Tommy Sumardi Didakwa Jadi Perantara Suap Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra
Logo BeritaSatu
Breaking News
INDEX
Breaking News

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Tommy Sumardi Didakwa Jadi Perantara Suap Penghapusan Red Notice Djoko Tjandra

Senin, 2 November 2020 | 18:45 WIB
Oleh : Fana Suparman / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) mendakwa pengusaha Tommy Sumardi menjadi perantara suap dari terpidana dan buronan perkara cessie Bank Bali Joko Soegiarto Tjandra kepada Irjen Napoleon Bonaparte selaku Kadiv Hubinter Polri sebesar SGD 200.000 dan USD 270.000. Selain itu, Tommy juga menjadi perantara suap Joko Tjandra kepada Brigjen Prasetijo Utomo senilai USD 150.000.

Suap tersebut diberikan Djoko Tjandra kepada Napoleon dan Prasetijo untuk menghapus nama Djoko Tjandra dalam daftar red notice Interpol Polri.

"Dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya. Supaya Napoleon Bonaparte dan Prasetijo Utomo, menghapus nama Joko Soegiarto Tjandra dari Daftar Pencarian Orang (DPO) yang dicatatkan di Direktorat Jenderal Imigrasi," kata Jaksa Wartono membacakan saat membacakan surat dakwaan terhadap Tommy Sumardi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (2/11/2020).

Perkara ini bermula saat Djoko Tjandra yang berada di Kuala Lumpur, Malaysia menghubungi Tommy melalui telepon. Dalam percakapan itu, Djoko meminta bantuan Tommy untuk mengurus penghapusan namanya dalam daftar red notice yang ada di Divisi Hubungan Internasional Polri. Hal ini lantaran, Djoko Tjandra ingin masuk ke Indonesia untuk mengurus upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) di Pengadilan Negeri Jalarta Selatan.

Tommy kemudian membantu Djoko Tjandra dengan menghubungi Brigjen Prasetijo. Kemudian, pada 9 April 2020, Tommy mengirim pesan singkat yang berisi file surat dari istri Djoko Tjandra.

Selanjutnya, Prasetijo pun meneruskan pesan singkat itu kepada seseorang bernama Brigadir Fortes. Prasetijo memerintahkan Brigadir Fortes untuk mengedit surat tersebut sesuai format permohonan penghapusan red notice.

"Setelah selesai diedit Brigadir Fortes mengirimkan kembali file tersebut untuk dikoreksi Brigjen Prasetijo, yang selanjutnya file konsep surat tersebut dikirimkan oleh Brigjen Prasetijo kepada Tommy Sumardi," papar Jaksa.

Brigjen Prasetijo kemudian mengenalkan Tommy pada Irjen Napoleon Bonaparte selaku sebagai Kadiv Hubinter Polri saat itu.

Dalam pertemuan tersebut, Napoleon menyanggupi menghapus nama Djoko Tjandra dalam red notice, dengan syarat Djoko Tjandra menyiapkan uang sebesar Rp 3 miliar.

"Dalam pertemuan tersebut terdakwa Irjen Napoleon menyampaikan bahwa red notice Joko Soegiarto Tjandra bisa dibuka karena Lyon yang buka, bukan saya. Saya bisa buka, asal ada uangnya'. Kemudian Tommy Sumardi menanyakan berapa nominal uangnya dan oleh Irjen Napoleon dijawab '3 lah ji (Rp 3 miliar)'," kata Jaksa menirukan percakapan Napoleon dan Tommy Sumardi.

Isi pertemuan itu kemudian dikabarkan Tommy kepada Djoko Tjandra. Selanjutnya, Djoko Tjandra mengirimkan uang senilai USD 100.000. Uang tersebut kemudian dibawa Tommy kepada Napoleon ditemani oleh Prasetijo pada 27 April 2020. Dalam perjalanan menuju kantor Napoleon, Prasetijo sempat melihat uang yang dibawa Tommy. Kepada Tommy, Prasetijo pun meminta "jatahnya".

"Saat itu uang dibelah dua oleh Brigjen Pol Prasetijo dengan mengatakan 'ini buat gw, nah ini buat beliau sambil menunjukkan uang yang sudah dibagi 2'," kata Jaksa.

Jaksa mengatakan, Tommy hanya membawa USD 50 ribu saat bertemu dengan Irjen Napoleon. Namun, jumlah tersebut ditolak oleh Napoleon. Bahkan, Napoleon meminta agar fee untuknya ditambah menjadi Rp 7 miliar dengan alasan uang tersebut akan diberikan kepada seseorang yang disebutnya sebagai "petinggi kita".

"Tommy Sumardi menyerahkan sisa uang yang ada sebanyak USD 50.000, namun Irjen Napoleon Bonaparte tidak mau menerima uang dengan nominal tersebut dengan mengatakan 'ini apaan nih segini, nggak mau saya. Naik ji jadi 7 ji, soalnya kan buat depan juga bukan buat saya sendiri. Yang nempatin saya kan beliau dan berkata 'petinggi kita ini'," ungkap Jaksa.

Pada Mei 2020, Prasetijo masih menghubungi Tommy untuk meminta uang. Bahkan, Prasetijo meminta jatah tersebut melalui sambungan telepon.

"Terdakwa Brigjen Prasetijo menghubungi Tommy Sumardi melalui sarana telepon dengan mengatakan 'Ji, sudah beres tuh, mana nih jatah gw punya' dan dijawab oleh Tommy, 'sudah, jangan bicara ditelepon, besok saja saya ke sana'," urai Jaksa.

Lantas Tommy datang menemui Brigjen Prasetijo dengan membawa uang senilai USD 50.000. Uang tersebut selanjutnya diserahkan kepada Prasetijo Utomo.

"Sehingga total uang yang diserahkan oleh Tommy Sumardi kepada terdakwa Brigjen Prasetijo adalah sejumlah USD 150.000," kata Jaksa.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Tommy Sumardi didakwa melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (2) atau Pasal 13 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.



Saksikan live streaming program-program BeritaSatu TV di sini

Sumber: BeritaSatu.com


BERITA LAINNYA

Presiden Jokowi Sempatkan Naik Perahu untuk Sapa Warga di Seberang Sungai

Jokowi menyempatkan diri menaiki perahu rakyat untuk menyeberangi sungai demi menyapa warga secara langsung yang ada di seberang sungai.

NASIONAL | 23 September 2021

Menag Rilis Buku Pedoman Penguatan Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan

Penguatan Moderasi Beragama menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama (Kemag) di bawah kepemimpinan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas.

NASIONAL | 23 September 2021

Kemendikbudikti Siapkan Mobil PJJ Kampus Merdeka dan Vaksinasi untuk Mahasiswa Daerah 3T

Ditjen Diktiristek Kemendikbudristek menyiapkan Mobil Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Kampus Merdeka dan Mobil Vaksinasi.

NASIONAL | 23 September 2021

1.296 Satuan Pendidikan Jadi Klaster Covid-19

Sebanyak 1.296 satuan pendidikan menjadi klaster Covid-19. Jumlah ini relatif kecil atau hanya 2,8% dari total 46.580 satuan pendidikan yang menggelar PTM.

NASIONAL | 23 September 2021

Manggarai Raya Bertekad Bebaskan ODGJ dari Pasung

Tiga kabupaten di Manggarai Raya bertekad membebaskan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dari pasung.

NASIONAL | 23 September 2021

KPK Akan Dalami Peran Bos Bank Panin Mu'min Ali di Perkara Suap Pajak

KPK pastikan akan mendalami setiap fakta baru yang muncul dalam persidangan perkara dugaan suap dengan terdakwa dua mantan pejabat Ditjen Pajak, Angin Prayitno.

NASIONAL | 23 September 2021

Kunker ke Cilacap, Presiden Jokowi Tanam Mangrove hingga Lepas Tukik

Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah untuk menanam mangrove, meninjau vaksinasi, dan melepas tukik.

NASIONAL | 23 September 2021

Peran Guru Semakin Besar Bentuk Karakter Bangsa di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi dan keterbukaan informasi, peran guru semakin besar dalam menjaga dan membentuk karakter bangsa.

NASIONAL | 23 September 2021

Irjen Pol Napoleon Bonaparte Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pencucian Uang

Bareskrim menetapkan Irjen Pol Napoleon Bonaparte sebagai tersangka dugaan tindak pidana pencucian uang kasus penghapusan red notice Djoko Tjandra.

NASIONAL | 23 September 2021

Kemendikbudristek: Baru 42% Sekolah di PPKM Level 1-3 Gelar PTM Terbatas

SKB 4 Menteri tentang panduan penyelenggaraan pembelajaran di masa Covid-19 menetapkan satuan pendidikan menyediakan pilihan layanan PTM terbatas dengan prokes.

NASIONAL | 23 September 2021


TAG POPULER

# Rocky Gerung vs Sentul City


# Hari Libur Nasional 2022


# Toko Obat Ilegal


# Joe Biden


# Piala Sudirman



TERKINI
Teten: UMKM Harus Terus Bergerak di Tengah Pandemi Covid-19

Teten: UMKM Harus Terus Bergerak di Tengah Pandemi Covid-19

EKONOMI | 10 menit yang lalu










BeritaSatu Logo
TERKONEKSI BERSAMA KAMI
BeritaSatu Facebook
BeritaSatu Twitter
BeritaSatu Instagram
BeritaSatu YouTube
Android Icon iOS Icon
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings