Sofyan Djalil Dinilai Kian Resah dengan Ulah Mafia Tanah
INDEX

BISNIS-27 540.837 (-8.19)   |   COMPOSITE 6428.31 (-54.9)   |   DBX 1183.86 (16.52)   |   I-GRADE 188.148 (-2.58)   |   IDX30 539.476 (-8.89)   |   IDX80 144.979 (-1.68)   |   IDXBUMN20 440.639 (-3.89)   |   IDXESGL 147.926 (-1.09)   |   IDXG30 146.726 (-1.41)   |   IDXHIDIV20 473.385 (-7.91)   |   IDXQ30 152.644 (-1.92)   |   IDXSMC-COM 299.578 (-0.96)   |   IDXSMC-LIQ 376.282 (-1.41)   |   IDXV30 152.705 (-1.81)   |   INFOBANK15 1086.82 (-23.03)   |   Investor33 459.04 (-6.31)   |   ISSI 190.39 (-0.94)   |   JII 671.594 (-3.85)   |   JII70 236.079 (-1.46)   |   KOMPAS100 1294.89 (-15.54)   |   LQ45 1002.38 (-13.63)   |   MBX 1785.38 (-21.17)   |   MNC36 340.467 (-4.76)   |   PEFINDO25 342.936 (-2.7)   |   SMInfra18 325.457 (-0.02)   |   SRI-KEHATI 391.973 (-5.4)   |  

Sofyan Djalil Dinilai Kian Resah dengan Ulah Mafia Tanah

Jumat, 13 November 2020 | 10:06 WIB
Oleh : Fana F Suparman / WM

Jakarta, Beritasatu.com - Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan Emrus Sihombing menilai, pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil yang mengungkapkan adanya pengerahan buzzer terkait sengketa tanah menunjukkan keresahan Sofyan atas ulah mafia tanah. Dengan membuka fakta itu, Sofyan menganggap mafia tanah merupakan masalah penting yang harus diatasi.

"Ini bagus, beliau terbuka. Kalau tidak disampaikan nanti bisa jadi gunung es. Masalah itu menumpuk. Kalau ini kan sudah dibuka, ada mafia tanah, ada penggunaan buzzer-buzzer," ujar Emrus saat dihubungi wartawan, Kamis (12/11/2020).

Emrus menyebut, dalam komunikasi terdapat metode membolak-balikan pesan untuk mengaburkan maksud dan tujuan, serta membuat lawan menjadi lemah. Metode tersebut dilakukan orang yang melakukan komunikasi tidak berintegritas. Dalam hal ini, buzzer.

Dikatakan, buzzer dapat membingkai suatu pihak dalam sengketa tanah sebagai orang yang dizalimi, korban yang dirampas tanahnya atau playing victim. Sementara lawannya dikesankan sebagai orang serakah dan culas. Cara tersebut dapat menyulitkan Kementerian ATR/BPN dalam upayanya memberantas mafia tanah.

"Mereka membolak-balikkan pesan, seolah-olah rasional, fakta. Melakukan pengemasan dan framing untuk tujuan-tujuan tertentu. Itu harus kita hadapi, lawan," tuturnya.

Emrus pun menyarankan dalam menghadapi buzzer mafia tanah, Kementerian ATR/BPN untuk dapat mengerahkan pegawai BPN di seluruh Indonesia dan keluarganya untuk aktif di media sosial. Mereka harus menyampaikan penjelasan secara terang benderang, masif, terstruktur, sistematis, berkesinambungan, dan disampaikan dengan inovatif dan kreatif. Penyampaian pesan itu dilakukan secara terus menerus lantaran buzzer muncul karena adanya kekosongan komunikasi.

"Buzzer itu kan membentuk opini publik, dimodali oleh orang di belakangnya. Komunikasi harus dihadapi dengan komunikasi. Buzzer yang negatif harus dilawan dengan konten sosial media yang positif," tutur pendiri lembaga EmrusCorner ini.

Salah satu yang bisa digaungkan di medsos adalah kerja sama antara Kementerian ATR/BPN dengan kepolisian dan kejaksaan untuk memberantas mafia tanah.

"Itu harus diviralkan, sampaikan kepada publik. Yang sudah diproses di kepolisian dan kejaksaan, atau pengadilan, itu harus diviralkan juga," tegasnya.

Agar koordinasi lancar, Emrus menyarankan Kepala Biro Humas atau Komunikasi langsung berada di bawah menteri.

"Dia harus selalu ada "di sisi menteri". Sekarang terlalu jauh dengan menteri," kata Emrus.

Sebelumnya, Sofyan Djalil mengungkapkan adanya perlawanan balik dari mafia tanah. Mafia tanah mengerahkan buzzer untuk melawan kementerian yang dipimpinnya.

"Sengketa karena mafia tanah, kita keras sekali. Mafia juga fight back, mereka melawan menggunakan buzzer untuk melawan Kementerian," kata Sofyan, Selasa (10/11/2020).

Sofyan mengatakan, para mafia tanah ini memiliki banyak harta untuk menyewa buzzer. Tujuannya, membuat 'kegaduhan' dan memutarbalikkan fakta.

"Mafia sekarang itu mulai pakai buzzer, untuk melawan seolah-olah dia jadi korban. (Contoh kasus) kakek yang ditipu pendeta, apa urusannya, bagi kita mafia, ya, tetap mafia, mau itu kakek atau apa, enggak masalah," kata Sofyan.

Hal senada juga disampaikan Anggota Komisi II DPR, Johan Budi SP yang mengaku mendapat informasi adanya penggunaan buzzer dalam sengketa tanah, yang digunakan para mafia tanah.

"Mafia tanah ini begitu kuat. Bahkan saya dengar, mafia tanah seperti di Pilpres kemarin, pakai buzzer juga," ujar Johan dalam webinar berjudul “Bisakah Reforma Agraria Memberantas Mafia”, Jumat (6/10/2020).

Pada webinar yang juga menghadirkan Wakil Menteri ATR/BPN ini, Johan pun mengusulkan pelibatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memerangi mafia tanah yang dinilainya melibatkan oknum BPN.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Meredam Konflik, Mengendalikan Covid-19

Restuardy Daud selama sepekan ini melakukan safari Pilkada Serentak 2020 ke lima kabupaten dan satu kota di wilayah barat Provinsi Jambi.

NASIONAL | 13 November 2020

KPK Ultimatum Kepala Daerah Jangan Gunakan Bansos untuk Pilkada

KPK mengingatkan kepala daerah tak menyimpangkan dana bansos di masa pandemi ini untuk kepentingan salah satu calon maupun keluarganya yang maju dalam pilkada.

NASIONAL | 13 November 2020

Janjikan Biaya Kesehatan Gratis, Bobby Prihatin Banyak Warga Medan Tak Mampu Berobat ke Rumah Sakit

Surya mengaku belum bisa membawa anaknya berobat ke rumahs sakit lantaran kondisi keuangan keluarga yang tidak mencukupi.

NASIONAL | 13 November 2020

Sekolah Virtual di Jateng, 30 Persen Tatap Muka

Syamsudin menuturkan, sementara ini sekolah virtual masih sebatas dilakukan di Brebes dan Boyolali sampai pada penghabisan tahun ajaran 2020/2021.

NASIONAL | 13 November 2020

Gemar Tanam Tapi Konsumsi Sayuran Masih Rendah

Konsumsi rokok di Indonesia masih lebih tinggi dibandingkan konsumsi sayuran.

NASIONAL | 13 November 2020

Video Kekerasan Polisi Saat Demo, Ini Penjelasan Polri

Harusnya video tersebut ditampilkan dalam kronologi yang sebenarnya.

NASIONAL | 13 November 2020

Survei: 56 Persen Orang Tua Jenuh Mendampingi Anak PJJ

Lebih dari 50 persen orang tua mengaku jenuh mendampingi anak PJJ.

NASIONAL | 13 November 2020

BNPT: Pondok Pesantren Harus Dilibatkan Cegah Radikalisme dan Terorisme

Pemerintah, alim ulama, dan para tuan guru serta pondok pesantren harus bersinergi, terutama untuk mengeliminasi berkembangnya paham-paham radikal intoleran.

NASIONAL | 12 November 2020

Fasilitasi Anak Muda, Eri-Armuji Ingin Startup dan Ekonomi Kreatif Surabaya Berkembang Pesat

Calon wali kota Surabaya Eri Cahyadi menilai anak muda atau kalangan milineal memiliki peran strategis dalam pembangunan kota di masa mendatang.

NASIONAL | 12 November 2020

Pelaku Pembakar Seorang Warga di Medan Dibekuk

Polisi masih melakukan pemeriksaan terhadap tersangka untuk mengungkap motif penganiayaan sekaligus pembakaran terhadap korban, yang saat ini terluka parah.

NASIONAL | 12 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS