Dampak Covid-19, Pendapatan UMKM di DIY Turun 80%

Dampak Covid-19, Pendapatan UMKM di DIY Turun 80%
Ilustrasi usaha mikro, kecil, dan menengah. (Foto: Antara)
Fuska Sani Evani / FER Selasa, 14 Juli 2020 | 19:27 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Dinas Koperasi dan UKM Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Jogja Economic Resilience for Covid-19 (Jercovid) telah melakukan survei pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di DIY terdampak pandemi virus corona (Covid-19).

Baca Juga: Bantu UMKM, Pupuk Indonesia Salurkan Dana PKBL Rp 29 Miliar

Sebanyak 1.000 UMKM yang masuk sebagai koresponden melalui aplikasi 'Sibakul' dan Google Form dari seluruh DIY, sebanyak 321 pelaku usaha perdagangan terdampak paling parah, atau 32,1 persen, disusul industri pengolahan sebanyak 250 pelaku usaha (25 persen).

Kepala bidang layanan kewirausahaan Dinas Koperasi dan UKM DIY, Agus Mulyono melalui keterangan tertulisnya (Selasa (14/7/2020) mengatakan, survei sudah dilakukan sejak tanggal 28 Mei 2020 lalu, melalui platform digital yaitu google form dan aplikasi 'Sibakul' market place program pemerintah daerah (Pemda).

Bidang berikutnya, adalah ekonomi kreatif (21.2 persen). Sedang bidang Usaha lainnya terdata 133 pelaku (13.3 persen) UMKM, atau pelaku usaha yang belum bisa menentukan kategori bidang usahanya atau memang merupakan jenis usaha yang melibatkan lebih dari satu bidang usaha, bidang jasa 46 (4.6 persen).

Sedangkan bidang usaha dengan peringkat persentase paling banyak adalah pertanian 16 (1.6 persen), pariwisata 8 (0.8 persen), transportasi 5 (0.5 persen), kelautan dan perikanan 4 (0.4 persen ), real estate dan properti 3 (0.3 persen), konstruksi 2 (0.2 persen).

Baca Juga: Go Digital Jadi Modal Pelaku UMKM Berdaya Saing

Dikatakan, sejak pertengahan Maret hingga Juni 2020, pendapatan UMKM turun dari Rp 19,3 miliar menjadi Rp 3 miliar atau turun hingga 80 persen.

"Karena itulah, dibutuhkan skema yang tepat untuk mengatasinya, dan pendataan ini sangat berguna sebagai acuan dalam pembuatan kebijakan bagi para pelaku UMKM di DIY," kataAgus Mulyono.

Sekretaris umum Jercovid, Timotius Apriyanto menambahkan, pendataan tersebut dilakukan dengan metode non-random sampling yaitu purposive sampling. Di mana proses sampling tidak dilakukan secara random, namun, dilakukan dengan menetapkan ciri-ciri khusus untuk mendapatkan jawaban dari permasalan.

Berdasar gambaran tersebut, Timotius berkeyakinan bahwa UMKM perlu mendapat stimulan yang tepat agar usahanya tidak gulung tikar, dan sebagai salah satu contoh, dengan pemberian insentif kredit lunak bantuan modal kerja. "Bantuan untuk UMKM baiknya berupa pemberdayaan agar bisa survive lebih panjang, dan tidak tepat jika dana segar," ujar Timotius.

Baca Juga: Ditjen Pajak Harap UMKM Bisa Manfaatkan Insentif Pajak

Bersamaan dengan pendataan tersebut, kata Timotius, Jercovid juga membuka layanan pengaduan dan pemdampingan untuk para pelaku dunia usaha, dan industri termasuk UMKM, berupa pendamping non-litigasi, yang bekerja-sama dengan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY dan Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) DIY dan di dukung Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) DIY.



Sumber: BeritaSatu.com