Menjaga Semangat Solidaritas Sosial di Saat Pandemi
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Program Jogo Tonggo di Jawa Tengah

Menjaga Semangat Solidaritas Sosial di Saat Pandemi

Senin, 2 November 2020 | 12:01 WIB
Oleh : Stefy Thenu / JEM

Semarang, Beritasatu.com – Jarum jam yang tertempel di dinding ruangan kelas menunjukkan pukul 12.00 WIB. Tak lama berselang, suara azan berkumandang. Haka (17) dan para santri pria lainnya bergegas keluar ruangan. Berjalan kaki, menuruni beberapa anak tangga menuju masjid, yang terletak di dekat pintu masuk pondok. Mereka berjajar antre satu per satu menjaga jarak, mengambil air wudu, untuk salat Zuhur berjamaah.

Usai berwudu, tanpa dikomando, ratusan santri pria dan perempuan itu mengambil sof dengan jarak lebih dari satu meter. Sambil khusyuk bersembahyang, para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Uswah, yang terletak di Pakintelan, Gunungpati, Kota Semarang itu, tetap disiplin memakai masker.

“Di sini, kami wajib memakai masker, menjaga jarak dan dilarang berkerumun. Kalau ketahuan tidak memakai masker, sanksinya menyapu atau berdiri di kelas. Saya pernah sekali kena hukuman, disuruh berdiri setengah jam saat ngaji karena tidak pakai masker,’’ ujar Haka, santri asal Bantul, Yogyakarta, yang kini duduk di bangku kelas XII, saat ditemui Beritasatu.com, usai salat, Selasa (27/10/2020).

Remaja santun bernama lengkap Nan Haka Haka Muhammad Musa itu mengaku, awalnya canggung dengan penerapan 3 M (menjaga jarak, memakai masker, dan mencuci tangan dengan sabun) di pondok mereka. Menurut remaja kelahiran 10 April 2003 itu, dia dan santri lainnya semula risih dan kurang nyaman memakai masker.

‘’Awalnya tidak nyaman, kadang bikin sulit bernafas. Makanya, saat baru diterapkan, cukup banyak santri yang lupa memakai masker, dan akhirnya kena hukuman. Tapi, sekarang sudah biasa. Malah ada yang kurang, kalau tidak membawa masker,’’ ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Jogo Santri
Pengasuh Ponpes Al Uswah, KH Muhammad Thoyyib Farchany Al-Hafidz (47) menuturkan, sejak terjadi pandemi Covid-19, pihaknya menerapkan protokol kesehatan mengikuti anjuran Pemerintah dan Satgas Covid-19, yang di lingkungan ponpes di Jateng, dikenal dengan nama Jogo Santri.

‘’Kegiatan pondok dimulai setelah libur Lebaran kemarin. Semula mau kami liburkan terus karena situasi masih pandemi. Tapi, kalau kelamaan, kasihan para santri tertinggal pendidikannya,’’ ungkap kiai yang biasa disapa Abah Thoyyib itu.

Maka, sebelum para santri kembali dari kampung halamannya, pihak pengurus ponpes memberlakukan syarat ketat. Syarat pertama, para santri harus membawa surat keterangan sehat dari Puskesmas dari tempat tinggal masing-masing.

‘’Kami juga membagi jadwal kedatangan para santri dan wali santri (orang tua), untuk menghindari kerumunan saat tiba di pondok. Selain itu, wali santri yang mengantar hanya boleh dua orang,’’ imbuhnya.

Saat mereka tiba di pondok, petugas di Posko Jogo Santri memeriksa suhu tubuh para santri dan wali santri dengan thermo gun. Bukan itu saja, barang bawaan para santri juga dikumpulkan dan satu per satu disemprot cairan desinfektan.

‘’Bukan itu saja, kami juga mengurangi jumlah santri di dalam kamar. Satu kamar berukuran 4x6 meter yang semula diisi enam orang, sekarang dikurangi menjadi empat orang,’’ sambung Abah.

Menurut Abah Thoyyib, Jogo Santri di pondoknya juga diwujudkan dengan membantu meringankan biaya hidup santri yang kurang mampu. ‘’Selain ada santri yang mandiri, kami juga memberikan subsidi biaya kepada santri dari keluarga kurang mampu, ada yang separuh, ada juga yang dibantu penuh. Ini bagian dari Jogo Santri, membantu sesama yang membutuhkan,’’ ujarnya.

Sekretaris pondok, Muhammad Zulfa (30) menambahkan, sejak pandemi, tamu yang masuk pondok diperketat, agar para santri terhindar dari penularan virus corona. Setiap pagi, sebelum memulai aktivitas keagamaan dan pelajaran, setiap santri dicek suhu tubuhnya. Mereka diwajibkan memakai masker, dan dilarang berkerumun.

‘’Selain mereka dibekali masker oleh orang tua atau wali santri, kami juga menyediakan masker gratis, sehingga dapat menjamin higienitas dan kesehatan mereka,’’ ujar Zulfa.

Pihak pondok juga meminta pengertian dari para wali santri untuk sementara waktu tidak menengok anak mereka. Tujuannya, agar santri betul-betul steril dan aman saat berada di lingkungan pondok.

‘’Biasanya, waktu kunjungan dua minggu sekali pada Ahad (hari Minggu). Ada wali santri yang bisa memahami kondisi itu. Tapi, ada pula yang tetap datang karena kangen dengan anaknya, tetap kami persilakan, tapi dengan syarat, hanya boleh melihat anaknya dari kejauhan, tidak boleh bertatap muka langsung,’’ imbuhnya.

Kondisi itu juga dialami Haka, yang kadang tak mampu membendung rasa rindu pada orang tua, terutama ibunya. ‘’Saya hanya bisa melihat Abah (bapak) dan Umi (ibu) dari jauh, dari balik pagar. Tidak bisa seperti dulu, kami bisa puas bertemu, ngobrol dan makan bersama. Tapi, mau bagaimana lagi. Situasinya masih seperti ini. Kata para ustad dan Abah Thoyyib, situasi masih belum aman. Saya pikir abah dan umi bisa mengerti. Semoga pandemi ini, segera berakhir agar kami bisa bertemu seperti dulu,’’ ungkap Haka, dengan mata berkaca-kaca.

Zulfa menuturkan, sedikitnya 150 orang santri dari berbagai kota di Jateng dan beberapa dari Kalimantan dan Sumatera, menimba ilmu agama dan pengetahuan umum di Ponpes Al Uswah. Di pondok yang didirikan KH Mukhlisin (almarhum) ini, para santri menimba pendidikan nonformal yakni madrasah diniyah, tahfidzil Qur’an dan tahassus pendalaman Kitab Kuning. Selain itu, santri juga menimba ilmu pengetahuan umum di SMP dan SMA yang diselenggarakan pihak pondok.

Di pondok seluas 3 hektare yang berhawa sejuk karena berada di punggung lereng Gunung Ungaran, para santri juga belajar ekstra kurikuler seperti seni baca Alquran, khitobah 3 bahasa, hadroh, praktik Ubudiyah, tahassus Kitab Salafy, serta ekskul lainnya seperti bela diri, english club, komputer, futsal, Paskibra, basket dan voli.

Zulfa menjelaskan, kegiatan rutin para santri bangun pukul pukul 04.00 dan salat Subuh hingga 04.30, dilanjut ngaji pagi hingga 06.00. Setelah itu, mandi dan sarapan sampai jam 07.00. Pada 07.00-10.00 belajar. Kemudian 10.00-10.30 salat Dhuha. Pada 10.30-12.00 madrasah diniyah. Setelah itu, 12.00-12.30 salat Zuhur berjamaah.

Pada 12.30-15.00 makan siang dan istirahat. Pada 15.00 salat Ashar berjamaah dilanjut ngaji kitab hingga 16.15. Pada 16.15-17.30 mandi. Setelah itu, 17.50 salat Maghrib berjamaah dan ngaji Qur’an dilanjut salat Isya hingga 20.00. Pada 20.00-21.45 ngaji malam, dan berakhir pada 21.45 istirahat/tidur.

‘’Seluruh kegiatan itu membutuhkan kondisi kesehatan yang mumpuni. Makanya, kami disiplin menerapkan 3 M kepada para santri, agar mereka terjamin keamanan dan kesehatannya selama belajar di sini,’’ ujar Zulfa.

Penerapan protokol kesehatan itu, berbuah manis. Ponpes Al Uswah terpilih menjadi satu dari 15 ponpes di Jateng yang menerima penghargaan duta pesantren terbaik dalam menerapkan protokol kesehatan di pondok pesantren atau Jogo Santri.

Selain Al Uswah, ponpes penerima penghargaan Jogo Santri itu, yakni Ponpes Maslakul Huda (Pati), Balekambang (Jepara), Tanbihul Ghofilin (Banjarnegara), Tahfidz Al Hamidiyah (Pati), Walindo Manba'ul (Pekalongan), Riyadhotut Thalabah (Rembang), Nida Al Quran (Temanggung), Sabilurrasyad (Kendal), Sunan Gunung Jati Kismantoro (Wonogiri), Life Skill Daarun Najaah (Kota Semarang), Khozinatul Ulum 1 (Blora), PP MIBS (Kebumen), Al Falah Tejosari (Temanggung) dan PPTQ Darussalam (Jepara).

Pemberian penghargaan tersebut dilakukan melalui seleksi penerapan protokol kesehatan di pondok pesantren atau Jogo Santri, mulai dari administrasi, penilaian video, dan pengecekan langsung di lapangan. Dari sekitar 193 peserta se-Jawa Tengah, terpilih 15 pondok pesantren yang terbaik.

"Ke depan, duta pondok pesantren ini bisa secara bersama-sama menularkan atau bersosialisasi tentang penerapan protokol kesehatan atau Jogo Santri ke seluruh pondok pesantren, terutama di Jawa Tengah," ujar Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat menyerahkan penghargaan kepada 15 Duta Pondok Pesantren se-Jawa Tengah bertepatan dengan Peringatan Hari Santri 2020, Kamis (22/10/2020).

Penghargaan tersebut berupa uang pembinaan Rp 125 juta dan Jogo Santri Kit senilai Rp 8 juta per duta pondok pesantren tersebut. Taj Yasin menegaskan, pondok pesantren membutuhkan arahan dari pemerintah terkait dengan upaya pencegahan Covid-19.

"Kalau di Jawa Tengah sudah ada 15 duta pondok pesantren, diharapkan bisa memberikan pembinaan bagi pondok pesantren di Jawa Tengah yang lain," ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Taj Yasin menceritakan tokoh Islam yang berjasa di bidang kesehatan yakni Ibnu Sina. Selain itu, ia juga mengingatkan perjuangan KH Hasyim Asy'ari melawan penjajah.

"Temanya Santri Sehat Indonesia Kuat, maka itu santri diingatkan bahwa pernah punya Ibnu Sina yakni pahlawan dari kalangan santri. Dari sini, santri bisa berperan dalam melawan Covid-19 dengan segala keterbatasannya. Mbah KH Hasyim Asy'ari juga pernah mengeluarkan resolusi jihad melawan penjajah, kalau saat ink alangkah baiknya jika dari pesantren muncul resolusi jihad melawan Covid-19," paparnya.

Menurut Abah Thoyyib, sebelum dinyatakan terbaik, tim seleksi yang terdiri dari banyak instansi itu melakukan wawancara, mengecek langsung sarana dan pelaksanaan protokol kesehatan, serta menilai video yang dibuat oleh ponpes. ‘’Alhamdulilah, Al Uswah dinilai memenuhi syarat dan dinyatakan sebagai salah satu ponpes yang terbaik,’’ ujarnya.

Ihda Khullatil Mardiyah, Pengurus Pondok Pesantren Diyadhotut Thalabah Rembang mengatakan, pihaknya mengikuti seleksi duta pondok pesantren dengan menyiapkan beberapa hal, di antaranya, aturan protokol kesehatan, administrasi dan pembuatan video.

"Kami ikut seleksi mulai pengumpulan berkas, pembuatan video dan sampai didatangi panitia langsung," ujarnya, usai menerima penghargaan.

Pondok pesantrennya sudah menerapkan protokol kesehatan. Mulai pendaftaran santri baru secara daring, hingga cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak di tiap kegiatan di pondok pesantren.

"Selalu jaga jarak kalau mengaji dan salat. Kita juga ada pos kesehatan di pondok," ujar Ihda.

Sementara, Pengasuh Pondok Pesantren Nida Al Quran Temanggung, M Afham menuturkan, penghargaan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap pondok pesantren.

"Ini bentuk kepedulian dari pemerintah, sekaligus keseriusan dalam mengembangkan pendidikan di pondok pesantren. Harapannya, dunia pendidikan pondok pesantren ke depan lebih baik dan mampu menunjukkan prestasi," ungkapnya.

Jogo Santri menjadi prakarsa Jawa Tengah untuk mencegah penularan Covid-19 di lingkungan pondok pesantren. Kondisi santri yang hidup komunal dalam pondok pesantren, di saat pandemi Covid-19, berisiko tinggi terpapar virus corona. Tak heran, banyak bermunculan klaster penularan Covid-19 dari lingkungan pondok pesantren di Tanah Air.

Di Jawa Tengah, data hingga 19 Oktober 2020 lalu, tercatat ada 923 kasus Covid-19 dari klaster pondok pesantren. Jumlah itu secara prosentase sebanyak 44,6 persen dari total keseluruhan paparan Covid-19. Dari jumlah itu 123 orang dirawat di ruang isolasi khusus, 446 orang karantina mandiri, 82 orang dirawat di rumah sakit, dan 272 orang dinyatakan sembuh.

Sekretaris Rabithah Ma'ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, KH Abu Choir mengatakan, santri sangat berperan besar dalam penanggulangan Covid-19. Untuk itu, pelibatan santri dalam program Jogo Tonggo, khususnya Jogo Santri, di Jawa Tengah sangat diperlukan untuk menekan penularan virus corona, baik di lingkungan pesantren maupun masyarakat.

‘’Pelibatan santri sudah tepat, karena santri dapat menjadi agen perubahan untuk menekan penularan virus, baik di pondoknya maupun saat dia terjun di masyarakat,’’ ungkap Abu Choir, dalam webinar bertajuk "Santri Sehat Indonesia Kuat, Jogo Santri di Masa Pandemi Covid-19" yang digelar Yayasan Setara bersama Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Diponegoro dan didukung UNICEF memperingati Hari Santri Nasional, Kamis (22/10/2020).

Abu Choir menuturkan, peran santri terbukti dari munculnya gerakan kesadaran santri terhadap disiplin menerapkan protokol kesehatan di lingkungan pondok pesantren di Jateng.

"Mereka menjadi duta pondok pesantren, yang diharapkan bisa secara bersama-sama bersosialisasi tentang penerapan protokol kesehatan atau jogo santri ke seluruh pondok pesantren, terutama di Jawa Tengah," ujar Abu Choir.

Pihaknya mengakui, sebenarnya jumlah paparan Covid-19 di lingkungan ponpes seperti gunung es, karena pesantren cenderung tertutup.

"Ada ketakutan pesantren harus tutup jika ada kasus santri yang terpapar Covid-19. Sebenarnya pandemi ini adalah persoalan bersama, bukan hanya pesantren. Harus ada keterbukaan agar ada tindakan yang diperlukan," ujarnya.

Pesantren yang terpapar Covid-19, kata Abu Choir, terdata berada di Kabupaten Pati, Wonogiri, Kebumen, Banyumas, Cilacap dan Kendal.

‘’Pondok pesantren itu tidak terpapar secara serentak. Yang satu tertangani, muncul klaster di ponpes lain,’’ ungkapnya.
Dia mengingatkan pemerintah untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan melakukan swab massal di lingkungan pesantren, tanpa mempersiapkan terlebih dahulu sarana dan prasarana pendukung. Termasuk memikirkan dampak sosial yang mungkin timbul.

"Sebab jika yang positif terpapar jumlahnya ribuan, siapa yang menanggung makan dan vitamin? Jika sebuah pesantren diumumkan ada yang positif terpapar Covid-19, maka ditakutkan masyarakat akan menjauhi pesantren. Jadi, dalam hal ini bukan sekadar soal positif dan negatif soal Covid-19, tapi jangan sampai memunculkan stigma negatif," ungkapnya.

Menurut Abu Choir, untuk menangani kasus Covid-19 di pesantren, pendekatannya memang harus berbeda dengan masyarakat umum.

"Semoga ada titik temu. Ada program Jogo Santri, Jogo Kyai. Dalam kasus santri terpapar Covid-19 di Banyumas, ternyata membutuhkan ruang isolasi yang banyak. Kami berharap semua terbuka. Pondok pesantren maupun Pemerintah sama-sama terbuka. Semua tersenyum, maka akan terwujud pesantren yang sehat dan kuat di Jawa Tengah," tegasnya.

abd

Filosofi Jogo Tonggo
Jogo Santri sendiri menjadi bagian tak terpisahkan dari Program Jogo Tonggo yang digagas Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Istilah Jogo Tonggo diambil dari bahasa Jawa. Jogo artinya menjaga, sedangkan Tonggo artinya tetangga. Artinya, menjaga tetangga.

"Pada pelaksanaannya, Jogo Tonggo mencakup dua hal, yaitu jaring pengaman sosial dan keamanan, serta jaring ekonomi," ujar Ganjar, saat meluncurkan program tersebut, 25 April 2020 lalu.

Jogo Tonggo hadir dengan filosofi pemanfaatan lembaga di lapisan terbawah, yakni rukun warga (RW) di masyarakat. Lembaga ini yang mengetahui berbagai permasalahan di lapisan terbawah.

Tugas anggota Satgas Jogo Tonggo adalah memastikan bantuan dan dukungan dari luar wilayah yang masuk ke daerahnya, tepat sasaran dan tepat guna. Anggota pelaksana program tersebut, yakni, Karang Taruna, Dasa Wisma, Posyandu, Linmas, warga di tingkat RW dan organisasi lain.

Di daerah-daerah, warga menerjemahkan Jogo Tonggo dengan beragam cara, salah satunya dengan menyediakan sayur-mayur dan bahan lauk-pauk, serta sembako yang dapat diambil secara gratis oleh siapapun warga, utamanya mereka yang kurang mampu dan terdampak Covid-19. Aneka sayuran, bumbu dapur dan sembako itu dipasang di posko atau digantungkan seperti layaknya jemuran, yang boleh diambil secara cuma-cuma oleh mereka yang membutuhkan

Menuai Pujian
Program Jogo Tonggo pun menuai pujian berbagai kalangan. Sejumlah anggota DPR RI dari Komisi VIII saat kunjungan kerja ke Jawa Tengah, Senin (20/7/2020), memuji orang pertama di Jateng itu.

"Saya kagum dengan apa yang dilakukan Pak Ganjar di Jateng. Program Jogo Tonggo ini keren dan tidak ada di tempat lain. Ini perlu dicontoh," ujar HM Husni, salah satu anggota Komisi VIII dari Fraksi Gerindra.

Husni juga mengomentari optimalisasi dana Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) dalam penanganan Covid-19 di Jawa Tengah. Menurutnya, langkah itu luar biasa karena tidak hanya mengandalkan asupan anggaran dari pemerintah.

"Di daerah lain, Baznas digunakan untuk membangun gedung dan membeli kebun, tapi di Jawa Tengah dimanfaatkan benar-benar untuk kepentingan masyarakat. Masyarakat yang terdampak Covid-19 bisa benar-benar merasakan manfaatnya," tegasnya.

Ketua rombongan kunjungan kerja Komisi VIII Bukhori Yusuf mengatakan, program Jogo Tonggo yang diprakarsai Ganjar sangat menarik dalam penanganan Covid-19 di Indonesia.

Menurut Bukhori Yusuf, di saat negara ini mengalami problem data mengenai berapa jumlah orang miskin, jumlah pengangguran dan siapa yang layak mendapat bantuan, program Jogo Tonggo ini bisa menjadi solusi tepat.

"Ini menarik, Jogo Tonggo seperti gugus tugas paling depan karena berada di tingkat RW. Kebijakan-kebijakan yang diambil dalam program ini sudah pasti mengena, tepat sasaran, kepada mereka yang benar-benar miskin, pengangguran dan sebagainya, karena RW yang paling tahu siapa warga yang layak menerima bantuan," tegasnya.

Bukhori juga menyebut langkah Ganjar yang tidak hanya mengandalkan APBD, patut dicontoh. Dengan menggerakkan banyak sektor, maka percepatan penanganan Covid-19 akan optimal.

"Salah satu yang menarik di Jateng, adalah melibatkan Baznas. Baznas memiliki peran signifikan dalam penanggulangan Covid-19, untuk membantu masyarakat yang terdampak secara langsung. Ada mahasiswa asal Jateng di Sudan tidak bisa pulang, dibantu. Ada juga bantuan untuk para santri yang tidak bisa pulang karena tak ada biaya, bantuan untuk guru ngaji dan sebagainya. Ini keren dan sangat menginspirasi," tuturnya.

Ganjar Pranowo menjelaskan, bantuan dari negara selama pandemi berlangsung dipastikan tidak akan pernah cukup untuk membantu kebutuhan seluruh masyarakat. Untuk itu, Ganjar mengaku tidak hanya mengandalkan anggaran dari pemerintah, namun menggerakkan kearifan lokal dengan membuat Program Jogo Tonggo.

"Kami buat Program Jogo Tonggo, artinya menjaga tetangga. Program ini mengurusi masalah kesehatan, social, keamanan dan hiburan. Ada juga lumbung pangan dengan pemanfaatan lahan agar kebutuhan makan tercukupi. Gerakan ini sebenarnya sudah ada sejak dulu, gotong royong di tengah masyarakat. Ini saya hidupkan kembali, dan ternyata berjalan dengan baik," ungkap Ganjar.

Optimalkan Baznas dan CSR
Selain itu, untuk membantu masyarakat, Ganjar juga mengoptimalkan anggaran dari sektor lain. Selama ini, bantuan berdatangan dari dana CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaan, instansi, masyarakat hingga para filantropi.

‘’Satu lagi yang menjadi andalan saya adalah Baznas, yang paling bisa diandalkan untuk membantu percepatan penanganan Covid-19 di Jateng," tandas Ganjar.

Untuk program tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mendistribusikan ribuan paket Jogo Tonggo Kit ke seluruh desa dan kelurahan di Jateng. Program berbasis pemberdayaan masyarakat itu didistribusikan ke Dinas Kesehatan Kabupaten/kota, dan telah dibagikan ke desa dan kelurahan.

Paket tersebut berupa APD (alat pelindung diri) sipil sebanyak 10 set, sepatu boot 10 pasang, sarung tangan 10 pasang, satu unit sprayer otomatis, masker kain 1000 helai, hand sanitizer 50 liter, disinfektan 30 liter, thermogun, modul (buku petunjuk) dan sebuah tas.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, total ada 8.562 paket Jogo Tonggo Kit yang didistribusikan untuk seluruh desa dan kelurahan di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Untuk setiap paket Jogo Tonggo nilainya sekitar Rp8 juta, yang bersumber dari Biaya Tak Terduga (BTT) Provinsi Jawa Tengah. Tujuannya sebagai stimulan bagi desa dan kelurahan untuk mencegah dan mengurangi penularan Covid-19 di tingkat pedesaan.

Menurut Yulianto, Jogo Tonggo Kit tersebut bersifat stimulan. Pemprov Jateng berharap ada partisipasi pemerintah desa dan kelurahan, dalam pengadaannya. Pihaknya mempersilakan pihak desa dan kelurahan untuk melibatkan kalangan dunia usaha atau donatur dalam pengadaan Jogo Tonggo Kit. Menurutnya, Jogo Tonggo Kit hanya salah satu aspek untuk mendukung Satgas Jogo Tonggo. Masih ada aspek-aspek lain seperti aspek sosial budaya, hiburan dan lainnya yang perlu dikoordinasikan oleh pemerintah desa atau kelurahan.

‘’Ada pula tugas yang diberikan kepada Satgas Jogo Tonggo, yakni memberikan penyuluhan edukasi kepada warga masyarakat tentang cara hidup sehat dan upaya memutus mata rantai penularan Covid-19, dengan mengonsumsi makanan bergizi dan berolahraga. Mereka juga bertugas mengelompokkan warga berisiko tinggi tertular, misalkan warga lanjut usia (lansia) yang memiliki riwayat penyakit tertentu,’’ papar Yulianto.

abc

Mitigasi Partisipatif
Pengamat antropologi sosial dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Amirudin berpandangan, Jogo Tonggo merupakan teroboson jitu yang memanfaatkan kearifan lokal, local genius milik satuan sosial.

‘’Jonggo Tonggo itu pranata sosial yang dulu banyak dipakai di pedesaan sebagai langkah mitigasi agar warga desa terlindungi dari gangguan dan marabahaya akibat serangan hewan buas, kecu (perampok), wabah dan lain-lain. Saat, pandemi Covid-19, Jogo Tonggo menjadi upaya mitigasi dari Pemprov Jateng untuk melindungi warganya dari dampak-dampak yang ditimbulkan pandemi ini, baik kesehatan maupun ekonomi,’’ ujar Ketua Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip, kepada Beritasatu.com, Senin (2/11/2020).

Menurut Ketua SDGs Center Undip itu, Jogo tonggo adalah bentuk pengawasan partisipastif dari warga, yang muncul atas kesadaran bersama bahwa ketahanan sosial (social resilience) harus terjaga.

Untuk kebutuhan jangka pendek, kata Amir, mitigasi partisipatif dalam bentuk Jogo Tinggi ini umumnya efektif. Apalagi terkait Covid-19, mitigasi partisipatif paling tidak dapat mengendalikan transmisi Covid-19 di wialayah satuan sosial tertentu (RT/RW). Melalui pengawasan warga, keluar masuknya warga menjadi terkontrol, terpantau, bahkan protokol kesehatan juga dijaga keketatannya.

Bagi warga yang diketahui masuk dalam kategori PDP, kewajiban untuk melakuan isolasi diri benar-benar dikondisikan untuk dipenuhi. Untuk menjamin ketersediaan pangan bagi mereka yang melakukan isolasi diri, dibuatlah lumbung pangan, dijamin ketersediaannya oleh warga setempat, atau tetangganya.

‘’Jogo Tonggo, dengan demikian adalah aset budaya yang perlu terus dioptimalisasi agar lebih efektif dan punya impact besar. Untuk itu, perlu refokusing arah penanganan Jogo Tonggo,’’ tegasnya.

Bukan hanya fokus pada pengawasan untuk mencegah warga terpapar Covid-19 dan menjamin warga disiplin lakukan protokol kesehatan atau isolasi diri dan ketidakekurangan pangan, tetapi juga perlu diarahkan bagaimana warga yang mengalami kesulitan ekonomi karena kehilangan pekerjaan dapat diberdayakan.

Menjaga Semangat
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Augustina Sulastri, yang juga anggota Tim Evaluasi Penanganan Covid-19 Jawa Tengah, menilai, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan selama bulan Juli 2020, Program Jogo Tonggo terasa tidak lagi memiliki gigi.

Karena itu, dalam rapat evaluasi lanjutan tim Pemprov Jateng dan akademisi terhadap program Jogo Tonggo, mengerucut berbagai gagasan untuk revitalisasi dan diversifikasi Program Jogo Tonggo. Diantaranya, perbaikan koordinasi antarlembaga pemerintah. Sejak awal Program Jogo Tonggo tumpang tindih dengan program serupa lain, yaitu Relawan Desa yang dikeluarkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi.

Menurut Agustina, dilihat dari struktur organisasi, Program Jogo Tonggo dan Relawan Desa potensial menimbulkan konflik dalam pelaksanannya. Program Jogo Tonggo dikepalai oleh unsur RT/RW, sementara program Relawan Desa dikepalai oleh Kepala Desa. ‘’Untuk itu, kemungkinan munculnya konflik antarlembaga di lapangan, harus segera dicegah dan diatasi, jika Program Jogo Tonggo akan dilanjutkan,’’ tegasnya.

Perlu adanya program edukasi perubahan perilaku warga sesuai protokol kesehatan menghadapi pandemi Covid-19 yang dapat melekat pada masing-masing Program Jogo Tonggo. Menurut dia, Pemprov Jateng bersama-sama dengan tenaga ahli, perlu segera merumuskan program-program intervensi perubahan perilaku warga agar lebih patuh terhadap protokol kesehatan.

Mengingat keterbatasan kemampuan pemerintah pada aspek kesehatan, seperti meningkatkan jumlah rasio penduduk yang dites untuk analisis reproduksi efektif virus serta kemungkinan ketiadaan vaksin hingga akhir tahun, Agustina berpandangan, rekayasa sosial perubahan perilaku warga yang berbasis budaya dan kearifan lokal menjadi penting untuk segera direalisasikan.

‘’Untuk itu, Pemerintah perlu mengajak warga berperan aktif menjadi garda terdepan di masa pandemi ini. Salah satunya, bersama-sama menjaga semangat Jogo Tonggo,’’ tandas Agustina.

Gagasan dan usulan Agustina tersebut, sejauh ini telah dan sedang ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tentu saja, bukan mustahil, jika masih ada kekurangan dan kendala di lapangan, yang menjadi catatan untuk dilakukan monitoring dan evaluasi.

Kini, kata kunci yang harus jadi pegangan masyarakat dan pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, adalah komitmen bersama menjaga semangat solidaritas sosial untuk mencegah penularan dan munculnya klaster-klaster baru dengan disiplin mematuhi protokol kesehatan, serta menanggulangi dampak ekonomi yang ditimbulkan pandemi ini.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Juliari Batubara Resmi Menghuni Lapas Kelas I Tangerang

Mantan Mensos Juliari Batubara resmi menghuni Lapas Kelas 1 Tangerang sejak Rabu, 22 September 2021.

NASIONAL | 24 September 2021

Dijemput Paksa, Azis Syamsuddin Tiba di Gedung KPK

KPK menemukan keberadaan Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin yang tidak memenuhi panggilan pemeriksaan. Tim penyidik pun membawa Azis ke Gedung KPK.

NASIONAL | 24 September 2021

Labuan Bajo Terus Bersiap Sambut KTT G-20 2022

Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan menjadi tempat penyelenggaraan KTT G-20 2022 terus bersiap diri dan bersinergi dengan pihak terkait.

NASIONAL | 24 September 2021

KPK Cari Keberadaan Azis Syamsuddin

KPK mencari keberadaan Wakil Ketua DPR, Azis Syamsuddin yang tidak memenuhi panggilan pemeriksaan terkait kasus dugaan suap penanganan perkara di Lampung Tengah

NASIONAL | 24 September 2021

Hilang Enam Hari di Gunung Guntur, Gibran Berhasil Ditemukan Selamat

Pendaki remaja Muhammad Gibran Arrasyid (14) yang hilang di Gunung Guntur selama enam hari berhasil ditemukan selamat, Jumat (24/9/2021) sore.

NASIONAL | 24 September 2021

Polisi Gelar Prarekonstruksi Kasus Napoleon Aniaya Muhammad Kace

Polri menggelar prarekonstruksi kasus dugaan penganiayaan yang dilakukan Napoleon Bonaparte terhadap Muhamad Kasman alias Muhammad Kace

NASIONAL | 24 September 2021

Ganjil Genap di kawasan Malioboro Akan Diterapkan Secara Tentatif

Kebijakan ganjil genap untuk kendaraan yang melintas di kawasan utama wisata di Yogyakarta, Malioboro, akan diberlakukan pada akhir pekan secara tentatif.

NASIONAL | 24 September 2021

Mahfud MD: Penasihat Saber Pungli Jadi Sasaran Pungli

Mahfud MD menuturkan, Penasihat Satgas Saber Pungli Prof Imam Prasodjo menjadi sasaran pungli saat memagari lahan miliknya

NASIONAL | 24 September 2021

KPK Ingatkan Azis Syamsuddin untuk Kooperatif

KPK mengingatkan Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin untuk kooperatif dan memenuhi panggilan pemeriksaan penyidik terkait kasus dugaan suap penanganan perkara.

NASIONAL | 24 September 2021

BMKG Bantu Wujudkan Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia

BMKG berkomitmen mendukung dan membantu usaha pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

NASIONAL | 24 September 2021


TAG POPULER

# PON Papua


# Tukul Arwana


# Toko Obat Ilegal


# Piala Sudirman


# Suap Pejabat Pajak



TERKINI
Firli Bahuri: KPK Junjung Tinggi HAM dalam Penangkapan Azis Syamsuddin

Firli Bahuri: KPK Junjung Tinggi HAM dalam Penangkapan Azis Syamsuddin

NASIONAL | 9 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings