dodik.



Sumber: BeritaSatu.com