Ikappi Catat 1.053 Pedagang Pasar Terpapar Covid-19

Ikappi Catat 1.053 Pedagang Pasar Terpapar Covid-19
Pedagang Pasar Pademangan Timur mengikuti "rapid test" Covid-19, Jumat, 19 Juni 2020. (Foto: Suara Pembaruan / Carlos Roy Barus)
Hotman Siregar / FER Selasa, 14 Juli 2020 | 19:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) mengakui jumlah kasus positif Covid-19 yang terjadi di pasar tradisional terus meningkat. Menurutnya, pasar tradisional di DKI Jakarta masih menjadi lokasi paling tinggi penyebaran virusnya.

Baca Juga: Jual-Beli di Pasar Pasti Aman dengan Protokol Kesehatan

"Ada beberapa provinsi baru yang masuknya jumlah kasus cukup tinggi yaitu Papua. DKI masih menjadi provinsi tertinggi disusul Jatim," kata Ketua Bidang Infokom DPP Ikappi, Reynaldi Sarijowan di Jakarta, Selasa (14/7).

Ikappi mencatat hingga saat ini terdapat sebanyak 1.053 orang positif Covid-19 di pasar tradisional yang tersebar di 190 pasar di Indonesia. Penambahan kasus tertinggi dalam satu pekan terakhir.

Reynaldi menjelaskan, semakin tingginya kasus positif Covid-19 di pasar tradisional disebabkan banyak masyakarat yang memandang remeh virus mematikan tersebut.

"Pada kurun waktu bulan juni 2020 kami lihat bahwa ritme peningkatan teridentifikasi lebih tinggi di banding bulan bulan sebelumnya," ujarnya.

Baca Juga: Sandiaga Soroti Penularan Covid-19 di Pasar Tradisional

Menurut Reynaldi, pemerintah daerah terutama Pemprov DKI selain gencar melakukan rapid test dan swab test, juga harus memberikan edukasi tentang bahayanya virus tersebut.

"Informasi yang terus kami terima, bahwa ketidakpercayaan publik terhadap bahaya Covid-19 menjadi faktor utama peningkatan kasus positif Covid-19 di pasar," katanya.

Tak hanya itu, Ikappi meminta agar pedagang pasar dapat terus bekerja sama secara aktif terutama dalam menerapkan prokol kesehatan Covid-19. Ia mendorong agar pedagang menggunakan sekat plastik guna menghindari komunikasi langsung antar pedagang dan pembeli.

"Ini yang paling efektif di banding kebijakan ganjil genap atau kebijakan pembatasan jam operasional. Karena justru pembatasan jam operasional dapat meningkatkan penyebaran karena akan ada penumpukan di jam jam tersebut," kata Reynaldi.



Sumber: BeritaSatu.com