Pandemi Covid-19, Momentum Reformasi Sistem Kesehatan Nasional
INDEX

BISNIS-27 545.471 (-7.6)   |   COMPOSITE 6413.89 (-106.77)   |   DBX 1221.71 (-6.51)   |   I-GRADE 188.988 (-3.35)   |   IDX30 542.994 (-9.18)   |   IDX80 145.925 (-3.17)   |   IDXBUMN20 438.706 (-13.3)   |   IDXESGL 150.111 (-3.04)   |   IDXG30 148.081 (-3.15)   |   IDXHIDIV20 477.43 (-7.88)   |   IDXQ30 153.853 (-2.35)   |   IDXSMC-COM 293.749 (-6.8)   |   IDXSMC-LIQ 373.577 (-15.72)   |   IDXV30 149.364 (-4.83)   |   INFOBANK15 1084.54 (-8.19)   |   Investor33 464.502 (-6.89)   |   ISSI 189.074 (-4.16)   |   JII 668.709 (-17.74)   |   JII70 233.837 (-6.47)   |   KOMPAS100 1296.34 (-25.94)   |   LQ45 1011.21 (-19.63)   |   MBX 1772.39 (-32.57)   |   MNC36 342.942 (-5.12)   |   PEFINDO25 336.865 (-11.6)   |   SMInfra18 332.042 (-9.57)   |   SRI-KEHATI 396.816 (-5.25)   |  

Pandemi Covid-19, Momentum Reformasi Sistem Kesehatan Nasional

Jumat, 13 November 2020 | 22:31 WIB
Oleh : Dina Manafe / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 yang telah memporak-porandakan hampir seluruh lini kehidupan manusia sekiranya menjadi pelajaran berharga terutama untuk sistem kesehatan nasional di Indonesia. Bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke 56 tahun ini, para pakar menilai pandemi Covid-19 harus jadi momentum untuk mereformasi sistem kesehatan nasional.

Pengamat kebijakan kesehatan publik, Prof Hasbullah Thabranny mengatakan, ada dua hal yang perlu dipelajari dari pandemi Covid-19. Pertama, sistem kesehatan nasional belum siap menghadapi epidemi. Ini terlihat dari ketidaksiapan fasilitas kesehatan menampung pasien yang tiba-tiba meledak. Fasilitas rumah sakit, seperti ventilator, ruang isolasi, ICU atau ruangan bertekanan negatif mendadak baru dipersiapkan ketika kasus Covid-19 mulai meningkat.

Kedua, masyarakat sangat tidak memahami bagaimana berhadapan dengan penyakit infeksi. Selain karena sebagian besar masyarakat berpendidikan rendah sehingga pemahamannya lemah, informasi yang jelas dan solid dari pemerintah pun tidak muncul sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia. Ini kemudian menimbulkan kontroversi, misalnya banyak masyarakat tidak mempercayai Covid-19 itu ada, dan tidak disiplin terhadap protokol kesehatan.

“Banyak hal yang kita saksikan, terjadi konflik-konflik ketidaksinkronan antara kebijakan pemerintah dengan penerimaan masyarakat. Itu terjadi karena komunikasi tentang Covid-19, penyebab dan konsekuensinya tidak cukup mudah diterima masyarakat. Akibatnya yang terjadi banyak kontroversial,” kata Hasbullah kepada Suara Pembaruan, Jumat (13/11/2020).

Hal ini, menurut Hasbullah, bisa dibuktikan dengan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia yang belum pernah turun dan cenderung meningkat. Masih banyaknya orang dibiarkan berkerumum, seperti demo, pilkada, libur, dan masa yang menjemput Rizieq Shihab adalah fakta bahwa tidak terjadi pemahaman yang utuh tentang Covid-19 yang sangat menular.

Menurut Hasbullah, pidato Presiden Jokowi yang meminta bawahannya untuk reformasi fundamental di sektor kesehatan pada pidato kenegaraan Jumat (14/8/2020) memang sangat diperlukan. Artinya pihal luar kesehatan nasional lemah, sehingga perlu direformasi dengan kejadian Covid-19. Terutama perilaku masyarakat perlu direformasi, misalnya dengan gerakan masyarakat hidup bersih dan sehat atau Germas. Germas tidak cukup hanya dikampanyekan, tetapi perlu dukungan dengan pendanaan yang memadai. Karena perubahan perilaku masyarakat tidak tumbuh dengan sendiri, melainkan perlu ditumbuhkan melalui berbagai upaya dan model edukasi yang bisa mudah diterima masyarakat.

Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Dharmawan mengatakan, yang perlu direformasi dari sistem kesehatan nasional adalah memperbanyak upaya kesehatan masyarakat (UKM) atau pencegahan penyakit dibanding upaya kesehatan perorangan (UKP) atau kuratif (pengobatan). Persoalan di Indonesia, UKM ini masih kurang sehingga banyak orang mudah sakit.

“Aspek pencegahan kita masih kurang sekali. Buktinya masih banyak yang gampang sakit. Covid-19 ini menunjukkan betapa lemahnya sistem pelayanan kesehatan kita terutama yang ada di lapangan,” kata Ede.

Menurut Ede, prinsip pelayanan kesehatan adalah mencegah sakit dan jangan sampai jatuh dalam kondisi fatal. Negara harus hadir agar orang tidak mudah jatuh sakit dengan memperbanyak UKM. Tanggung jawab utama UKM ini adalah fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) seperti puskesmas. Masalahnya, menurut Riset Tenaga Kesehatan Nasional, dari sekitar 10.000 puskesmas di Indonesia, 45% diisi tenaga bidan dan perawat, dokter hanya 5,1%, tenaga kesehatan masyarakat juga 5,1%.

“Jadi kondisinya memang tidak ideal dari SDM-nya. Puskemas sampai sekarang masih kekurangan dokter, apalagi tenaga kesehatan masyarakat yang tugas utamanya mempromosikan dan melindungi orang tidak gampang sakit,” kata Ede.

Kemudian, puskesmas mestinya fokus pada UKM, tetapi yang terjadi justru lebih banyak pada pengobatan atau UKP. Ini terjadi karena sejak adanya program JKN-KIS, puskesmas sebagai provider BPJS Kesehatan cenderung lebih banyak pada mengobati pasien. Puskesmas seolah menunggu orang sakit untuk diobati. Seharusnya mengunjungi masyarakat untuk memastikan perilaku mereka sehat, kondisi rumah, asupan makanan, lingkungan dan sanitasi sehat.

Inilah yang menurut Ede perlu direformasi. Puskesmas harus dikembalikan ke peran awalnya untuk memperkuat UKM untuk mencegah orang jatuh sakit, bukan mengobati orang sakit.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Belum Muncul Lava Baru di Kawah Gunung Merapi

BPPTKG Yogyakarta menyatakan hingga saat ini belum muncul lava baru di permukaan kawah Gunung Merapi.

NASIONAL | 13 November 2020

Public Relations Harus Berani Keluar dari Zona Nyaman

Profesi dan peran Public Relations (PR) di zaman modern seperti sekarang ini, bukan lagi sebagai posisi pelengkap.

NASIONAL | 13 November 2020

DPN Peradi Gelar Serah-Terima dan Pisah-Sambut Kepengurusan

Acara serah terima dan pisah sambut tersebut digelar di Jakarta, Jumat (13/11/2020).

NASIONAL | 13 November 2020

18 Orang Sekeluarga di Yogya Positif Covid-19, sang Ibu Pedagang Makanan Keliling

Satu keluarga yang terdiri dari 18 orang, positif terpapar Covid-19 di Yogakarta, sang ibu ternyata pedagang makanan keliling.

NASIONAL | 13 November 2020

Ketua MPR: Kalau Keperluan Tidak Mendesak, Tak Usah Keluar Rumah

Masyarakat harus menjaga diri dengan terus menjaga jarak dan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin.

NASIONAL | 13 November 2020

Pemantauan Relawan Uji Klinis Ditargetkan Tuntas Mei 2021

Honesti menyatakan, hingga sejauh ini belum ada laporan mengenai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang serius.

NASIONAL | 13 November 2020

83 Pegawai Positif Covid-19, BJB KCK Banten Sementara Ditutup

Bank Jabar Banten Kantor Cabang Khusus Banten di Kota Serang, ditutup sementara menyusul 83 pegawai di kantor itu dinyatakan positif Covid-19.

NASIONAL | 13 November 2020

Jokowi Masukkan Kadin dan BPOM ke Komite Penanganan Covid-19 dan PEN

Perpres baru tersebut, guna mengoptimalkan peran KPCPEN, maka perlu mengubah Perpres Nomor 82 tahun 2020 tentang KPCPEN.

NASIONAL | 13 November 2020

Penyidikan Kasus Asabri Masih Belum Tetapkan Tersangka

Kasus Asabri saat ini masih dalam proses penyidikan.

NASIONAL | 13 November 2020

Warga Kota Malang Mengeluh, Air PDAM Tercemar Solar

Wali Kota menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh warga.

NASIONAL | 13 November 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS