UMKM Produsen Masker Keluhkan Label SNI
Logo BeritaSatu

UMKM Produsen Masker Keluhkan Label SNI

Kamis, 1 Oktober 2020 | 18:47 WIB
Oleh : Yudo Dahono / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah saat ini tengah gencar melarang penggunaan masker kain tanpa label SNI dipakai oleh masyarakat untuk mencegah penyebaran virus corona.

Menyikapi hal tersebut, Hary Ruswanto, pengusaha masker dan kuliner, mengaku merasa keberatan. Dalam pandangannya, penetapan label SNI tersebut dapat mematikan industri UMKM atau pun rumahan yang dijalankan perorangan, yang kini banyak beralih dan bergantung kuat pada produksi masker atau alat kesehatan lainnya

Diutarakan Gendar- sapaan Hary Ruswanto- masker harus berstandar kesehatan itu penting, seperti bahan kain dengan lapis dua atau tiga atau dilapisi tisu. “Namun kalau untuk ekspor, oke saja. Tapi kalau untuk lokal dan harus label SNI itu kan bikin masyarakat kita semakn mati lagi,” katanya saat dihubungi, Kamis (1/10/2020).

"Padahal kuncinya, saat ini adalah disiplin menjalankan protokol kesehatan, ditambah olahraga dan mengonsumsi makanan bergizi sehingga imun kita bertambah. Jadi tidak hanya bergantung pada masker saja," imbuhnya.

Menurutnya lagi, saat ini sangat banyak orang bisa hidup dari pembuatan masker ini. Bahkan, harus diakui jadi bisnis alternatif di tengah pandemi corona dan membuat masyarakat menjadi kreatif.

"Saat ini khan mengurus label SNI kan waktunya tidak sebentar, ada biayanya, mana mungkin usaha menengah dan kecil yang sudah jalan atau berpoduksi, mengejar hal ini secara singkat. Ditambah lagi mereka tentu kalah dengan dengan perusahaan konveksi atau pabrik-pabrik besar," tegasnya.

Catatan, saat ini untuk mendapatkan label SNI dinilai cukup rumit bagi pelaku usaha konveksi kecil dan menengah.

Pasalnya, dalam mengisi formulir permohonan SPPT SNI juga mesti mengumpulkan dokumen-dokumen seperti fotokopi sertifikat manajemen mutu ISO 9001 : 2000 yang dilegalisasi oleh Lembaga Sertifikasi Sistem Mutu (LSSM) dan Komite Akreditasi Nasional (KAN).

Mantan manajer tim sepakbola Persitara Jakarta Utara dan Persebaya Surabaya yang sudah menggeluti distribusi masker dan alat kesehatan sejak 1998 tersebut menambahkan, bahwa pihaknya sangat berharap kebijakan ini dikaji ulang pemerintah.

“Pemerintah harus sangat berpihak pada kreasi anak bangsa yang bikin masker dan tidak setuju harus pakai label SNI segala. Apalagi tidak membeikan solusi usaha lain yang bisa ditekuni dan dibutuhkan masyarakat dalam kondisi seperti ini,” pungkasnya.

Sebagai informasi, pada 16 September 2020, SNI yang disusun Kementerian Perindustrian (Kemperin) tersebut telah mendapatkan penetapan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebagai Standar Nasional Indonesia (SNI) 8914:2020 Tekstil – Masker dari kain melalui Keputusan Kepala BSN Nomor No.408/KEP/BSN/9/2020.

Alasan pemerintah menerapkan SNI masker kain untuk masyarakat yang berada di wilayah zona merah.

Saat ini tim pakar Satgas bersama beberapa perusahaan akan memproduksi masker lokal dengan standarisasi filter mencapai 70-80%. SNI masker kain itu dibuat juga berdasarkan rekomendasi dari BPPT dan pihak Jerman.



Sumber: BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Polda Papua Siapkan Tim Investigasi Penembakan Pendeta

TNI/Polri mengklaim pelaku penembekan pendeta Yeremia adalah KKB, sedangkan sejumlah tokoh agama setempat menyebut pelakunya adalah oknum prajurit TNI.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Disebut Atasan Sebagai Bencong, Perwira Polri Minta Mundur

Polda Jawa Timur akan mendalami alasan Kasat Shabara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo yang mengajukan pengunduran diri karena disebut sebagai bencong.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Terdakwa Kasus Jiwasraya Klaim Tak Berwenang Kendalikan 13 MI

Joko Hartono Tirto menegaskan bukan pemegang saham ataupun wakil pemegang saham, serta pejabat berwenang di korporasi-korporasi tersebut.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

BKSAP Dorong WTO Jamin Sistem Ketersediaan Vaksin Covid-19

BKSAP mendorong WTO untuk menjamin sistem perdagangan internasional dengan cara melindungi aspek ketersediaan dan keterjangkauan universal atas vaksin Covid-19.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Sepekan, 20 Provinsi Alami Peningkatan Kasus Positif Covid-19

Secara nasional terdapat 20 provinsi dengan jumlah kasus meningkat dibandingkan minggu sebelumnya.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Hari Kesaktian Pancasila, Moeldoko: Jangan Lupakan Sejarah

Menurut Moeldoko, Kesaktian Pancasila harus dimaknai secara luas oleh seluruh masyarakat Indonesia.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Serahkan Bantuan untuk Pelaku UMKM, Presiden: Jangan Pernah Menyerah

Presiden Joko Widodo meminta kepada pelaku UMKM untuk tidak pernah menyerah di tengah pandemi Covid-19.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

KAI Tugaskan KCI Operasikan KA Lokal di 2 Wilayah

KAI menugaskan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) untuk mengoperasikan kereta api (KA) lokal di Daerah Operasi (Daop) 6 Yogyakarta dan Daop 1 Jakarta.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Densus 88 Geledah Sebuah Rumah di Sleman

Densus 88 menggeledah sebuah rumah Kabupaten Sleman, tepatnya di Perumahan Tirtabuana Blok F, Dusun Cepor, Kelurahan Sendangtirto, Berbah, Sleman.

NASIONAL | 1 Oktober 2020

Ekspose Kebakaran Gedung Kejagung, Tersangka Masih Nihil

Ekspose kebakaran gedung Kejagung masih belum menentukan siapa perkara pada kebakaran yang terjadi 23 Agustus lalu.

NASIONAL | 1 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS