Sukses Jakob Oetama dan Penyelenggaraan Ilahi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Sukses Jakob Oetama dan Penyelenggaraan Ilahi

Rabu, 9 September 2020 | 16:02 WIB
Oleh : DAS

Jakarta, Beritasatu.com - Hidup ini seolah-olah bagai sebuah kebetulan-kebetulan, tapi bagi saya itulah providentia Dei, itulah penyelenggaraan Allah. Begitulah salah satu kutipan dari tokoh pers senior dan bepengaruh, Jakob Oetama, yang tutup usia pada Rabu (9/9/2020).

Seperti dikutip dari tulisan “Refleksi 85 Tahun Jakob Oetama” yang dimuat di Visual Interaktif Kompas, bagi Jakob Oetama kebesaran nama dan cerita sukses perjalanan hidupnya bukanlah semata-mata karena kehebatan dirinya, melainkan providentia Dei, bahasa latin yang berarti penyelenggaraan Ilahi.

Providentia Dei adalah kata-kata yang selalu diselipkan tiap kali Jakob berkisah tentang pengalaman hidupnya, terutama tentang perjalanan panjang membesarkan Kompas Gramedia.

Di balik makna providentia Dei tersirat kerendahan hati luar biasa. Dia mengimani, Tuhanlah yang menuntun langkah hidupnya melalui berbagai peristiwa kebetulan dalam hidup.

Jakob Oetama lahir di Desa Jowahan, 500 meter sebelah timur Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, 27 September 1931. Bernama lengkap Jakobus Oetamo, panggilan kecilnya adalah Raden Bagus To. Ia adalah putra pertama dari 13 bersaudara pasangan Raymundus Josef Sandiyo Brotosoesiswo dan Margaretha Kartonah.

Sang ayah, Brotosoesiswo, adalah seorang guru Sekolah Rakyat yang selalu berpindah-pindah tugas. Terakhir, Brotosoesiswo menetap di Sleman hingga meninggal tahun 1975. Profesi ini yang kemudian ditekuni Jakob sebelum menjadi jurnalis.

Jakob sempat mengecap tiga bulan pendidikan calon pastor di seminari tinggi. Ia memutuskan keluar karena ingin menjadi seorang guru seperti ayahnya. Jakob pun mendapat pekerjaan sebagai guru di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat. Ia mengajar di sana tahun 1952 hingga 1953.

Dari Cipanas, Jakob pindah ke Sekolah Guru Bagian B (SGB) di Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan, tahun 1953-1954, lalu pindah lagi ke SMP Van Lith di Jalan Gunung Sahari, Jakarta Pusat, tahun 1954-1956.

Sambil mengajar SMP, Jakob mengikuti kuliah kursus B-1 Ilmu Sejarah, lulus. Ia kemudian melanjutkan kuliah ke Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada hingga tahun 1961.

Persentuhannya dengan dunia jurnalistik terjadi ketika Jakob mendapat pekerjaan baru sebagai sekretaris redaksi mingguan Penabur dan berhenti mengajar pada tahun 1956. Tugas hariannya di mingguan itu adalah menjalankan peran sebagai pemimpin redaksi.

Berkat belajar Ilmu Sejarah, tumbuh minatnya untuk menulis. Di Penabur, Jakob menulis apa saja, selalu tanpa nama, dari mulai liputan lapangan sampai ulasan-ulasan sosial, politik, dan budaya.

Minat dan kepekaannya pada masalah-masalah manusia dan kemanusiaan diakui Jakob sebagai warisan yang dipupuk selama pendidikan di seminari menengah yang kemudian menjadi spiritualitas Kompas. “Saya sangat terbantu dan diperkaya oleh kepekaan humaniora yang terpupuk dan berkembang berkat pendidikan di seminari menengah,” kata Jakob sebagaimana dituturkan dalam buku Syukur Tiada Akhir.

Warisan hati dari pendidikan itu kemudian diperkaya oleh minatnya untuk mendalami ilmu-ilmu kemanusiaan, seperti falsafah dan sastra klasik, lalu ditunjang oleh kegemarannya mendalami secara komprehensif masalah-masalah sosial budaya dan sosial ekonomi.

Jakob pernah berada dalam kebimbangan ketika harus memilih antara menjadi pengajar atau menjadi wartawan. Pasalnya lulus B-1 Sejarah dengan nilai rata-rata 9, Jakob direkomendasikan memperoleh beasiswa di University of Columbia, Amerika Serikat. Salah satu guru sejarahnya, seorang pastor Belanda, Van den Berg, SJ mengarahkan Jakob memperoleh gelar PhD dan kelak menjadi sejarawan atau dosen sejarah.

Selain itu, Jakob sempat diterima menjadi dosen di Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung yang juga sudah menyiapkan rekomendasi Jakob akan dikirim untuk meraih gelar PhD di Universitas Leuven, Belgia.

Kebimbangan itu sirna setelah perjumpaannya dengan Pastor JW Oudejans OFM, pemimpin umum di mingguan Penabur. Suatu ketika, Oudejans bertanya kepada Jakob tentang profesi yang kelak akan ditekuninya. Jakob menjawab ingin jadi dosen. Oudejans menasihati, “Jakob, guru sudah banyak, wartawan tidak.”

“Itulah titik balik ke masa depan yang harus saya gulati. Menjadi wartawan profesional, bukan guru profesional,” kata Jakob.

Seperti diketahui Jakob akhirnya menggeluti dunia pers hingga mendirikan Intisari dan Kompas bersama Petrus Kanisius Ojong. Perjumpaan pertama Jakob dengan PK Ojong terjadi pada 1958 dalam sebuah kegiatan jurnalistik. Saat itu, Ojong memimpin harian Keng Po dan mingguan Star Weekly, sedangkan Jakob di Penabur.

Mereka selanjutnya kerap bertemu dalam kegiatan sosial, politik, dan budaya, seperti di lingkungan Ikatan Sarjana Katolik, program asimilasi Badan Komunikasi Penghayat Kesatuan Bangsa, dan di sejumlah acara Partai Sosialis Indonesia.

Jakob mengingat, pertemuan-pertemuannya dengan Ojong kemudian terjadi rutin begitu saja. Awal 1960-an situasi, politik kala itu terasa begitu mengekang. Partai Komunis berpengaruh besar dalam pemerintahan. Harian Keng Po diberangus pemerintah tahun 1958, sementara Star Weekly mengalami nasib serupa pada 1961. Keduanya tidak disukai pemerintah kala itu karena sikap kritisnya.

Suatu hari, sambil menonton sendratari Ramayana di Prambanan, Jawa Tengah, dilanjutkan dengan makan ayam goreng Mbok Berek, Ojong mengajak Jakob mendirikan sebuah majalah baru yang tujuannya untuk menerobos kekangan informasi yang saat itu didominasi oleh pemerintah di bawah kendali komunis.

Pembicaraan itu berlanjut dengan mendirikan majalah Intisari pada 1963. Misi majalah itu adalah mendobrak kekangan politik isolasi yang dilakukan pemerintah. Mereka merasakan, situasi kala itu membutuhkan sebuah media yang memuat artikel-artikel human story yang membuka mata dan telinga masyarakat.

Intisari terbit pertama pada 17 Agustus 1963. Nama dan logonya sama persis dengan rubrik halaman pertama yang diasuh Ojong di Star Weekly yang ditutup.

Saat tengah asyik-asyiknya menggulati Intisari, Menteri Perkebunan Frans Seda dari Partai Katolik meminta keduanya untuk mendirikan sebuah surat kabar Partai Katolik. Seda menginginkan adanya koran Partai Katolik karena permintaan Menteri/Panglima TNI AD Letjen Ahmad Yani. Alasannya, hampir semua partai kala itu memiliki corong partai.

Perlu juga dipahami konstelasi politik saat itu. Ada tiga kekuatan politik besar. Pertama adalah Bung Karno sebagai Pemimpin Besar Revolusi dan Kepala Pemerintahan yang mengonsolidasikan kekuatan dan kekuasaan politiknya melalui pengembangan demokrasi terpimpin.

Kedua adalah ABRI, yang berusaha meredam kekuatan politik PKI melalui kerja sama dengan organisasi-organiasi masyarakat dan politik non atau anti-komunis. Sementara itu, yang ketiga adalah Partai Komunis Indonesia yang merapat ke Bung Karno.

Ide Ahmad Yani, Partai Katolik perlu memiliki sebuah media untuk mengimbangi kekuatan PKI. PK Ojong dan Jakob kemudian bersepakat mendirikan sebuah koran yang diharapkan menjadi sebuah jalan tengah. Koran itu, meskipun lahir dari inisiatif tokoh Partai Katolik, bukanlah corong partai. Koran itu harus berdiri di atas semua golongan, oleh karena itu harus bersifat umum, didasarkan pada kenyataan kemajemukan Indonesia, harus menjadi cermin realitas Indonesia, mengatasi suku, agama, ras, dan latar belakang lainnya. “Dia harus mencerminkan miniaturnya Indonesia,” kata Jakob.

Mulanya, nama yang dipilih andalah “Bentara Rakyat”. Artinya, koran itu memang dimaksudkan untuk menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia rakyat. Motonya pun dipilih “Amanat Penderitaan Rakyat”. Koran itu bukan koran partai, melainkan sarana untuk kemajuan Indonesia yang berpijak pada kemajemukannya.

Saat Frans Seda bertemu Bung Karno, Si Bung Besar tidak setuju dengan nama “Bentara Rakyat”. Bung Karno berkata, “Aku akan memberi nama yang lebih bagus...”Kompas”! Tahu toh, apa itu kompas? Pemberi arah dan jalan dalam mengarungi lautan dan hutan rimba!”.

Jadilah nama pemberian Bung Karno itu digunakan sebagai nama koran hingga sekarang.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: Visual Interaktif Kompas

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Satgas Nemangkawi Akan Lakukan Penegakan Hukum terhadap KKB di Kiwirok

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri menyatakan personel Satgas Nemangkawi yang ditugaskan ke Kiwirok akan melakukan penegakan hukum terhadap KKB

NASIONAL | 25 September 2021

Prihatin Azis Syamsuddin Ditetapkan Tersangka dan Ditahan, PSI: Menyedihkan

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) prihatin terhadap ditetapkannya Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin sebagai tersangka.

NASIONAL | 25 September 2021

Bupati Pegunungan Bintang Dampingi Nakes Gerald Sokoy ke Sentani

Bupati Pegunungan Bintang (Pegbin) Spei Yan Bidana, mendampingi tenaga kesehatan (nakes) Gerald Sokoy yang sebelumnya dilaporkan hilang di Kiwirok ke Sentani

NASIONAL | 25 September 2021

Sepekan, Gunung Merapi Luncurkan 141 Guguran Lava

Gunung Merapi meluncurkan guguran lava 141 kali selama sepekan, 17-23 September 2021.

NASIONAL | 25 September 2021

Jokowi Unggah Video Kisah Mantan Sopirnya Suliadi di Solo

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membagikan video mengenai kisah mantan sopirnya di Solo, Jawa Tengah, Suliadi

NASIONAL | 25 September 2021

Mahfud MD Perintahkan Aparat Tingkatkan Pengamanan di Rumah Ibadah

Menko Polhukam Mahfud MD meminta aparat penegak hukum untuk meningkatkan pengamanan di rumah ibadah.

NASIONAL | 25 September 2021

2 Perguruan Tinggi Indonesia Masuk Daftar Program Studi MBA Terbaik Dunia

Program Magister Manajemen-Binus Business School menempati klaster peringkat 201-250 bersama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

NASIONAL | 25 September 2021

Ini Rekomendasi Satgas Covid-19 Saat Menonton Langsung PON XX Papua

Pemerintah berupaya memitigiasi risiko penularan Covid-19 dalam gelaran Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua.

NASIONAL | 25 September 2021

Jelang PON, BNPB Kirimkan 350.000 Masker ke Kabupaten Mimika

BNPB akan mengirimkan 350.000 masker pada tempat-tempat penyelenggaraan PON XX di wilayah Kabupaten Mimika.

NASIONAL | 25 September 2021

Polri: Ada 6 Calon Tersangka Dugaan Penganiayaan M Kace, Salah Satunya Napoleon

Ada enam calon tersangka dalam perkara dugaan penganiayaan terhadap Muhammad Kace atau Muhammad Kece, salah satunya Irjen Pol Napoleon Bonapart

NASIONAL | 25 September 2021


TAG POPULER

# Kasus Aktif Covid-19


# Azis Syamsuddin


# Timnas Brasil


# Kripto


# Pembakaran Mimbar Masjid



TERKINI
Sepupu Maverick Vinales Tewas Saat Balapan di Spanyol

Sepupu Maverick Vinales Tewas Saat Balapan di Spanyol

OLAHRAGA | 13 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings