Kasus Baru Covid-19 di Yogyakarta Meningkat Signifikan

Kasus Baru Covid-19 di Yogyakarta Meningkat Signifikan
Paramedis menangani pasien terinfeksi virus "corona". (Foto: AFP / Alberto Pizzoli)
Fuska Sani Evani / JAS Minggu, 2 Agustus 2020 | 17:53 WIB

Yogyakarta, Beritasatu.com - Dalam dua hari, Sabtu-Minggu (1-2/08/2020) penambahan kasus positif Covid-19 di DI Yogyakarta tercatat signifikan. Pada Sabtu tercatat 67 orang terinfeksi corona dengan kode Kasus 680 hingga Kasus 746. Sedang pada Minggu dilaporkan 19 sehingga kasus positif, sehingga total kasus positif di DIY menjadi 760 kasus.

Distribusi kasus dalam dua hari, tertinggi berada di Kabupaten Sleman, yakni 53 kasus, disusul Bantul 20 kasus, Kota Yogya 5 kasus, Kulonprogo 3 kasus sedang di Gunungkidul tidak ada penambahan kasus positif. Namun tiga (3) kasus positif masih ditelusuri.

Distribusi kasus berdasarkan riwayat awal, 20 kasus merupakan screening karyawan kesehatan, kontak tracing kasus (15 kasus), belum ada keterangan (28 kasus), tracing karyawan koperasi swasta di Sleman (21 kasus), dan perjalanan ke luar daerah, dua kasus.

Juru Bicara Pemda DIY, Berty Murtiningsih juga melaporkan 11 orang dinyatakan sembuh, sehingga total kasus sembuh menjadi sebanyak 421 kasus.

“Sebanyak 19 orang positif itu didapat dari pemeriksaan 434 sampel (406 orang), sedangkan total suspek Covid-19 di DIY mencapai 10.804, meninggal dengan status positif mencapai 21 orang,” terangnya.

Terkait peningkatan kasus tersebut, Berty Murtiningsih, memastikan di RS rujukan masih ada tempat tidur yang tersedia, baik tempat tidur critical atau yang dilengkapi dengan ventilator dan 93 tempat tidur noncritical yang tersebar di berbagai RS rujukan di DIY.

Berdasar jumlah karyawan kesehatan yang positif Covid-19 yakni 46 orang, Berty Murtiningsih membenarkan bahwa hasil screening karyawan kesehatan itu lebih banyak didominasi berasal dari Bantul.

“Karyawan kesehatan, dari Puskesmas, namun belum diketahui secara pasti keterangan atau asal riwayat penularan,” katanya.

Terpisah, Kepala Dinas kesehatan Bantul, Agus Budi Raharjo mengatakan para nakes positif Covid-19 merupakan hasil swab massal di semua layanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta sebanyak 6.000 orang.

“Pemeriksaan swab itu hasilnya belum keluar semua. Proses pemeriksan swab masih terus dilakukan untuk memastikan semua nakes di Bantul aman terlebih dahulu dari Covid-19 sebelum melakukan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umun,” ujar Agus Budi.

Nakes yang belum dinyatakan negatif, masih menjalani proses isolasi di rumah sakit. Sebagian besar di rawat di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 Bambanglipuro Bantul dan tempat isolasi khusus, yakni Gedung Saemaul Sumbermulyo, Bambanglipuro.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, sebelumnya mengatakan bahwa pedoman penanganan Covid-19 saat ini mengalami perubahan sesuai pedoman yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan.

Dalam pedoman revisi lima tersebut, pasien terkonfirmasi positif yang tidak bergejala atau OTG cukup diisolasi di rumah atau selter dengan tetap melalui pengawasan. Sedang rumah sakit khusus Covid-19 hanya pasien bergejala sedang dan berat.

Namun untuk di Bantul OTG tetap akan dirawat di rumah sakit darurat Covid dan memindahkannya ke selter jika rumah sakit darurat tersebut sudah tidak mampu menampung.

Selter Dibuka Kembali

Menanggapi meningkatnya jumlah pasien positif Covid-19, Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana meminta Pemda DIY untuk mengaktIfkan kembali selter di masing-masing daerah.

"Ada tren yang tinggi di DIY. Saya mendesak agar Pemda perlu aktifkan kembali selter masing-masing rumah sakit atau tiap-tiap daerah untuk antisipasi," katanya, Minggu (2/8/2020).

Huda mengakui, banyaknya tes massal yang dilakukan selama ini membuat angka kasus positif Covid-19 di DIY menjadi tinggi.

Dengan kondisi seperti itu, kapasitas rumah sakit di DIY akan over load dan membuat penanganan terganggu.

"Jangan sampai pasien Covid-19 yang positif tanpa gejala tidak mendapat ruang isolasi dan dipulangkan. Sehingga berdampak menyebar secara luas," imbuhnya

Huda mengklaim, kapasitas rata-rata rumah sakit rujukan saat ini sebanyak 320 tempat tidur. Dengan kekosongan hanya 100 tempat tidur.

"Dan kebanyakan kasus konfirmasi ini positif tanpa gejala. Dengan mengaktifkan selter, mereka setidaknya tidak menyebar ke mana-mana. Di ruang khusus dan terpantau," urainya.

Saat ini memang belum sepenuhnya pemda tingkat kabupaten/kota memiliki selter untuk isolasi pasien tanpa gejala.



Sumber: BeritaSatu.com